Beberapa minggu yang lalu, setelah beberapa saat merenungkan kalimat “Tiada Tuhan selain Allah, segala puji bagi Allah, Tiada sekutu bagi Nya, Milik Nya lah segala kerajaan, Milik Nya lah segala puji, Allah lah Yang Maha Menghidupkan, Allah lah pula yang Maha Mematikan, Dan Allah lah yang Maha Menentukan”, saya banyak termenung. Ini adalah sebuah kalimat tauhid bagi saya. Kalimat yang sangat mempengaruhi tiang keimanan saya terhadap Allah selama ini.

Bagaimana tidak, makna dibalik kalimat tersebut sangat dalam. Sebuah kalimat yang seakan menghilangkan semua fungsi, semua sebab akibat yang dipikirkan semua orang, semua kekhawatiran yang dialami setiap orang,semua kenikmatan yang selama ini diidam-idamkan setiap orang.

Lantas apa makna dari semua episode kehidupan di dunia ini?

Setiap episode kehidupan yang kita alami adalah sebagai sebuah sebab akibat antara kita dan Allah. Setiap nikmat, hadiah, rejeki, gaji, suka, duka, kesenangan, kesedihan, dan apapun yang kita alami adalah buah dari sebab akibat urusan kita dengan Allah. Yang pasti saya yakini saat ini adalah tidak ada sebuah kejadian dalam hidup ini yang terjadi karena sebuah kebetulan. Karena kata “kebetulan” ini adalah sebuah ajaran yang diajarkan Darwin “manusia simpanse” kepada kita.

Dan bukan sebuah kebetulan juga, bila mendengar ceramah dari Ustad Yusuf Mansur pagi ini yang mengajarkan soal “Jaminan”. Beliau mengajarkan bahwa jangan sampai kita sudah men-Tuhan-kan pekerjaan. Karena dengan pemahaman ini (Men-Tuhan-kan pekerjaan), kita sudah meyakinkan segala nikmat hidup yang kita peroleh selama ini bersumber dari pekerjaan kita. Bagaimana kita mendapatkan gaji, tunjangan kesehatan, kesempatan liburan keluar kota, THR, bonus, kenaikan gaji, dll adalah sebagai akibat dari kita sudah bekerja. Lantas apa akibatnya bila kita sudah tidak bisa bekerja, apakah semua nikmat di atas akan hilang dan tidak akan pernah kita peroleh lagi? No….

Berapa banyak orang yang sudah pensiun kerja, tapi masih sehat tanpa Jaminan kesehatan dari kantornya, masih bisa jalan-jalan keluar kota tanpa tugas dinas luar dari kantornya, masih bisa makan meski uang pensiun sudah habis, masih bisa memberi ke saudara tanpa mesti mengharapkan lagi uang bonus tahunan dari kantornya.

Ustad Yusuf Mansur mengingatkan kita semua untuk tidak men-tuhan-kan pekerjaan kita. Dan meskipun bekerja adalah bagian dari ibadah, namun jika dalam melaksanakan pekerjaan, kita tidak pernah menegakkan ibadah wajib dan menghidupkan ibadah yang sunah, maka bekerja kita tidak menimbulkan nilai ibadah.

Saat Allah perintahkan kita untuk membina hubungan baik dengan sesama manusia, maka kita patuhi. Namun tetap utamakan urusan kita dengan Allah terlebih dahulu, setelah itu selesaikan urusan kita dengan sesama manusia. Tidak sebaliknya. Dengan adanya time management, maka kita akan semakin mudah mengatur waktu antara urusan kita dengan Allah dan urusan kita dengan orang lain.

Saat Allah mengingatkan kita untuk shalat Dhuha, sementara masih ada banyak hal yg belum selesai, maka kita perbaiki time management kita sehingga urusan shalat Dhuha kita selesai dan pekerjaan kita pun selesai. Begitu pun untuk hal yang lain. Itulah ternyata satu hal lagi (time management between Dunia & Akhirat) yang diingatkan salah satu teman di social media.

Dan saya sangat setuju dan teringat kembali dengan kesalahan saya dahulu saat masih bekerja di kantor swasta. Dan saat ini lepas dari status karyawan saya 7 bulan yang lalu, saya masih perbaiki pemahaman saya. Bahwa jangan sampai kenikmatan yang sudah saya dapatkan 6 bulan ini menjadi “istidraj” atau nikmat membawa murka dari Allah.

Semoga tulisan ini semakin mengikat pemahaman saya sehingga senantiasa dapat saya amalkan. Dan juga saya berharap akan ada banyak lagi sahabat sukses mulia lainnya yang mulai tersadarkan untuk lebih mensyukuri lagi setiap episode hidup yang dialaminya hingga saat ini. Sedih, Senang, Suka, Duka adalah bagian dari sebab akibat hubungan kita dengan Allah. Oleh sebab itu, teruslah perbaiki hubungan kita dengan Allah agar senantiasa kita memiliki penjamin kehidupan kita yang sebenarnya. Sehingga dengan adanya Allah sebagai penjamin hidup kita, hanya ada suka, senang, nikmat, lapang, dan syukur yang kita dapatkan di hari esok selanjutnya, karena hubungan kita yang sudah baik dengan Allah dalam kehidupan kita.