Benda ini yang membuat pikiran saya dan istri sedikit terganggu. Karena benda ini sudah "menginap" di dalam kulit telinga anak kami selama lebih dari 2 malam.

Awal mulanya anting ini ada setelah anak saya merengek tangisan meminta dibelikan perhiasan seperti umminya yang habis saya belikan perhiasan gelang di salah satu pusat perbelanjaan dekat rumah. Tidak kuat mendengar tangis anak kami, akhirnya istri saya bilang "beli anting aja ya Na?" Karena masih usia 3 tahun, anak saya menurut saja dengan pilihan ibunya. Namun karena toko perhiasan itu tidak memiliki anting yang aman dengan model klip/jepit, akhirnya istri saya membelikan Hana, anak saya, cincin.

Meski cincin sudah dibelikan, Hana tetap saja menanyakan kemana antingnya. Dan oleh ibunya, dikatakan bahwa antingnya sudah habis, dan harus dipesan dulu. Sebagai anak kecil yang sudah tidak bisa dibohongi lagi, Hana terus menagih janji kapan anting pesanan di toko perhiasan tersebut ada, setiap kali kami lewat depan toko perhiasan tersebut.

Waktu terus berlalu dengan sering kali Hana menanyakan pesanan antingnya kepada ibunya. Akhirnya istri saya coba alihkan perhatiannya ke ibu saya di Sumedang. Istri saya katakan pada Hana untuk meminta cincin tersebut ke neneknya (ibu saya).

Menjelang lebaran 2012, sesuai janji ibu saya sebagai nenek, akhirnya membelikan anting dengan model bulat berkait, karena memang tidak ada lagi model anting lain yang lebih aman. Akhirnya dengan semarak menjelang lebaran, anting pesanan untuk Hana dipasangkan saat kami telah tiba di Sumedang untuk berlebaran. Anting pun dipasang dengan keinginan dari Hana sendiri, meski saat pemasangannya sedikit kesulitan karena memang lubang anting di telinga Hana sudah agak tertutup.

Satu minggu berlalu ternyata anting di telinga sebelah kiri Hana terus bergeser posisinya dengan bandul berlian di anting tersebut menempel di belakang daun telinga. Dan ternyata kaitan anting tersebut masuk ke dalam lubang telinga Hana. Karena batang anting yang masuk ke dalam telinga Hana adalah kaitannya, maka bila ditarik kembali (digeser ke arah sebaliknya dari lubang saat masuk atau lubang belakang daun telinga), maka pasti sakit karena kaitan anting tersebut tersangkut di dalam kulit telinga. Dan bila kaitan antingnya diteruskan (ditembuskan) hingga lubang anting telinga depan, tentu sakit pula karena memang penampang kaitan anting itu lebih besar dari batang anting sehingga akan sulit keluar dari lubang depan daun telinga.

Karena Hana terus kesakitan dengan anting sebelah kirinya yang menyangkut di dalam daun telinga, akhirnya khawatir terjadi hal lainnya, anting yang sebelah kanannya pun di copot dengan lancar. Tinggal anting di sebelah kiri yang masih bermasalah. Dan karena semakin mengganggu, akhirnya Bapa, panggilan untuk ayah mertua saya alias kakeknya Hana, memotong anting sebelah kiri tersebut. Namun posisi batang anting yang dipotong adalah di dekat daun telinga belakang, bertepatan dengan sambungan mata berlian anting tersebut.
Ternyata sisa potongan anting yang masih menempel di lubang anting telinga Hana sebelah kiri tersebut ikut terbawa masuk ke dalam daun telinga Hana yang semakin merah membengkak. Lubang anting pada telinganya pun mulai kuning bernanah. Saya dan istri yang saat itu sedang pergi ke Bekasi, mulai panik mendengar adanya sisa potongan anting yang belum keluar dari daun telinga Hana. Kami pun segera pulang ke Cirebon.

Akhirnya saya dan istri coba mengeluarkan potongan batang anting dalam daun telinga Hana saat dia tertidur lelap. Setelah kami bersihkan terlebih dahulu cairan nanah di daun telinga dengan campuran air bersih dan sedikit garam dapur, dan daun telinga yang mulai bengkak kami kompres dengan cairan kompresan luka, kami coba keluarkan batang anting yang terlihat jika kami tekan dari lubang depan daun telinga Hana. Setelah mencoba selama 1 jam, kami pun pasrah karena tidak berhasil mengeluarkan sisa batang anting dari dalam daun telinga Hana, baik dari arah depan lubang telinga ataupun lubang telinga belakang.

Pagi harinya kami putuskan untuk membawa Hana ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Sumber Kasih di jalan Siliwangi Kota Cirebon. Untuk pertama kalinya kami ke sana, setelah pendaftaran dan menceritakan masalahnya ke petugas bagian pendaftaran, kami disarankan untuk ditangani bagian dokter umum yang jaga di UGD (Unit Gawat Darurat). Ditangani oleh Dokter Fitri Annisa, akhirnya sisa potongan batang anting di sebelah kiri telinga Hana berhasil dikeluarkan setelah hampir 30 menit percobaan.Batangan anting berhasil dikeluarkan dari arah belakang daun telinga, tempat masuk kaitan anting tersebut, menggunakan alat semacam penjapit. Meski sedikit berdarah, namun Hana tidak cengeng karena memang dia sudah antusias untuk bertemu dokter dari sejak kita berangkat. Dari dokter, kami diberikan obat salep untuk mengeringkan luka pada lubang telinga.

Dari saat awal Hana meminta dibelikan anting pun sudah saya larang, karena saya belum menemukan manfaat penggunaan anting. Seandainya istri saya tidak menawarkan kepada Hana untuk dipakaikan anting, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi dan edisi blog ini tidak akan pernah ada. Dan seandainya ibu saya membelikan anting dengan model jepit, mungkin kaitan anting ini tidak akan pernah masuk ke dalam lubang telinga Hana. Dan seandainya Bapa tidak memotong anting tersebut mepet dengan telinga dan menyisakan batang anting, mungkin saat mencabut sisa potongan anting akan lebih mudah.

Namun saya yakin semua kejadian ada hikmahnya, meski setiap kejadian terkadang disesali. Namun, ketika pada akhirnya ini semua terjadi, maka pasti ini semua sudah kehendak Allah. Semoga hikmah dibalik pengalaman ini segera terungkap.

#anting #anak #perhiasan #bahaya #cirebon #rsia