Diskusi pun berjalan ringan dan hampa. Kami semua hanya sepakat untuk tetap bersama selama perjalanan ini, turun di Stasiun Yogya bersama-sama. Meski pun ada beberapa ide usaha yang akan kami lakukan disana agar dapat kembali pulang ke Jakarta, tapi belum dapat kami putuskan. Hanya sekedar berbagi ide segar. Setidaknya untuk menyegarkan kembali pikiran kami untuk dapat tetap berpikir tenang. Dari ide jualan di sekitar kampus UGM, sekitar Taman Siswa, berdagang asongan, berdagang baju batik, souvenir Yogya, jualan kue bakpia, penerjemah, menjadi tour guide, bekerja jadi tukang ketik tugas mahasiswa, hingga ide jadi tukang tambal ban!

Untuk melontarkan sebuah ide tentu sangat mudah. Namun dalam kenyataannya, belum lagi saya harus berjuang sendirian, apakah mungkin Hari Jumat-nya, saya dapat kembali ke Jakarta. Setidaknya saya harus dapat mengumpulkan uang 100 ribu. 60 ribu untuk pulang naik kereta ekonomi ke Jatinegara. 40 ribu untuk oleh-oleh ke rumah. Tidak mungkin saya menghilang, meninggalkan rumah hampir 1 minggu, tanpa kabar, pulang tanpa membawa apa-apa. Begitulah setidaknya rencana ideal saya. Namun dapatkah saya melakukan semua ide itu untuk mendapatkan uang? Saya sendiri ragu…

Hingga akhirnya kereta berhenti di Stasiun Cirebon dan Bang Jay pun sudah beranjak dari tempat duduknya dengan tentengan tas besar di tangan kirinya. "Saya tinggal ya. Awas jangan ada yang ngikutin saya ya…abis kereta ini jalan lagi, kalian baru boleh turun dan balik ke Jakarta, bagaimanapun caranya". Bang Jay pun telah benar-benar pergi membawa semua benda berharga kami, hanya meninggalkan senyum pertanda keyakinan bahwa kami dapat kembali lagi ke Jakarta tepat pada waktunya. Selepas mengucapkan salam, Bang Jay pun beranjak meninggalkan kami berdelapan di gerbong eksekutif Argo Bima.

Kereta pun kembali melanjutkan perjalanannya. Kami pun kembali saling menatap kosong, menandakan bahwa tak ada satu pun dari kami semua yang tahu apa yang akan dilakukan di Yogya sana. "Sudahlah, bagaimana nanti saja disana kita diskusikan kembali apa yang dapat kita lakukan" begitu timpal Pak Dian, berusaha menenangkan kami.

Perjalanan kembali sepi seiring Bang Jay meninggalkan kami di Stasiun Cirebon. Kami pun kembali merebahkan tubuh, duduk santai menikmati kelembutan kursi kereta eksekutif dan kesejukan AC nya.

Saat gerbong kereta dengan cepat meninggalkan Stasiun Cirebon, Tamara tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya, pergi ke arah belakang gerbong. Tamara dan Atit memang duduk persis di depan saya. Saya lihat Atit pun menengokkan kepalanya ke belakang seakan memperhatikan kepergian Tamara. Saat saya pun ikut menengokkan kepala saya ke belakang, terlihat Tamara sedang berbicara dengan seorang penumpang yang duduk tidak jauh dari kursi saya, sembari memberikan botol air mineral kepada penumpang perempuan itu. Bagi saya tidak ada yang mencurigakan saat itu.

Namun, rasa penasaran semakin bertambah saat tak berselang lama Tamara kembali ke tempat duduknya, giliran Atit yang berdiri dan pergi ke belakang gerbong, setelah sebelumnya mereka bicara dan nampak senang. Perhatian saya kembali terusik. Saat saya tengok ke belakang gerbong, saya lihat Atit pun nampak sedang memberikan sebotol air minum kepada penumpang yang sama, yang bicara dengan Tamara sebelumnya.

Rupanya kejadian ini pun membuat penasaran Husni, di sebelah saya. Dari balik kursi, Husni menanyakan kepada Tamara, apa yang sedang mereka lakukan. Rupanya mereka menjual botol air minum, modal dari Bang Jay, kepada rombongan penumpang tersebut. Wah, jiwa dagang mereka sudah keluar juga pikir saya. Kejadian ini pun menarik perhatian peserta lainnya, yang masih memegangi botol air minum mereka hingga Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Sekitar jam 4.15 sore, kami semua turun di Stasiun Tugu, Yogyakarta, dengan kaki lemas dan tak semangat karena bingung apa yang akan dilakukan di Yogya. Selepas melihat kepergian kereta Argo Bima melanjutkan perjalanan, kami semua berkumpul di tempat duduk menunggu kereta datang di dalam stasiun. Kami mendiskusikan apa yang akan dilakukan, dengan tujuan dapat kembali ke Jakarta secepatnya. Namun permasalahannya, apakah kami akan mencari uang bersama atau masing-masing. Bagaimana juga dengan tempat menginap nanti malam dan hari-hari selanjutnya.

Pak Dian, peserta dari Jakarta, menawarkan tempat menginap di rumah salah satu saudaranya di Yogya kepada kita semua untuk bermalam. Tamara pun menawarkan rumah bibinya di sekitar Malioboro untuk menginap, tapi khusus perempuan saja. Berarti Atik, peserta perempuan lainnya yang ikut menginap bersama Tamara, karena 6 peserta lainnya adalah laki-laki. Beberapa dari kami ada yang memutuskan untuk ikut menginap di rumah saudara Pak Dian, beberapa peserta lainnya tidak mempermasalahkan akan menginap dimana. Di masjid pun tak masalah. Saya pun tidak mempermasalahkan soal tidur dimana nanti, karena yang jadi masalah utama saya saat itu adalah : Apa yang akan saya lakukan di Yogya, tanpa kenalan, tanpa ada yang bisa di andalkan. Jangan-jangan saya malah jadi gelandangan baru di Yogya….

Banyaknya pertanyaan dan wajah yang kebingungan apa yang akan dilakukan di Yogya, Tamara, yang pernah kuliah di UGM dan punya saudara juga di Yogya, membuatkan peta dan sedikit memberikan informasi apa yang ada di Yogya dan yang dapat kami lakukan disana. Bahkan Tamara membuatkan kami sebuah peta di selembar kertas lokasi pusat keramaian di sekitar Malioboro, UGM dan Taman Siswa. Dia pun mengajak kerjasama ke bibinya yang punya usaha dagangan di Yogya. Barangkali diantara kami ada yang berminat ikut berjualan. Sedikit membuat kami tenang, tapi saya sendiri akan coba keliling terlebih dahulu sekitar Malioboro sesuai peta yang sudah Tamara buatkan.

Sekitar jam 5 sore kami semua keluar meninggalkan Stasiun Tugu. Melewati jembatan bawah tanah di Stasiun Tugu, kami semua menapaki setiap tangga jembatan dengan kaki lemas dan muka bingung. Saya dapat melihat raut muka Mas Husni yang penuh dengan kebingungan dan ketidakjelasan tujuan. Mungkin dia pun melihat raut muka yang sama pada saya. Raut muka penuh tanda tanya, mungkinkah saya berhasil pulang ke Jakarta….pulang dengan kebanggaan atau pulang dengan banyak kekecewaan menunggu…

#Tugu #Yogya #Malioboro #SMI