Selasa, 11 Oktober 2012 pagi

"Baiklah Pak, nanti kita mau ketemu saja dengan Ibu Walikota, semoga saja nanti kita bisa dapat pekerjaan dan dapat upah untuk ongkos pulang ke Jakarta" demikian kami sampaikan kepada bapak tua tersebut. "Iya, coba saja temui Ibu Wali, kalau bisa sebelum pengajian dimulai. Janjiam saja dulu. Nanti ngobrolnya lanjut kalau Bu Wali sudah selesai. Bu Wali orangnya baik kok, pasti nanti dia bisa bantu.." si bapak cukup meyakinkan kami. Mungkinkah ini jalan keluar yang sudah Allah siapkan untuk kami. Kalau tidak salah, Mas Asto bilang bahwa bapak tua itu ketua DKM, namun saya lupa namanya.

Setelah itu, saya beranjak keluar meninggalkan Mas Asto dan Pak Iwan yang masih ngobrol dengan bapak tua itu. Saya pergi ke lantai bawah, ke toilet. Sebelumnya saya minta ijin ke Pak Iwan untuk meminjam sabun mandi miliknya. "Masih di bawah Akh, pakai kamar mandinya yang sebelah kanan, lampunya nyala". Saya mandi setelah 24 jam sebelumnya melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Pakai sabun, byur-byur, selesai! Tidak ada gosok gigi, tidak ada handuk, dan pakai pakaian yang sama. Agak lengket dan bau sih pakaiannya, tapi tak masalah lah, namanya juga darurat!

Selesai mandi, saya naik lagi ke atas. Duduk sambil menyenderkan punggung di dinding masjid, melihat bapak tua yang sedang membereskan ruangan masjid untuk acara pengajian Ibu Walikota jam 8 nanti. Saya juga sempat ngobrol dengan Pak Iwan soal aktivitas sehari-hari kita.

Waktu terus berjalan, berharap semakin cepat hingga jam 8 pagi. Saya manfaatkan waktu dengan shalat dhuha dan berdoa, semoga pertemuan nanti dengan Ibu Walikota menjadi solusi perjalanan saya di Jogja. Berharap semoga nanti saya bisa nambah jaringan usaha dengan Ibu Walikota. Semoga ini jadi jalan rejeki saya menjadi pengusaha.

Jam 7.30 pagi sudah ada 1 perempuan berumur, berpakaian rapi dan necis. Nampak seperti ibu-ibu keren perkotaan yang pergi arisan. Sepertinya sih peserta pengajian dengan Ibu Wali. "Akh, coba cari info lengkap soal Ibu Wali dan acara pengajian pagi ini" kata Pak Iwan kepada saya. "Iya deh, ntar saya samperin ibu-ibu itu ya" jawab saya.

Saya menduga, setidaknya peserta ibu-ibu pengajian dengan Ibu Walikota ini adalah ibu-ibu pejabat atau setidaknya punya usaha. Ah, semoga saja mereka juga bisa kasih kita pekerjaan. Meski kurang PD (percaya diri) karena pakaian saya kusut karena pakaian dari kemarin dan dipakai tidur juga, nggak pakai parfum…ya sudah lah, ikhtiar harus tetap berjalan🙂

Saya bukan tipe orang yang komunikatif dan atraktif, sehingga obrolan saya dengan perempuan yang nampak sedang menunggu di pelatran masjid itu juga tidak berlangsung lama. Saya hanya tahu bahwa : pagi ini ada pengajian bareng Ibu Walikota, mulai jam 8 pagi. Thats it!

Mulai nampak berdatangan ibu-ibu yang menaiki ruang masjid di lantai 2 tempat kami menunggu. Akhirnya kami pun keluar ruang masjid. Nampak di luar masjid, yang memang ternyata sudah banyak orang-orang berpakaian PNS berdatangan, dengan motor, berjalan kaki atau yang menggunakan mobil. Saya tidak ingat bahwa jam sudah menunjukkan angka 8 dan ini adalah hari kerja.

Akhirnya kami turun dari ruang masjid. Kami gunakan kembali sepatu kami. Nampak seperti orang bingung, kami ke sana ke mari sambil menunggu kedatangan Bu Wali. Belum nampak ada pengawalan motor patroli yang datang dengan mobil sedan nan mewah, seperti biasanya pejabat yang datang. Apakah Bu Wali belum datang ya?

Sambil menunggu Bu Wali datang, kami sempatkan datang ke kantor Badan Amil Zakat yang berada di lantai 1 bangunan masjid. Di sana baru ada 1 orang karyawan yang datang. Di sana, dengan ramah karyawan berseragam PNS itu menanyakan keperluan kami datang. Setelah tahu bahwa kami datang ke Jogja dalam rangka ikut pelatihan bisnis, namun di tengah perjalanan semua barang termasuk dompet kami diambil pelatih bisnis kami, maka kami di Jogja tidak membawa bekal apa-apa, akhirnya perempuan karyawan PNS itu menawarkan kami uang untuk ongkos pulang ke Jakarta.

Ah, nggak lah saya pikir. Sudah jauh saya di terlantarkan di Jogja, dengan tujuan survival, bertahan hidup, kalau dapat uang dengan cara gampang saya ga usah pusing dan bingung. Itu sih gampang. Dan nyatanya tidak ada satu pun dari kami bertiga yang mengiyakan tawaran ongkos pulang dari petugas Badan Amil Zakat tersebut.

Nampaknya nihil. Dari kantor Badan Amil Zakat tersebut, kami tidak menemukan pertolongan yang memberdayakan. Padahal yang kami perlukan saat itu bukan "ikan", tapi "kail" untuk mencari "ikan" sehingga kami mendapatkan uang dengan hasil keringat kami sendiri.

Akhirnya kami keluar dan dengan perasaan harap, kami masih menunggu kehadiran Ibu Walikota di depan tangga masjid lantai 2 yang sudah nampak banyak sekali ibu-ibu yang berpakaian rapi. Karena diantara kami pun tidak ada yang mengenali wajah Ibu Walikota, akhirnya saya berinisiatif untuk naik ke atas, menghampiri ibu-ibu yang sedang menunggu di meja penerima tamu. Di sana saya tanyakan kehadiran Ibu Walikota. "Maaf Mas, saya juga nggak tau pasti Ibu Walikotanya datang atau nggak hari ini. Biasanya sih memang beliau suka ikut pengajian ini, tapi kalau hari ini saya nggak tau ya, beliau dateng atau nggak…" itu jawaban yang saya dapat dari seorang ibu yang sedang duduk di meja penerima tamu.

Waktu sudah menunjukkan jam 8.30 saat saya lihat jam di dalam masjid. Saya pun segera turun dan sampaikan info soal ketidakpastian kehadiran Ibu Walikota. "Daripada kita menunggu yang tak pasti, lebih baik kita pergi saja yuk" ajak saya pada Mas Asto dan Pak Iwan yang di amini bersama.

Kami masih terus berjalan di dalam komplek perkantoran Walikota Jogjakarta. Sambil terus berpikir, "apa ya yang bisa saya lakukan di Kota Gudeg ini" saya melihat Kantor Perpustakaan Daerah dan kantor dinas lainnya, berharap terbersit ide dari apa yang saya lihat tadi.

Lewat depan kantor Dinas Informasi, Pak Iwan mengajak kami masuk guna mencari infomasi bisnis atau apapun yang bisa kita lakukan di Jogja. Akhirnya kami semua masuk ke dalam kantor, yang suasananya masih sepi. Jam dinding di tembok ruangan itu sudah menunjukkan angka 9.

Disana kami menjelaskan kembali soal tujuan kami ke Jogja. Kami pun di bantu dengan sangat baik disana. Bahkan Pak Iwan diijinkan untuk menggunakan telepon untuk menghubungi teman beliau yang bekerja di kantor komunikasi di daerah Taman Siswa. Dan juga saat kami menanyakan usaha bisnis apa yang dapat kami lakukan di Kota Jogja ini, dua karyawan PNS disana cukup sibuk mencarikan data meski hasilnya "maaf mas, nggak ada info. Kalau mas butuh ongkos, bisa minta ke Badan Amil saja di sana".

Setelah Pak Iwan berhasil menelepon kantor temannya, kami pamit meninggalkan ruangan. Kami pun lanjut berjalan pelan hingga akhirnya melewati Dinas Perdagangan, saya bilang ke Pak Iwan dan Mas Asto "bagaimana kalau kita cari info soal UKM di Dinas Perdagangan. Barangkali ada info usaha yang bisa kita jadikan bisnis jangka panjang?" Mas Asto pun mengiyakan dan kami bertiga masuk ke kantot Dinas Perdagangan tersebut.

Memasuki pintu masuk yang dijaga meja resepsionis yang belum ada petugasnya, saya lihat ada tanda panah bertulis "Lantai 3….(maaf saya lupa tulisannya apa)" yang pasti biro yang memiliki info soal UKM dan direktori usaha. Tiba di lantai 3, hanya ada 2 orang yang sedang duduk di meja. Saat saya hampiri dan sampaikan bahwa kami meminta data UKM di sekitaran Kota Jogja, salah satu karyawan bilang bahwa bapak yang memiliki data tersebut sedang rapat beserta karyawan lainnya seruangan tersebut. Memang seisi ruangan besar tersebut lengang, bertambah lengang setelah dua karyawan tadi ikut keluar sembari mempersilahkan kami untuk menunggu hingga rapat selesai.

"Kita lanjut saja ya Akh, karena kita juga tidak tahu sampai jam berapa rapatnya selesai. Kita manfaatkan waktu untuk yang lain" ajak saya kepada Mas Asto dan Pak Iwan yang saling melihat satu sama lain. Akhirnya kami semua menuruni lantai 3 Dinas Perdagangan yang sepi itu, keluar dan menjauhi perkantoran Walikota Jogjakarta.

Disepanjang jalan, saya meratapi kejadian sejak pagi tadi. Mulai dari harapan bertemu Ibu Walikota, yang diharapkan jadi jawaban dari petualangan ini, namun nihil. Ke Badan Amil Zakat, Dinas Informasi, Dinas Perdagangan…namun semua tak sesuai harapan. Haruskah saya meminta bantuan Pak Polisi untuk ongkos pulang ke Jakarta?

Kami semua terus berjalan. Seiring waktu saya merasa kaku karena sejauh ini hanya mengikuti kedua teman saya ini. Terkadang ada pikiran untuk berpisah dari kedua teman saya ini, karena terbersit perasaan malu karena tidak punya tujuan dan berlindung di kedua teman saya ini. Tapi tidak lah, saya akan tetap melangkah juga ke kantor DPD PKS, meskipun Pak Iwan dan Mas Asto sudah ada rencana untuk menemui teman Pak Iwan yang bekerja di Jogja. Saya merasa saat bertemu dengan pengurus DPD PKS, setidaknya pikiran saya sedikit lebih tenang.

Saya tidak ingat jelas kemana kami melangkah, yang pasti kami menuju kantor DPD PKS yang sudah ditunjuki arah oleh salah satu pegawai PNS yang kami tanyai disekitar komplek Walikota. Jaraknya sangat jauh sekali saat itu. Sesekali kami beristirahat di pinggir jalan, duduk di tempat yang menurut kami nyaman meskipun kotor dengan debu. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah gedung di sebelah kiri jalan, berwarna putih dan cukup tinggi karena ada tangga yang harus dinaiki saat memasuki gedung bertulis "DPD Partai Keadilan Sejahtera".

Saat itu jam menunjukkan angka 11. Kami baru sadar telah berjalan cukup lama, selama 2 jam sejak meninggalkan perkantoran walikota. Di kantor yang cukup sepi itu, kami ditemui oleh seorang pemuda yang memiliki khas sebagaimana kader PKS lainnya, berjanggut tipis, dengan dahi hitam, berwajah bersih.

Akhirnya kami dapat kembali duduk di sofa yang empuk setelah keluar dari kereta eksekutif Argo Bima. Pemuda di DPD PKS tersebut mengajak kami ngobrol santai, menyuguhi kami air minum, mempersilahkan kami untuk ke toilet, atau sekedar beristirahat. Sangat nyaman, seakan kami menemukan kembali kehidupan kami sesungguhnya. Bahkan kami pun dipersilahkan menggunakan semua sarana yang ada di kantor tersebut, termasuk internet dan komputer.

Alhamdulilah..perjalanan yang melelahkan..

#sekolahMonyet #walikota #jogja #PKS