Memang benar apa yang dikatakan agama, bahwa sesuatu yang diawali dengan keburukan, maka selama proses itu berlangsung akan buruk pula keadaannya. Atau dalam arti lain bahwa janganlah kita awali setiap langkah kita dengan perasaan tidak menyenangkan, karena pada langkah kita berikutnya, keburukan itu akan terjadi dan terus terjadi, hingga kita tersadarkan untuk kembali “meluruskan” hati kita.
Mungkin ini pula yang dijelaskan oleh Erbe Sentanu dalam bukunya “Quantum Ikhlas” mengenai adanya Hukum Ketertarikan atau Law of Attraction di alam semesta ini. Bahwasannya apa yang menjadi fokus kita, maka itulah yang akan kita dapatkan. Perasaan yang kesal, marah, dongkol, dan sekutunya, maka hal-hal seperti itulah yang akan kita
dapatkan untuk selanjutnya.
Kondisi ini semakin saya sadari bahwa teori itu memang sering terjadi pada diri kita, maksudnya saya…, bahwa (misalnya) ketika kita melangkahkan kaki kita meninggalkan rumah dalam kondisi hati kita kesal pada istri karena habis berselisih paham, maka dalam perjalanan kita selanjutnya, mungkin di jalan atau di kendaraan, berbagai bentuk kekesalan dan kemarahan akan (kembali) kita dapatkan dan begitulah seterusnya…sampai kita kembali “tobat”.
Tapi terkadang saya sendiri tidak bisa memahami mengapa hal itu bisa terjadi. Hal ini jauh masih jauh dari logika saya. Tapi begitulah Erbe
Sentanu
menjelaskan bahwa kondisi ini sudah hukum alam atau Sunattullah.
Sudah kuasa Allah SWT membuat hukum alam ini dan tidak daya dan upaya bagi kita selain mengikuti aturannya dengan cara beradaptasi.
Yup, ADAPTASI!!! Dan karena memang sudah seperti itulah hukumnya, maka setiap kali saya merasa akan “negatif”, maka saya coba segera membuat hati ini kembali “positif”, walaupun hal itu sulit. Dan nyatanya hingga saat ini, “keterampilan” itu masih belum saya kuasai betul. Dan itu
nggak menjamin menjadi mudah dilakukan walaupun sudah khatam membaca buku Quantum Ikhlas.