Hingga akhirnya deadline tanggal 7 Oktober 2011 untuk mengirimkan biaya akomodasi perjalanan kelas perdana Sekolah Monyet, saya tidak mengirimkan uang 300 ribu tersebut. Bahkan saya pun tidak mengirimkan konfirmasi sms keikutsertaan saya ke nomor hape yang sudah Bang Jay berikan.

Saya hanya mengirimkan email balasan ke Bang Jay pada tanggal 6 Oktober jam 2 siang, namun satu jam kemudian Bang Jay membalas email saya dengan menuliskan :

———- Forwarded message ———-
From: <oriza@pacific.net.id>
Date: Oct 6, 2011 3:17 PM
Subject: Re: Undangan Sekolah Monyet
To: “hendra permana” <hendra.permana@gmail.com>

Datang saja ke Gambir mas. Seperti sejak awal saya katakan, uang bukan segalanya. Saya tunggu ya. Jangan pakai alasan lagi!

Jay

Powered by Telkomsel BlackBerry®

________________________________

Empat hari menjelang kelas perdana Sekolah Monyet inilah, kegalauan saya semakin menjadi. Saya melihat kesungguhan yang sangat besar dari seorang MotivActor Bisnis yang baik hati, yang menginginkan sebuah perubahan besar bagi murid-muridnya, itulah yang membuat saya semakin sulit untuk menolak, sementara saya pun punya keinginan yang sama. Bahkan saya sempat berpikir dan berkompromi dengan diri sendiri saat itu “baiklah, untuk kali ini saja saya akan ikut, entah pelatihannya nanti akan seperti apa, apa itu berjualan di atas kereta, tidak apa-apa. Saya hanya akan bolos kerja saja satu hari. Esok harinya saya akan kembali masuk kantor”.

Mendapat kepastian dari Bang Jay seperti itu, semakin nekadlah saya. Detik-detik menjelang Hari Senin, tanggal 10 Oktober 2011, semakin stress lah saya. Bingung memutuskan ikut bersama Bang Jay ke stasiun Gambir atau pergi ke kantor.

Kegalauan saya semakin bertambah lagi saat ada telepon masuk dari Bang Jay berdering di hape saya hari Minggu siang, 9 Oktober 2011. Dengan mata masih sayup karena terkaget ada dering telepon saat saya sedang tidur siang, saya jawab telepon itu. “Assalamualaikum Bang” sapa saya. “Waalaikumsalam. Mas, besok bisa dateng kan?” Tanya Bang Jay singkat. “Aduh, gimana ya Bang, saya nggak punya uang nih buat ongkosnya” jawab saya polos. “Udah, pokoknya besok pagi dateng ya, saya tunggu di Gambir. Ga usah banyak mikir. Assalamualaikum” tutup Bang Jay, singkat, padat, dan telepon pun di tutup. Jleb!!! Ibarat mimpi buruk di siang bolong, semakin pusinglah kepala saya. Tidak mungkin saya bolos kerja lagi besok, apa yang harus saya katakan ke istri saya, dan berbagai suara-suara gaib yang terus berkecamuk dalam pikiran saya terus menghantui.

Minggu, 9 Oktober 2011 menjadi hari-hari terakhir saya untuk dapat berpikir jernih. Mulai saat itu, pikiran saya semakin berat, hati semakin bimbang, ada banyak mediasi dan pertimbangan keputusan yang harus saya hadapi hari itu. Pilihan antara keinginan berbisnis dan melanjutkan aktivitas karyawan saya di Jakarta. Bahkan pikiran saya semakin bertambah berat saat malam harinya, Bang Jay sms saya agar saya dapat datang ke Gambir keesokan harinya. Duh, saya tidak ingin mengecewakan Bang Jay yang sudah berbaik hati memfasilitasi saya agar bisa ikut pelatihan dan juga sudah menyediakan akomodasi untuk pelatihan kelas perdana besok. Namun saya juga bingung karena hingga hari H nya pun, saya belum ijin ke atasan saya di kantor. Dan istri saya pun hingga saat itu tidak menanggapi rencana saya dengan Bang Jay.

Saat itu, menjelang tidur pun saya utarakan keinginan ini pada pasangan hidup yang sudah 4 tahun mendampingi, dari hati yang paling dalam, saya meminta dukungan dan doa yang tulus dari seorang istri untuk mendukung penuh apapun keputusan yang akan diambil suaminya esok pagi. Pergi menemui Bang Jay di Gambir atau pergi berangkat kerja. Saya katakan “bila memang pas berangkat besok, Abi dapet kereta yang mampir ke Gambir sebelum 6 pagi, berarti Abi ikut Bang Jay. Tapi kalau ternyata kereta yang Abi tumpangi besok telat datengnya, nggak lewat Gambir, berarti Abi lanjut ke kantor. Bila memang sudah takdir Allah, Abi harus ikut Bang Jay, berarti Abi bisa ke Gambir besok” demikian saya sampaikan kepada istri saya. Hanya dengan muka datar bisu seribu kata, istri saya menimpali ucapan saya.

Ya Allah, jika memang sudah kehendak-Mu, maka tak ada yang mampu menahan dan mengubah itu semua. Amin. Doa saya menutup hari terakhir saya sebagai karyawan, yang juga menjadi hari pertama kekacauan dalam hidup saya berawal.

#galau #sekolah #monyet #bisnis #Jay #Teroris #Gambir