Tepat kemarin siang, di tengah panas terik matahari, alhamdulillah,sudah banyak orang yang berkumpul di mushola kecil dekat rumah saya. Mushola berukuran 6 x 7 meter itu telah dipadati sekitar 8 – 10 orang, mulai dari orang dewasa sampai anak kecil yang ikut bersama ayahnya untuk sholat. Shalat pun dimulai.
Dan saya anggap sebagai sesuatu yang normal bila ada anak kecil yang belum baligh melakukan shalat sambil gerak-gerak atau sekedar jalan-jalan di depan orang tuanya. Gerak gerik anak kecil itu mengusik perhatian saya yang saat itu sedang berada dalam barisan jamaah shalat, bahkan terkadang mata ini ikut memperhatikan ulah yang sedang dilakukan anak kecil tersebut.
Tiba-tiba di saat sujud rakaat terakhir, telinga saya mendengar suara benda padat menghujam jatuh ke tanah “dep”….Dan tak lama kemudian ada suara tangisan anak kecil yang mengiringi bunyi benda jatuh tersebut.
Seketika imajinasi saya membayangkan bahwa sepertinya itu suara kepala anak kecil yang jatuh ke lantai. Ketika saya bangun dari sujud terakhir, pojok kiri pandangan saya melihat anak kecil tersebut sedang duduk memegang kepalanya yang sepertinya kesakitan akibat jatuh ke lantai. Suara tangisan anak kecil itu mulai mengeras dan mengisi seluruh pojok mushola. Terdengar keras sekali. Tetapi seiring detik waktu yang berputar, suara itu semakin mengecil dan tangis itu pun mereda.
Mengakhiri shalat saat itu dengan salam, kemudian saya mencari anak kecil yang menangis tersebut. Bermaksud memperhatikan siapa anak kecil itu, apakah saya mengenalnya, dan lain sebagainya, saya memperhatikan perilaku anak tersebut yang terus melihat wajah ayahnya sambil memperlihatkan wajah cemberut tangis.
“hueh…hueh…” kurang lebih suara seperti itu yang anak kecil itu tunjukkan ke ayahnya.Merengek, saya bilang. Selepas lelaki dewasa itu mengelus kepala anak kecil tadi, berangsur suara tangis anak kecil itu semakin mengecil dan mereda. Entah karena memang sudah merasa mendapat perhatian dari ayahnya atau memang rasa sakit itu telah hilang karena sentuhan ayahnya, anak kecil tadi kembali bangkit dan berlarian seperti semula, dari satu pojok mushola ke pojok yang lainnya. Menyaksikan kejadian itu, tak terasa buliran air mata saya keluar cukup deras. Seakan merasa tersentil oleh kejadian itu, memori saya mencoba menguak sebuah teori bahwa senantiasa manusia yang hidup di dunia ini akan TUHAN hamparkan batu sandungan (ujian) dalam detik kehidupan mereka sehingga membuat mereka jatuh dan menangis. Menangis adalah hal yang manusiawi, sesuai fitrah manusia. Akan tetapi tidak sedikit dari manusia itu sendiri (termasuk saya) yang terus menangis dan bersedih, walaupun -mungkin- sudah TUHAN obati dengan sentuhan kasih sayang-Nya yang lain (berupa nikmat & karunia hidup lainnya). Malu rasanya diri ini melihat sikap “jantan” dari seorang anak kecil. Yang tidak cengeng saat merasakan sakit ketika jatuh. Melihat kejadian tadi, seakan TUHAN sudah menyadarkan saya kembali bahwa tidak sepatutnya saya terus melihat pintu kebahagiaan yang sudah tertutup, akan tetapi mengabaikan pintu kebahagiaan lainnya yang telah TUHAN bukakan.
Ya ALLAH wahai TUHAN YANG MAHA PERKASA, kuatkan hamba ini untuk kembali bangkit dan jauhkan hamba dari keterpurukan. AMIN….
Selepas merenung dan berdoa, saya bangkit meninggalkan tempat shalat saya. Masih terlihat anak kecil tadi berlarian kesana kemari. Betapa riangnya anak kecil itu, seakan tidak pernah ingat bahwa dia baru saja jatuh tersungkur ke tanah dan berteriak sakit. JUST LET IT GO and LET IT GOD…
Selepas langkah terakhir meninggalkan lantai mushola, tiba-tiba terdengar suara “dep” yang sama seperti suara benda jatuh tadi. Dan ketika saya menoleh ke belakang, ternyata anak kecil tadi jatuh kembali dan menangis. Tapi tidak lama kemudian, anak itu bangun dan kembali berlari-lari tidak tentu arah.
Belajar JATUH BANGUN ALA ANAK KECIL tadi, sudah seharusnya bagi kita untuk bertindak tidak cengeng meratapi semua sandungan yang kita alami dalam hidup. Sepatutnya kita bangkit dan bergerak kembali mengarungi setiap pojok bumi yang telah ALLAH SWT hamparkan bagi kita.