Hari Senin subuh, 10 Oktober 2011, saat mentari belum menampakkan bayangannya, saat adzan subuh berkumandang, seperti biasa saya sudah menyiapkan diri untuk Shalat Subuh berjamaah dan lanjut berangkat kerja.

Ada yang tidak biasa memang usai shalat Subuh saat itu, karena kepala dan hati saya masih terasa berat keputusan apa yang akan saya ambil pagi itu. Berangkat ke Gambir menemui Bang Jay atau pergi ke kantor di Kota. Hingga akhirnya tak tersadari, waktu sudah menunjukkan jam 5.15 pagi. Wah, saya sudah terlambat ketinggalan kereta pertama nih, pikir saya saat itu. Bergegas saya berangkat ke stasiun kereta Lemah Abang, Cikarang. Saat akan keluar rumah, saya sampaikan ke istri saya "jika memang Abi masih sempat naik KRL dan turun di Stasiun Gambir sebelum jam 7, berarti Allah takdirkan Abi ikut sekolah monyet".

Kereta pertama yang dijadwalkan berangkat dari Stasiun Lemah Abang menuju Stasiun Tanjung Priuk sekitar jam 5.20 pagi, ternyata mengalami keterlambatan, sehingga jam 5.45 kereta itu baru berangkat. Sepanjang perjalanan kereta yang berjalan lambat itulah, pikiran saya terus melayang membayangkan hal-hal buruk akan terjadi jika saya ikut Sekolah Monyet. Ketakutan kena Surat Peringatan (SP) dari kantor, hingga ketakutan dikeluarkan kerja, belum lagi istri yang akan marah besar jika semua itu sampai terjadi, dan hal-hal paling mengerikan lainnya seakan semakin nyata terlihat dalam pikiran saya saat itu.

Namun akhirnya, dalam perjalanan itu saat jam menunjukkan 6.45 pagi, saya sms Bang Jay bahwa saya baru tiba di Stasiun Jatinegara, menunggu kereta lain yang akan lewat Gambir. Saya sampaikan bila memang tidak bisa menunggu saya, silahkan jalan duluan dan itu berarti saya tidak ikut gabung.

Saat itu saya memang berencana, jika memang saat nanti KRL yang saya tumpangi lewat Gambir sebelum jam 7 pagi, maka saya akan turun di sana dan bergabung dengan Bang Jay. Namun jika ternyata jam 7 sudah lewat, maka saya akan lanjut di KRL yang sama menuju Stasiun Kota.

Namun ternyata, balasan sms dari Bang Jay "dateng aja, ditunggu sampai jam 7.30 di Kereta Eksekutif Bima". Hah!! Ternyata keretanya pun berangkat molor, saya masih ada banyak waktu dan peluang besar turun di Gambir. Deg! Deg! Bertambah pusinglah saya, apakah mungkin saya memang ditakdirkan dalam rombongan sekolah monyet? Hati semakin bimbang, otak pun terasa penat. Hingga akhirnya KRL Ekpress Bekasi-Kota via Gambir berhenti di Jatinegara sekitar jam 7. Ya Allah, berikan hamba keputusan yang baik. Hingga akhirnya KRL Ekspress itu tiba di Gambir jam 7.20. Segera saya berlari ke Gerbong Pertama Kereta Bima yang tepat berada di depan pintu keluar KRL Ekspress tempat saya berdiri. Dan ternyata saya belum tertinggal.

Namun, mengapa harus Kereta Eksekutif Bima? Apakah jualan asongannya akan di kereta eksekutif? Seperti apa ya nanti Bang Jay akan menyuruh kita berjualan? Demikian keheranan saya saat itu, karena yang terbayang dalam benak saya saat itu, mungkin bentuk pelatihannya akan berjualan di atas kereta eksekutif, untuk mengkupas urat malu berjualan para muridnya. Tapi apa iya pelatihannya seperti itu?….

#gambir #KRL #Sekolah #Monyet #Jay #Teroris #Bima