Sedekah memang ajib, setidaknya itulah yang dikatakan para mustahik sebagaimana terpampang dalam spanduk salah satu lembaga amil zakat terpercaya di Indonesia. Sambil mengacungkan jempol, ketiga orang para mustahik, penerima zakat, itu terlihat sangat gembira dengan dana zakat, infak, shadaqah (ZIS) yang mereka terima. Dan sambil mengucapkan “sedekah itu memang ajib”, seakan mereka mengakui kehebatan yang dimiliki dari uang ZIS tersebut. Kata Ajib yang mengartikan dahsyat, hebat, mengagumkan dan sebagainya, memang sangat pantas untuk disandingkan dengan kehebatan yang terkandung dalam sedekah itu sendiri.

Dalam ajaran Islam sendiri, sedekah memiliki ruang lingkup yang luas, karena seperti dijelaskan dalam hadist Al-Bukhari dari Jabir Ibnu Abdillah, bahwa setiap aktivitas yang mengandung nilai positif dalam pandangan Islam dapat disebut sebagai sedekah. Kullu Ma’rufin Sadaqatun (setiap yang baik (makruf) adalah sedekah), kurang lebih isinya seperti itu. Bahkan sebuah senyum yang tulus pun dapat bernilai sedekah. Dalam bentuk apapun, sedekah memang perbuatan yang mulia.

Adapun kekuatan seperti apa yang dimiliki dari sedekah itu, memang bukan kekuatan yang dapat diukur dan dibuktikan secara ilmiah. Setidaknya hingga saat ini. Karena adapun kekuatan dari sedekah itu sendiri hanya dapat dibuktikan dan dirasakan oleh orang-orang yang memang percaya dengan kekuatan sedekah itu sendiri. Ada sebuah kekuatan diluar kuasa manusia yang dapat menguatkan orang-orang tersebut untuk senantiasa mencapai kepuasan kemanusiaannya. Bagi orang-orang yang percaya adanya tuhan yang menciptakan alam semesta ini, mereka selalu yakin bahwa dengan sedekah (giving) kepada sesama manusia, maka tuhan pun akan menggerakkan hati manusia-manusia untuk kembali mengeluarkan “sedekah” kepada orang tersebut, dengan cara apapun.

Kekuatan yang terkandung dari sedekah atau berbagi itu memang sudah dibuktikan oleh orang-orang sukses di dunia.Misalkan Bill Gates, sebagai orang terkaya di dunia (versi majalah Forbes), senantiasa berbagi (giving) melalui yayasan yang dikelolanya, Gates Foundation. Dimana Bill Gates sendiri sudah meyakini bahwa semakin banyak dia bersedekah (giving) kepada orang lain, maka dia pun akan semakin banyak menerima. Walaupun milyaran US Dollar yang dia sumbangkan untuk beberapa negara miskin dunia, akan tetapi hal tersebut tidak sedikitpun membuat Bill Gates menjadi orang termiskin di negaranya. Seperti ucapan Pak Guru Syahdan kepada anak-anak muridnya dalam film Laskar Pelangi, “banyak-banyaklah memberi, sebelum banyak menerima”

Saat ini pun, banyak sekali buku-buku bisnis dan motivasi yang bertemakan tentang berbagi. Beberapa judul buku bisnis terlaris, seperti The Go Giver karya Bob Burd dan John David Mann menceritakan tentang kekuatan berbagi. Bahwa sebelum kita mencapai kesuksesan yang kita inginkan, maka sifat berbagi harus menjadi perilaku yang dibiasakan terlebih dahulu. Atau misalkan dalam buku The Power Of Giving, karya Ustad Yusuf Mansyur, yang sangat detail sekali menceritakan kekuatan dari sedekah. Bahwa balasan sedekah itu luar biasa dimana nilainya tidak bisa dihitung dengan hitungan matematis biasa. Ada hitungan Allah SWT yang tidak sama dengan hitungan manusia itu sendiri. Dan masih banyak lagi teori-teori bisnis dan motivasi yang saat ini sedang trend, mengajarkan kepada kita bahwa ada faktor kebiasaan berbagi yang menjadi salah satu kebiasaan seseorang dalam mencapai sejarah kesuksesannya.

Bahkan ada pula sebuah komunitas bisnis di Indonesia yang memiliki prinsip utama tentang berbagi. Tangan Di Atas (TDA) yang memiliki jargon “bersama menebar rahmat” telah menjadi sebuah komunitas bisnis yang besar, dengan banyaknya para pebisnis didalamnya, dimana mereka semua selalu membiasakan diri untuk selalu berbagi, bersama-sama menebar rahmat dengan cara apapun. Salah satu bentuk berbagi para anggota TDA yaitu dengan mengadakan acara santunan TDA yang biasa diadakan setiap tahun, dimana untuk tahun ini telah diadakan pada tanggal 13 September 2009 di Islamic Center, Bekasi. Dalam acara tersebut, telah terkumpul 500 bingkisan yang dibagikan kepada beberapa yayasan yatim piatu dan anak-anak. Selain itu pula, beberapa komunitas TDA di wilayah lain pun melakukan kegiatan yang sama.

Sedekah memang luas biasa. Apalagi di bulan Ramadhan seperti ini, yang diyakini bagi umat Islam memiliki keutamaan tersendiri, dimana dibulan ramadhan ini, setiap amal kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT berlipat-lipat, bahkan hingga 700 kali lipat. Maka tidak heran bila dibulan Ramadhan ini banyak sekali acara-acara santunan yang dilakukan oleh beberapa orang. Selain balasan atas kebaikan bersedekah yang akan kita dapatkan dari Allah SWT., ada nilai kebaikan sosial yang kita dapatkan atas dikeluarkannya sedekah tersebut. Rasa kepedulian sosial yang tinggi dan rasa berbagi bersama saudara kita yang kurang mampu, menjadi nilai sosial yang tercermin dalam sifat bersedekah tersebut. Dengan adanya kebiasaan bersedekah di lingkungan kita, maka setidaknya kesenjangan sosial di lingkungan kita dapat diminimalisir. Bila saja masyarakat Indonesia memiliki kesadaran dalam bersedekah, maka kemiskinan di Indonesia dapat cepat teratasi. Sehingga dengan begitu, penyakit masyarakat di sekitar kita dapat segera sembuh.

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui”(QS. Al-Baqarah: 261)

Sedekah memang Ajib.