Mencoba menganalisa fenomena kejadian-kejadian yang sering terjadi di sepanjang jalan Kalimalang baik dari arah Halim Perdanakusuma ataupun dari arah Cibitung. Kemacetan dan kecelakaan lalu lintas sering terjadi disepanjang jalan Kalimalang itu, dan yang menjadi korbannya pun ada angkot, metromini, truk, motor, mobil pribadi maupun pejalan kaki.

Sepanjang jalan Kalimalang dari Cibitung ke Bekasi Timur, menjadi jalur maut bagi pengendara yang kebut-kebutan. Fenomena yang sering kali saya lihat di sepanjang jalan Kalimalang Cibitung-Bekasi Timur biasanya kecelakaan kendaraan yang ngebut menabrak kendaraan atau orang yang menyebrang. Padahal disepanjang jalan itu banyak ditempel tulisan-tulisan preman yang berisi peringatan untuk tidak ngebut, semisal “ngebut = bonyok”, “dah nabrak baru tau rasa loe”, “hati-hati banyak penyebrang jalan”, dan tulisan preman lainnya.

Selanjutnya fenomena yang sering terjadi di perempatan bekasi timur-bulak kapal yaitu kemacetan  akibat penerobosan lampu merah yang belum selesai dari arah Kalimalang yang akibatnya berbentrokan dengan kendaraan dari arah lain yang masih punya hak lampu hijau. Pengendara sepeda motor lebih sering menerobos lampu merah walau detik hitungan lampu merah belum mencapai angka “0”.

Setelah itu fenomena yang biasanya terjadi di sepanjang jalan kalimas dari perempatan bekasi timur ke arah Unisma, yaitu kendaraan motor yang bersenggolan dengan kendaraan lainnya, baik dengan sesama motor roda dua atapun dengan kendaraan roda empat. Penyebab biasanya yaitu dari kendaraan yang berjalan pelan di tengah jalan sehingga menghalangi kendaraan dari belakang yang kecepatannya lebih cepat.
Tidak banyak fenomena yang saya lihat di perempatan Bekasi Barat. Lokasi ini cenderung lebih aman bila ada bapak/ibu polisi yang berada di tengah jalan. Semua kendaraan bermotor cenderung menjadi lebih alim dan manut. Tapi bila tidak ada pihak yang berwajib, penyakit saling menyerobot lampu merah sering terjadi bagi setiap pengendara kendaraan utamanya para bikers.

Ketegangan kembali terjadi di sepanjang jalan kalimalang arah Jatibening dari Bekasi Barat atau sebaliknya. Jalan yang cukup luas memungkinkan setiap kendaraan utamanya pengendara motor punya ruang manuver yang lebih luas untuk mengambil semua sisi. Dan biasanya kemacetan yang terjadi adalah kendaraan yang berjalan pelan di tengah jalan ataupun kendaraan yang menyebrang atau berbalik arah. Kecelakaan sering terjadi pada kendaraan roda dua yang jatuh akibat ngebut tapi terhalang oleh kendaraan yang berhenti/berbelok di depannya.

Hampir terjadi fenomena yang sama di sepanjang jalan jatibening arah Halim atau sebaliknya. Kemacetan terjadi di perempatan jatibening, pondok kopi, dan perempatan lainnya. Hampir disepanjang jalan itu banyak sekali kendaraan yang keluar dari komplek atau sekedar untuk belok dan berbalik arah yang menyebabkan kemacetan yang luar biasa. Jalan yang tidak diberi pembatas tengah dan jalan yang sempit menyebabkan setiap kendaraan utamanya roda dua mengambil porsi jalur lainnya. Terjadilah kemacetan total. Seluruh jalan dikuasai kendaraan, lajur kiri kendaraan roda empat dan lajur kanan oleh kendaraan roda dua. Akibatnya kendaraan dari arah berlawanan sulit jalan karena terhalang rombongan kendaraan dari arah berlawanan.

Dan kejadian ini sering terjadi utamanya di pagi hari (kisaran jam 06.00 – 08.00) dan di sore hari (kisaran jam 15.00-17.00), tapi tidak menutup kemungkinan terjadi kemacetan di siang hari dan biasanya hal ini banyak disebabkan oleh angkot yang ngetem (sorry pak angkot!!)

Jadi bila dibuatkan ringkasannya, penyebab berbagai fenomena kejadian di sepanjang jalan Kalimalang itu :

1.Perilaku berkendara yang tidak baik dan sesuai dengan aturan lalu lintas, baik motor, sepeda, mobil pribadi, angkot, truk dan lainnya. Baik pihak sipil maupun pihak berwajib karena tidak jarang saya lihat ada juga (misal) petugas polisi yang berkendara roda dua tidak menyalakan lampu besar di siang hari dan belok tidak pakai lampu belok (lampu sein). Polisi juga manusia…
2.Kendaraan berkecepatan pelan di tengah jalan. Entah karena alasan santai atau taat pada aturan batas maksimal kecepatan, tapi yang pasti kalau jalan di tengah jalan, menghalangi pengguna kendaraan dari belakang.
3.Angkot ngetem. Prinsip angkot, dimana ada kerumunan orang, persimpangan, sekolah atau pasar, disitu angkot berhenti.
4.Kendaraan mogok dan ini bisa terjadi pada semua harga kendaraan, mahal atau murah.
5.Banyaknya persimpangan jalan. Di sepanjang jalan Kalimalang ini banyak sekali persimpangan jalan, gang atau pintu komplek yang mengeluarkan banyak kendaraan.
6.Kurangnya marka jalan, sehingga kendaraan bermotor bisa muter seenaknya, bisa belok seenaknya atau berhenti seenaknya.
7.Penyebrang jalan yang bingung melihat banyaknya volume kendaraan yang lewat dan akhirnya gak sabaran untuk menyebrang, akhirnya maksa nyebrang, walau banyak kendaraan lalu lalang.
8.Gerobak para wong cilik yang membawa gerobaknya masuk ke jalanan Kalimalang.
9.Minimnya rambu lalu lintas di sepanjang jalan Kalimalang. Dan kalau pun ada, biasanya terhalang oleh bangunan/pohon ; rambu lalu lintasnya sudah rusak atau posisinya yang tidak strategis terlihat oleh pengguna kendaraan.

Menurut saya beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi fenomena beresiko di sepanjang Kalimalang :
1.Penambahan rambu-rambu lalu lintas yang menarik perhatian mata dan terpasang secara strategis disepanjang jalan Kalimalang.
2.Pengaspalan yang berkualitas baik disepanjang jalan Kalimalang.
3.Pengaturan jumlah volume kendaraan yang lewat, utamanya jumlah keberadaan angkot
4.Penyediaan moda transportasi yang lebih efektif dan efisien
5.Pelebaran jalan yang proporsional sesuai dengan volume kendaraan yang ada
6.Alat canggih yang bisa membuat kecepatan setiap kendaraan di sepanjang jalan Kalimalang punya kecepatan yang sama (ada gituh???)

Jalan sempit atau pun luas sepertinya tidak jadi solusi 100% karena seluas atau sesempit apapun jalannya, para pengguna kendaraan tetap menggunakan jalan seenaknya. Keberadaan polisi lalu lintas pun belum membawa banyak perubahan dalam mengurangi kemacetan kecuali hanya untuk menakuti para pengguna jalan lainnya agar tidak ugal-ugalan.
Kalimalang ini tampaknya memang membawa adrenalin tersendiri bagi pengendara kendaraan bermotor untuk selalu tancap gas…setidaknya itu yang saya alami.

Note : Tulisan ini hanya pendapat pribadi berdasar kesaksian penulis