Entah apa rasanya melahap makanan enak di kereta eksekutif tapi dengan pikiran melayang kesana kemari memikirkan apa yang akan terjadi di depan sana. Saya sudah tidak bisa memikirkan rasa makanan yang dilahap peserta lainnya, sekalipun Mas Husni, yang duduk di sebelah saya, sedang asyik mencicipi makanan restoran kereta eksekutif . Namun saya tidak tergoda, hingga akhirnya saya tetap putuskan puasa saja.

Bergetarnya gerbong kereta sedikit menenangkan kegundahan hati saya, memikirkan nasib di depan sana. Apa yang akan terjadi pada saya? Sesekali saya lihat Bang Jay, sedang duduk sangat serius memegangi hapenya. Mungkin sedang menjawab beberapa sms pertanyaan dari keluarga peserta rombongan, termasuk sms dari istri saya mungkin, itu yang saya coba tebak. Saya pun lihat Pak Iwan dan Mas Asto sedang asyik berbincang, seakan menikmati..sangat menikmati perjalanan ini. Saya yakin mereka sudah memperkirakan kejadian perjalanan ini. Sangat nampak dari raut wajah mereka, nampak tak ada kecemasan. Dan juga dari ransel besar yang mereka bawa, persis seperti para pelancong luar negeri yang akan backpacker-an.

Saya coba alihkan kecemasan di pikiran saya dengan mengajak bicara Mas Husni di sebelah saya. Dari pembicaraan ini, saya tahu bahwa dia dan peserta rombongan lainnya sudah ada bayangan tentang perjalanan kali ini sehingga setidaknya mereka sudah mempersiapkan mental saat meninggalkan rumah. Pantas saja, semua peserta membawa ransel berisi baju cadangan untuk diperjalanan. Saya juga tahu bahwa Mas Husni ini masih bekerja di perusahaan swasta, belum menikah dan rumahnya di daerah Tangerang sana. Saya pikir saya satu-satunya peserta terjauh yang ikut rombongan kali ini.

Mendekati stasiun Cirebon, Bang Jay membagikan satu bungkus mie instan dan dua botol air minum mineral 600 ml, sambil berkata "Kalian saya modali dengan mie instan dan botol air minum ini selama kalian dalam perjalanan nanti. Dengan modal ini, saya harapkan kalian dapat kembali lagi ke Jakarta secepatnya. Dan kita akan bertemu lagi di Jakarta, Stasiun Gambir pada hari jumatnya, 14 Oktober, jam 1 siang. Sekalian nanti barang-barang kalian diambil di sana. Terserah kalian mau pulang pakai apa. Bis, kereta, naik truk, terserah. Tapi masa iya, berangkat kalian dengan kereta eksekutif, pulang jalan kaki..hahaha". Astaga..kepala saya bertambah pening. Baru kali ini seumur hidup saya mendapat tantangan yang nyata. Bagaimana pula saya bisa pulang dengan mie instan dan botol minum itu. Kecemasan terbesar saya saat itu adalah, Mungkinkah saya dapat pulang? Saya tidak melihat raut wajah bercanda pada Bang Jay. Ini artinya memang sebungkus mie instan dan botol air mineral ini yang akan membawa kami pulang, atau tidak.

Bang Jay mempersilahkan kami semua membentuk grup diskusi untuk membahas rencana perjalanan tersebut. Akan berhenti dimana? Apa yang akan kita lakukan di tempat pemberhentian nanti? Dan hal lainnya. Akhirnya kami semua saling berhadapan satu sama lain, dengan memutar kursi kereta, membentuk kelompok. Bang Jay meminta kami semua untuk menunjuk ketua kelompok perjalanan. Dan akhirnya kami semua menyepakati Mas Husni sebagai ketua kelompok perjalanan kali ini, dengan pertimbangan dia yang paling muda. Saatnya yang muda memimpin!!!

Kami pun memutar kursi dan duduk saling berhadapan satu sama lain, layaknya rapat besar. Pembahasan pun mulai terlontar. Dari mulai usulan akan turun dimana, Solo atau Yogyakarta atau di mana saja nanti kereta berhenti. Apakah kami akan tetap bersama-sama selama perjalanan ataukah kami akan bergerak sendiri-sendiri. Apa yang akan kami lakukan di sana, dagang apa, cari modal dari mana, akan menginap dimana, dan hal-hal lainnya kami bahas. Meski sebenarnya tidak cukup membuat saya sendiri lebih tenang, karena saya tidak punya saudara, kenalan, siapapun di Jawa Tengah sana. Tak ada yang dapat saya andalkan disana. Tidak mungkin juga saya bergantung pada teman-teman disini. Lha, tujuan saya ikut rombongan perjalanan Sekolah Monyet ini agar saya bisa mandiri, bukan bergantung pada kasih sayang teman.

Melihat sebungkus Mie Instan dan dua botol air mineral 600 ml di tangan, mungkinkah saya dapat pulang? Pulang naik apa? Bisakah hari jumat saya sudah tiba di Jakarta? Apa kata dunia jika baru hari jumat saya masuk kantor lagi, tanpa ijin atau cuti sekalipun. Bisa-bisa saya langsung di pecat nih…Ditambah rencana-rencana manis dari peserta lain Sekolah Monyet yang dengan tenang seakan sudah mereka persiapkan. Mulai dari saudara-saudara mereka yang akan dijumpai di sana atau sahabat mereka, hingga rencana mentoknya, mereka akan pinjam uang untuk pulang ke Jakarta. Aduh…enaknya mereka yang punya saudara atau teman di sana yang bisa di andalkan. Bertambah beratlah hati ini melihat kenyataannya, saya hanya bertemankan mie instan dan botol air mineral di tangan.

Jadi apa yang harus saya lakukan? Saya harus mandiri…harus….

#mie #botol #modal #JayTeroris