Hari Selasa, 11 Oktober 2011

Hari kedua, dimana kesempatan itu masih ada. Hari dimana setelah hari sebelumnya ketegangan sangat kencang terasa. Saat saya bukakan mata sekitar jam 3.30 subuh, dengan samar terlihat Mas Asto sudah beranjak dari posisi tidurnya, bangun. Dengan mata sayup, saya lihat bayangan orang berjalan menuju arah pintu keluar. Mas Asto saya pikir tanpa curiga untuk melihat dengan jelas. Biarlah. Badan ini masih terasa pegal dan urat-urat pun masih terasa sangat kencang, utamanya di bagian betis.

Beberapa menit kemudian, dengan samar mata terbuka melihat sosok Mas Asto sudah berdiri shalat. Saat itu jam sudah menunjukkan sekitar jam 4 pagi. Segera saya beranjak bangun. Saya lihat Pak Iwan masih tertidur lelap. Saya pun segera beranjak turun menuju tempat wudhu yang berada di lantai satu. Dengan tangan kosong, saya bersihkan mulut, gosok-gosok dan berkumur. Yang penting tidak terlalu bau. Saya pun berwudhu dan segera kembali meninggalkan tempat wudhu yang sangat gelap karena tidak ada lampu penerangan yang jelas.

Saya pun segera tunaikan shalat sunah Tahajud. Dengan hati yang masih dag-dig-dug, tidak tenang memikirkan nasib yang akan terjadi di hari kedua di Yogya. Akankah saya pulang hari itu juga? Atau mungkin besoknya? Atau besoknya lagi, mungkin? Shalat pun benar-benar tidak khusyuk karena kekhawatiran yang sangat besar. Haruskah saya bergantung pada kedua orang itu?

Sekilas saya lihat Pak Iwan sudah mulai beranjak dari tempat tidurnya. Namun saya tetap tidak beranjak dari posisi duduk sambil berzikir. Zikir kosong, karena hati dan pikiran saya terbang ke luar sana mencari pertolongan, yang harus saya lakukan dua jam kemudian, meski bibir tetap komat kamit melafadkan bacaan doa. Hingga akhirnya Pak Iwan kembali berdiri di sebelah saya, menunaikan shalat.

Hingga akhirnya masjid terang benderang, lampu-lampu dinyalakan. Saat saya tengok, ada seorang bapak tua sedang menekan tombol lampu-lampu masjid, berpakaian rapi, berpeci. Nampak seperti seorang penjaga masjid, saya pikir. Jam pun berputar hingga sekitar 4.40 WIT. Adzan subuh berkumandang.

Kumandang adzan seakan membawa pikiran semakin galau sekaligus pasrah pada sang Maha Pencipta. Akan kemana saya hari itu? Apa yang akan saya lakukan? Mungkinkah saya dapat kembali pulang?

Tak lama setelah adzan, banyak bapak-bapak mulai berdatangan. Cukup banyak juga saya lihat untuk ukuran masjid walikota. Dari lebar masjid yang cukup luas, ada sekitar 2 baris yang terisi jamaah shalat subuh. Kami pun semua shalat.

Selesai shalat, saya langsung berdoa. Berdoa dengan harap-harap cemas dengan nasib saya selama di Yogya ini. Hanya satu yang terucap, "Ya Allah, tolong hamba. Apa yang harus Hamba lakukan!!". Selesai shalat, saya tengok kanan kiri mencari Pak Iwan dan Mas Asto. Oh, ternyata mereka masih belum beranjak dari tempat shalat. Saya lihat ada dua orang bapak tua yang masih berada di dalam masjid. Saya pun kembali larut dalam dzikir.

Saya lihat ada satu bapak tua sedang duduk-duduk santai sambil memperhatikan satu lagi bapak tua yang sedang membersihkan masjid. Saya lihat Mas Asto mendekati bapak tua yang sedang duduk santai mengawasi satu lagi bapak tua yang sedang membersihkan masjid. Saya lihat Mas Asto mengajak ngobrol bapak tua yang duduk tersebut.

Sekitar jam 5.15 subuh, saya beranjak dari tempat shalat dan keluar dari ruang shalat masjid yang berada di lantai 2 bangunan masjid walikota tersebut. Saya dekati pagar bangunan masjid lantai 2, saya lihat jalanan sepanjang masjid yang masih sangat sepi dan gelap. Cukup sepi untuk mematikan rasa kekhawatiran saya saat itu.

Tak selang lama saya diluar, saya kembali masuk ke ruang masjid dan sedikit ragu, akhirnya saya dekati Mas Asto yang masih ngobrol dengan asyiknya dengan bapak tua tersebut. Saya ikut duduk bergabung dan hanya mendengarkan saja percakapan dalam bahasa jawa diantara mereka. Karena memang saya nggak ngerti.

Dari pembicaraan yang saya kurang mengerti bahasanya itu, Mas Asto bilang bahwa bapak tua ini menyarankan kita bertiga untuk lapor ke badan amil zakat yang kantornya di bawah ruang masjid ini dan minta ongkos untuk pulang ke Jakarta. Namun kita bertiga sudah sepakat dan bilang dengan santun -meski agak ragu- "Tidak, kami diterlantarkan di Yogya ini untuk mencari usaha agar dapat uang untuk ongkos pulang ke Jakarta, bukan mendapat uang dengan meminta"….hehe..sekilas sih terlihat pede banget ya kita bisa pulang, walaupun hati tidak yakin…

Melihat keteguhan kami yang bersikeras tetap tidak akan meminta ongkos pulang ke Polisi atau Badan Amil Zakat, akhirnya bapak tua itu menyarankan kami untuk ketemu dengan ibu walikota Jogja, yang akan mengisi pengajian rutin jam 8 pagi nanti. Bapak itu cerita bahwa Ibu Walikota punya banyak usaha dan nanti kita bisa minta pekerjaan dengan upah agar bisa pulang ke Jakarta….

Hhmm..hati saya sedikit berbunga dan senang. Rasanya beban sedikit hilang berharap pertemuan nanti dengan Ibu Walikota jadi solusi. Nampak pula wajah yang sumringah pada Mas Asto dan Pak Iwan yang baru ikut bergabung duduk setelah mandi dari toilet di lantai bawah. Yuuhuuu….. ^-^