Keluar dari pintu Stasiun Tugu, kami berbelok ke arah kiri, menuju Malioboro. Dengan ikhlas kaki, saya tinggalkan Stasiun Tugu tanpa menengok lagi ke belakang. Karena sama sekali tak berarti, tak dapat mengantarkan saya lagi kembali ke kantor di Jakarta. Terbayangkan bagaimana sore itu saya sudah bersiap pulang kantor, menuju Stasiun Kota untuk naik kereta KRD jurusan Purwakarta yang akan berangkat sekitar jam 5.30 sore. Membayangkan raut wajah kangen istri dan anak di rumah setiap kali saya pulang kerja setelah hampir 13 jam berpisah. Namun, hari itu semuanya berbeda…

Di sebelah kiri Stasiun Tugu menuju Malioboro banyak berdiri toko penjual aksesoris dan souvenir khas Yogya. Ada juga penjual makanan tenda angkringan yang sudah siap-siap berjualan beberapa jam lagi. Saya coba lirik kanan kiri untuk memperhatikan usaha apa yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang. Bahkan pedagang asongan pun tak luput dari perhatian saya. Siapa tahu ada pedagang asongan yang sudah terlihat kecapean dan bisa saya pinjam dagangannya. Beberapa teman rombongan lainnya pun melihat-lihat sekalian mengecek harga jualan di sekitar sana. Mereka bilang sebagai harga pembanding saat nanti berjualan.

Kami berjalan sangat pelan sekali, beriringan, bersama menyusuri jalan Malioboro hingga akhirnya bertemu dengan sebuah masjid di jalan Malioboro dan waktu sudah mendekati magrib. Kami semua berhenti lagi dan semua peserta rombongan laki-laki sepakat untuk shalat magrib berjamaah terlebih dahulu. Sementara dua peserta perempuan, Tamara dan Atit, melanjutkan perjalanan mereka. Mereka bilang akan menemui saudaranya Tamara terlebih dahulu agar bisa segera berjualan. Entah apa yang akan mereka lakukan. Akhirnya dua peserta wanita SMI berpisah dari rombongan. Semoga lancar ya kawan….

Saya, Pak Dian, Mas Husni, Mas Bayu, Mas Asto dan Pak Iwan beristirahat sejenak sembari melaksanakan shalat magrib berjamaah. Saya sendiri tidak ingat nama masjidnya apa. Yang pasti lokasinya di pinggir jalan Malioboro, dan saat menjelang malam tersebut, sudah banyak tenda angkringan berjejer sehingga sedikit menutupi bangunan masjidnya. Rasa cemas saya sedikit tenang saat itu. Bukan karena sudah menemukan solusi, tapi saya sudah menemukan masjid untuk memfokuskan pikiran agar dapat serius berdoa meminta petunjuk dari perjalanan ini. Dan juga memang saya sudah terlanjur "basah". Perjalanan sudah sejauh ini, maka tidak mungkin saya mundur.

Khusyuk sekali saya berdoa selesai shalat magrib. Meminta petunjuk apa yang harus saya lakukan agar dapat kembali pulang ke Jakarta dengan lancar. Selepas berdoa dan melakukan shalat sunah rawatib, saya segera berkumpul dengan teman-teman yang sudah duduk-duduk di selasar masjid. Nampak wajah mereka sudah lebih tenang dan cerah dibanding saat pertama kali turun dari kereta Argo Bima. Kami pun keluar dari pintu masjid dan melanjutkan perjalanan menyusuri kembali jalanan Malioboro menuju Benteng Fort Vredeburg. Saya tidak terlalu asing dengan kondisi jalanan Malioboro di malam hari karena sekitar 2 tahun sebelumnya, saya pernah keliling Malioboro saat acara rekreasi kantor dari tempat saya bekerja.

Di tengah jalanan Malioboro yang semakin memadat, tak pernah mata ini meluputkan dari perhatian dagangan apa yang sedang laris diminati para pengunjung Malioboro, yang dapat saya tiru lakukan juga untuk mendapatkan ongkos pulang ke Jakarta. Hingga akhirnya adzan Isya berkumandang di Benteng Fort Vredeburg, kami berkumpul kembali dan memutuskan untuk berpisah. Berpisah agar action yang akan kami lakukan dapat cepat dilakukan tanpa perlu menunggu teman peserta lainnya. Akhirnya Pak Dian, Mas Bayu dan Mas Husni bersama-sama ikut menuju rumah saudara Pak Dian. Sementara saya, Mas Asto dan Pak Iwan memutuskan untuk istirahat dulu menikmati suasana jalanan di Benteng Vredeburg.

Entahlah, ada perasaan yang mengatakan untuk tidak ikut menginap di rumah saudara Pak Dian. Karena pikiran saya masih mencari jalan ikhtiar apa yang akan dilakukan dan itu harus segera. Bukan keesokan paginya. Akhirnya saya ikut memutuskan istirahat, duduk di kursi jalanan di depan Benteng Vredeburg bersama Pak Iwan dan Mas Asto.

Terlihat Pak Dian, Mas Bayu dan Mas Husni berjalan dengan langkah hampa bercampur rasa letih setelah perjalanan hampir 7 jam. Di tambah kita semua harus berjalan kurang lebih 1,8 km dari Stasiun Tugu hingga Benteng Vredeburg. Langkah mereka terlihat menghilang di belokan jalan Benteng Vredeburg. Hanya doa dan harapan yang muncul di pikiran saya saat itu, semoga kita semua dapat kembali bertemu di Jakarta….

#Tugu #Malioboro #Fort Vredeburg