Saya perhatikan banyak sekali anak-anak muda yang sedang asyik menikmati jajanan dan pemandangan di Benteng Vredeburg. Banyak juga tukang ojek yang mangkal di depan Benteng sedang mencari penumpang dari arah pertokoan Malioboro. Di antara kumpulan anak muda yang sedang nongkrong itu, saya terpikir untuk meminjam hape mereka agar saya dapat mengkabari istri di rumah dan atasan saya. Akhirnya saya sambangi salah satu pemuda yang sedang duduk di sana. "Mas, saya boleh pinjam hapenya. Saya punya kartunya, saya cuma mau pinjam hapenya disini. Saya mau telepon istri saya di rumah" sahut saya ke pemuda berusia sekitar anak SMA. "Oh, boleh Mas, pakai aja pulsa saya, nggak usah di ganti kartunya" ujar pemuda itu.

"Terima kasih Mas" jawab saya pada pemuda itu. Setelah hape ada di tangan, segera saya tekan nomor telepon istri yang masih saya ingat di luar kepala. "Mi, Abi sudah nyampe Yogya dengan selamat. Ummi gak usah khawatirin Abi. Doain aja biar Abi cepet pulang ke rumah" saya coba tenangkan istri. Lama sekali tidak terdengar suara di balik telepon. Sunyi. "Ya udah ya Mi, ini pake nomor hape orang lain. Nanti Abi kabari lagi. Assalamualaikum" tutup saya mengakhiri pembicaraan. Huff…semakin beratlah hati saya. Ini bukan pertanda baik saat nanti pulang ke rumah. Sudah terbayangkan pertengkaran hebat yang akan terjadi di rumah nanti.

Usai memberi kabar ke istri, hati sedikit lebih tenang meski sebenarnya menyimpan permasalahan di kemudian hari. "Terima kasih ya Mas" sambil saya kembalikan hape pemuda tersebut. Benteng Vredeburg jadi saksi kebaikan mu Mas… *-*

Usai menelepon, saya kembali menghampiri Pa Iwan dan Mas Asto yang masih asyik menatap lalu lalang jalanan Malioboro. Saya kembali duduk dan membuka bungkusan mie instan yang diberikan Bang Jay saat di kereta tadi. Sambil saya buka, "Mie instannya saya pakai sekarang buat modal nafas saya setelah seharian puasa Mas" ujar saya kepada Mas Asto yang memperhatikan kedua tangan saya membuka bungkusan plastik mie instan. "Oh iya, sampean tadi puasa ya? Saya kira tadi ikut pesan makanan di kereta" jawab Mas Asto. "Nggak lah Mas, sayang puasa saya" jawab saya. Sambil menikmati pecahan mie instan yang sudah saya remuk-remuk, Mas Asto beranjak dari kursi tamannya "Saya penasaran mau tanya-tanya tarif ojek sama tukang ojek di depan" sahut Mas Asto sambil tetap tidak melepaskan pandangan matanya pada sekelompok tukang ojek yang sedang sibuk memperhatikan kerumunan orang dari arah pertokoan Malioboro.

Saya perhatikan Mas Asto mendekati para tukang ojek tersebut dan terlihat berbincang-bincang. Saya dan Pak Iwan duduk dari kursi taman memperhatikan perbincangan Mas Asto dengan tukang ojek. "Kerja dimana Pa?" Tanya saya kepada Pak Iwan yang sedang duduk di depan saya. "XL" jawabnya singkat. "Wah, sudah cuti dong?" Tanya saya kembali. "Sudah, tapi hari kamis besok saya diminta masuk karena ada tugas dinas luar. Tapi nggak tau deh, tergantung nanti sudah pulang atau belum" jawab Pak Iwan. Jleb!!! Tiba-tiba bergetar hati. Waduh, ada yang sudah mau pulang duluan nih. Terbersit kekhawatiran di tinggal teman di perjalanan. Nyali pun sedikit ciut. Mungkinkah saya dapat pulang juga?

Mas Asto nampak sudah selesai berbincang, dan ia pun kembali ke tempat duduk dimana saya dan Pak Iwan sedang asyik berbincang. "Lumayan tuh, kalau kita bisa pinjem motor tukang ojek itu, trus uangnya bagi hasil. Kata tukang ojek tadi, rata-rata mereka bisa membawa pulang uang 60 ribuan tiap malamnya" terang Mas Asto menceritakan hasil investigasinya. "Tapi masalahnya kita nggak bawa SIM" sahut Pak Iwan. "Kalau saya sih bawa…" terang saya. "Lho, emang tadi nggak di kumpulin ke Bang Jay?" tanya Mas Asto. "Nggak Mas, karena saya pikir KTP & SIM nggak mungkin saya jual" timpal saya. "Tapi masa cuma ada satu SIM aja" sahut Pak Iwan. Hmm..memang nggak mungkin ya jika saya sendiri yang mengojek, sementara Pak Iwan dan Mas Asto diam saja.

"Antum ada ide apa Akh?" Tanya Mas Asto kepada saya. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja Mas Asto memanggil saya dengan sapaan "Akh". Mungkin ini yang disebut sehati *-*. Sapaan "Akh" biasa digunakan untuk panggilan ke laki-laki muslim. "Saya belum menentukan apapun. Tapi bisa saja kita jualan minuman jus, makanan ringan, souvenir atau yang lainnya. Kita bisa pinjam barang dari pedagang di sekitar sini" jawab saya. "Antum ada kemampuan apa Akh?" Tanya Mas Asto lagi. "Ya..soal internet, komputer saya juga bisa. Memang kenapa Akh?" Tanya saya ulang. "Saya terpikir untuk menawarkan jasa pembuatan blog atau website buat pedagang-pedagang kecil di sepanjang jalan Malioboro ini. Pak Iwan juga kan orang IT, jadi ngerti juga soal website. Masa dari sepanjang pedagang di Malioboro ini tidak ada pedagang yang minat" sahut Mas Asto.

Hhmm…ide bagus saya pikir. Boleh juga di coba. Saya lihat ada semangat yang besar dari wajah Mas Asto untuk mewujudkan ide ini. Menjadi konsultan website pedagang Malioboro. Dengan tarif konsultasi dan pengerjaan website yang murah, saya yakin ada beberapa toko atau pedagang yang berminat dan kita bisa mendapatkan uang. Namun, sepertinya Pak Iwan memiliki rencana lain. "Akh, ayo kita coba aja cari dulu kantor DPD" sambut Pak Iwan memudarkan rencana saya dan Mas Asto. "Saya juga punya teman kerja di sini, nanti kita bisa cari kerjaan yang bisa dilakukan selama di sini. Atau mentoknya, nanti saya pinjemin uang buat kita pulang ke Jakarta" ujar Pak Iwan kepada kami.

Saya masih belum paham dengan rencana Pak Iwan. Nampaknya Pak Iwan dan Mas Asto memang sudah menyiapkan rencana bersama saat masih dalam perjalanan di kereta tadi. Namun akhirnya Mas Asto mengangguk, tanda menyetujui usulan dari Pak Iwan tadi. Akhirnya mereka bersiap untuk beranjak meninggalkan kursi taman Vredeburg. Saya masih ragu, apa yang akan saya lakukan. "Ayo Akh, mau ikut atau antum mau kemana?" Tanya Mas Asto kepada saya. "Saya ikut kalian aja Pak, sambil saya nanti lihat peluang apa yang bisa saya lakukan" jawab saya.

Akhirnya kami bertiga meninggalkan kursi-kursi taman Benteng Vredeburg yang sudah membatu itu. Kami berjalan menghampiri sekumpulan petugas keamanan yang sedang duduk-duduk di pintu gerbang di dekat kawasan Benteng Vredeburg. Saya tidak jelas mengamati gerbang perkantoran apakah itu. Dari bapak-bapak petugas itu, Mas Asto dan Pak Iwan menanyakan alamat kantor DPD PKS Yogyakarta. Namun jawaban yang disampaikan nampaknya masih belum memuaskan. Nampaknya bapak-bapak petugas itu tidak ada yang mengetahui letak persis lokasi DPD PKS Yogyakarta.

Sesuai kami diberi petunjuk arah lokasi kira-kira gedung DPD PKS Yogyakarta, kami kembali jalan menyisiri pinggir jalanan Benteng Vredeburg, bergerak ke arah timur. Setibanya di belokan jalan Benteng Vredeburg, kami lihat ada Tamara dan Atit, dengan banyak kaos di dalam bungkus plastik, sedang menawarkan kaos kepada orang-orang yang dudul di kursi-kursi taman depan Benteng Vredeburg. "Wah, sudah ada yang mulai action nih Pak" sahut saya kepada Pak Iwan dan Mas Asto yang ikut pula memperhatikan mereka berdua. "Iya nih, sudah pada mulai ngasong ya rupanya…hehehe" celoteh Mas Asto sambil bercanda. Sedikit menghibur dan memberi harapan bagi saya setidaknya, karena dua peserta sudah kembali bekerja untuk mendapatkan ongkos kembali ke Jakarta.

#Vredeburg #Kaos #Ide Bisnis

Hendra Permana
www.pasarterasi.web.id
087782263736