Hingga akhirnya saya pun tiba di Stasiun Gambir 5 menit sebelum kereta eksekutif itu berangkat. Di gerbong pertama Bima itu, Bang Jay dan 7 orang lainnya sudah duduk nyaman di kursi kereta kelas eksekutif. 5 orang laki-laki pemberani itu adalah Pak Dian, Pak Asto, Pak Iwan, Mas Husni dan Mas Bayu serta 2 orang perempuan luar biasa, yakni Mba Tamara dan Mba Atit, yang mereka baru saya kenal setelah 5 jam kemudian selama perjalanan.

Bang Jay, untuk pertama kalinya saya bertemu secara langsung, segera mempersilahkan saya duduk di kursi sebelas Mas Husni. Pelan sekali saya turunkan (maaf) pantat saya di atas kursi empuk dan gerbong kereta ber-AC tersebut. Saat itu pikiran saya tak karuan, saya tidak tahu kemana kereta ini akan berangkat, kemana saya akan dibawa pergi, apa yang akan terjadi dengan saya saat jam 5 sore nanti yang mana seharusnya saya sudah kembali pulang ke rumah, apa yang harus saya katakan kepada atasan saya jika menanyakan ketidakhadiran saya di kantor, apa yang harus saya sampaikan kepada istri saya jika dia tahu saya entah akan pergi kemana, dan "apa-apa" lagi jawaban yang harus saya siapkan nanti jika semua orang diluar sana menanyakan apa yang sedang saya lakukan di dalam kereta eksekutif Bima ini….

Mulailah keluar keringat dingin dari kepala saya seiring getaran kereta yang mulai terasa serta bunyi peluit lokomotif yang menandakan kereta mulai meninggalkan Stasiun Gambir. Pikiran mulai melayang entah kemana, perasaan tegang, takut, bingung bercampur entah seperti apa rasanya. Dapatkah kamu bayangkan bagaimana pusingnya kamu takut dimarahi oleh atasan dikantor karena bolos kerja yang juga baru bolos, lantas sudah tidak masuk kerja lagi, ditambah pekerjaan yang sedang banyak di kantor? Ditambah pusingnya harus menyiapkan jawaban nanti saat ditanya istri sudah pergi darimana, sementara saya sendiri tidak tahu akan dibawa pergi kemana? Pusing bagaimana nanti cara kembali pulang ke rumah karena tidak mungkin saya pergi jarak dekat menggunakan kereta eksekutif Bima? Mana lagi saat itu saya hanya membawa bekal uang cukup untuk pulang pergi ke kantor-rumah, hanya 10 ribu rupiah!

Saat itu saya memang hanya berpakaian layaknya orang berangkat kerja, satu stel pakaian kemeja yang menempel di badan dan tas kerja berisi laptop. Berbeda dengan persiapan yang dilakukan peserta sekolah monyet lainnya. Saat saya tanyakan ke teman duduk di sebelah saya, Husni, dia bilang bahwa dia sudah mempersiapkan diri untuk bepergian jauh, meski tidak tahu tujuannya kemana, sebagaimana yang pernah disampaikan Bang Jay dalam pertemuan persiapan Sekolah Monyet beberapa minggu sebelumnya di Kafe Kopitiam daerah Pancoran.

Saat pertemuan di Kopitiam Pancoran itu saya memang terlambat datang sehingga saat saya tiba, Bang Jay sudah pulang dan sama sekali saya tidak tahu hasil pertemuan hari itu di Kopitiam. Dan nyatanya, meski peserta Sekolah Monyet lainnya tahu bahwa hari ini mereka akan berangkat jauh, setidaknya mereka sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari baju, ijin ke orang sekitar mereka hingga permintaan cuti ke kantor tempat mereka bekerja. Seperti yang sudah dilakukan peserta lainnya. Sementara saya yang hari itu berangkat dan pertamakalinya bertemu dengan mereka semua, harus ikut serta tanpa persiapan apapun. Saya harus siap untuk semua kemungkinan terburuk dalam perjalanan hari itu.

"Memang kereta eksekutif Bima ini jurusan kemana ya?" Tanya saya ke Mas Husni yang duduk di sebelah saya. "Kereta ini jurusan Yogya dan Solo" jawab Mas Husni dengan tenangnya. O My God!!! Yogya!! Solo!!! Dengan kereta api!!! Keringat dingin yang keluar dari pori-pori rambut saya seakan sedikit meredakan panas otak yang siap meledak. Saya tidak pernah membayangkan perjalanan seperti ini, naik kereta eksekutif hingga Yogya atau Solo, tanpa tahu apa yang akan dilakukan disana.

Memang sudah lama sekali saya tidak pernah melakukan perjalanan jauh dengan kereta, meski ini bukan perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan. Bahkan saya pernah pergi ke Medan, Sumut atau Banjarmasin di Kalimantan. Tapi itu dengan pesawat.

Lemas sudah saya mendengar kereta Bima ini akan membawa kami ke Yogya atau Solo. Tidak mungkin saya bisa pulang hari ini ke rumah, apa yang harus saya katakan kepada istri di rumah karena pasti dia mengira saya berangkat kerja ke kantor. Dan tiba-tiba sms masuk ke hape saya. Ada sms dari istri saya menanyakan apakah saya sudah tiba di kantor. Seperti biasa istri saya memang selalu menanyakan apakah saya sudah tiba di kantor.

"Asslkm. Abi sudah nyampe kantor?" Tulis istri saya dalam sms sekitar jam 8 pagi. "Abi lagi naik kereta" balas saya lewat sms. Saat itu pikiran saya kalut. Bingung mau bicara apa ke istri karena memang saya sendiri bingung akan dibawa pergi kemana. Sejenak saya tenangkan pikiran. Bang Jay mulai berbicara di depan kami semua, di deretan kursi terdepan gerbong.

Dengan gaya bicaranya yang khas, bagi saya beliau memang nampak seperti seorang kepala sekolah yang sangat bijaksana, dengan kacamata bulat berbingkai tipis. Dari sorot matanya, saya tidak melihat niatan buruk beliau yang akan menyesat kami selama perjalanan hari itu. Setidaknya itu cukup meyakinkan saya untuk tetap bergabung dalam perjalanan rombongan Sekolah Monyet.

Bang Jay menjelaskan banyak hal, termasuk memotivasi kami semua untuk tetap berpikir positif dan optimis dalam menghadapi setiap rintangan. "Silahkan isi terlebih dahulu formulir biodata kalian di lembaran ini" jelas Bang Jay sambil membagikan beberapa lembar kertas beserta alat tulisnya. "Setelah itu isi tujuan dan rencana hidup kalian hingga 5 tahun ke depan di lembaran berikutnya" lanjut Bang Jay. Saya buka buka terlebih dahulu beberapa lembaran yang cukup banyak itu. Saya isi lembaran itu dengan pikiran yang masih tertinggal di Gambir sana, memikirkan bagaimana nasib saya hingga sore hari itu.

"Kita akan melakukan perjalanan menggunakan kereta eksekutif ini, dengan tujuan pemberhentian terserah kalian, asal jangan turun di Stasiun Cirebon. Karena saya akan meninggalkan kalian di Stasiun Cirebon membawa semua barang berharga kalian" jelas Bang Jay kepada kami. "Kalian boleh turun dimanapun kalian mau mengikuti pemberhentian kereta ini. Boleh turun di Yogya atau di Solo. Asal jangan loncat aja dari kereta….hehehe"

Candaan yang cukup menghibur sekaligus menantang bagi saya yang memang menyukai petualangan. Namun tetap tidak menyelesaikan masalah saat istri saya kembali sms sekitar jam 8.30 pagi menanyakan apakah saya sudah tiba di kantor. "Abi mau pergi ke Yogya" balas saya lewat sms. Setelah itu seakan semua menjadi hening membayangkan galaunya istri saya di rumah. Berselang 5 menit kemudian, saya telepon istri melalui nomor hape-nya. Hanya suara sunyi senyap yang ada dibalik hape istri setelah salam saya dijawab. "Maaf ya Mi, mungkin sudah takdir Abi ikut dalam rombongan ini". "Abi mau pergi kemana?" jawab istri dengan suara gemetar dan isak tangis. "Abi juga belum tau mau kemana Mi, Abi ngikutin petunjuk dari Bang Jay aja. Pokoknya Ummi tenang aja ya di rumah. Insya allah Abi baik-baik aja. Doain aja yang terbaik buat Abi, biar jadi pengusaha"…Tut..tut..sambungan telepon diputus. Huff…

"Silahkan kumpulkan semua barang berharga kalian, mulai dari handphone, perhiasan, jam tangan, duit, dompet. Cukup tinggalin KTP aja. SIM juga dikumpulkan. Kalian gak perlu SIM buat diperjalanan..haha.." Sambung Bang Jay sambil membuka tas kantong plastik besar, mendekati setiap peserta. "Bang, SIM Card hape boleh dibawa nggak?" Tanya Pa Asto sambil mengacungkan tangan. "Nggak boleh" Jawab Bang Jay. Hah! Mendengar hal itu, saya tidak mengikuti saran beliau (maaf ya Bang Jay…baru ngomong sekarang…hehe). Saya ambil kartu nomor hape saya, karena berpikir untuk nanti menghubungi orang kantor dan istri saya selama di perjalanan nanti. Barangkali ada masalah nanti, pikir saya demikian. Rupanya "kenakalan" saya ini dilakukan juga oleh peserta yang lain. Bahkan Pa Asto pun, yang memang diperjalanan hingga pulang kita bareng terus, membawa juga kartu hape Esia nya…

"Silahkan sms untuk yang terakhir kalinya ke keluarga kalian di rumah dan beritahukan juga nomor hape saya kepada mereka jika ada yang mau mereka tanyakan selama perjalanan kalian nanti" terang Bang Jay kepada kami. Segera saya sms istri saya berikut nomor hape Bang Jay. "Say, ini sms Abi yg terakhir. Hape mau dikumpulin Bang Jay selama diperjalanan. Klo da apa2, sms Bang Jay di nomor 0817xxxxxx" sms pun terkirim dan tidak ada lagi balasan sms yang datang.

Saat Bang Jay mendekati deretan kursi saya dan Mas Husni untuk mengumpulkan barang-barang bawaan kami, saya bilang ke Bang Jay bahwa saya cuma bawa satu tas yang berisi laptop dan tidak membawa barang apa-apa lagi termasuk baju ganti untuk diperjalanan. Bang Jay cukup kaget dengan semua barang titipan saya. Karena bukan hanya dompet, hape dan jam tangan yang dititipkan, tapi semua barang bawaan saya kecuali baju dan jaket yang menempel di badan saya. Akhirnya Bang Jay membungkus rapi semua barang berharga kami dalam koper besar yang sudah beliau siapkan.

Ketegangan sedikit mencair saat kedatangan pelayan restoran kereta datang menghampiri kami semua menawarkan makanan atau minuman yang hendak dipesan selama perjalanan. Bang Jay menawarkan kepada kami semua untuk memesan makanan dan minuman yang dikehendaki. "Silahkan pesan makanan atau minuman yang kalian mau. Silahkan makan enak-enak dahulu sebelum menderita di perjalanan nanti…haha" seloroh Bang Jay sambil meminta pelayan restoran kereta mencatat setiap pesanan kami. Saya yang saat itu sudah meniatkan diri untuk berpuasa Senin Kamis, ikut tergoda sambil membayangkan penderitaan perut keroncongan selama diperjalanan. Beruntung, saya masih kuat menahan godaan makanan terenak terakhir yang akan saya cicipi selama 5 hari selanjutnya.

#Gambir #SMI #JayTeroris