Selasa, 11 Oktober 2011 siang

Disana saya dapat istirahat dengan lebih nyaman. Sesekali saya menghampiri Pak Iwan yang sedang menggunakan komputer berinternet milik kantor DPD PKS. Saya lihat beliau membuka FaceBook, meng-update status "teman2 yang akan menitip oleh2 Jogja, silahkan kirim dulu uangnya ke rekening saya". Wah, rupanya Pak Iwan menjual oleh-oleh dari Jogja untuk teman-temannya di Jakarta dengan syarat : uangnya di transfer terlebih dahulu.

Deg!! Saya harus melakukan apa ya? Melakukan hal yang sama, saya tidak cukup yakin teman-teman saya mau titip karena rumah teman-teman saya sangat jauh. Tawarin ke teman kantor, bukan ide yang bagus. Minta tolong tawarin ke istri di rumah, mana mungkin dia mau bantu. Istri sendiri sedang marah-marah dengan saya.

Saya lihat Pak Iwan juga sedang sibuk chatting di YM! dengan teman-temannya. Wah, nampaknya beliau sukses nih melewati ujian di Jogja. Saya?? Daripada bertambah demotivasi, saya pun kembali ke sofa, disana ada Mas Asto sedang bicara dengan pemuda kader PKS. Sesekali saya meminta air minum dingin di dapur belakang kantor DPD.

Dari pembicaraan Mas Asto dengan kader PKS tersebut, ada informasi bahwa salah satu kader PKS ada yang memiliki lembaga pemberdayaan UKM, lokasinya tak jauh dari Kantor DPD. Bahkan pemuda itu menawarkan bantuan untuk mengantar kami ke kantor tersebut. Mas Asto sudah mengamini tawaran tersebut dan mengatakan kepada saya, siapa tahu ada kerjasama yang bisa kita lakukan bersama kantor pemberdayaan UKM tersebut.

Saya pun ikut mengamini. Setidaknya saya sudah ada rencana yang akan dilakukan untuk mendapatkan uang ongkos pulang ke Jakarta. Akhirnya pikiran saya sedikit tenang meski tidak terlalu yakin dengan hasil yang akan diperoleh saat pergi ke lembaga UKM tersebut, karena masih ada kemungkinan keesokan malamnya nanti saya mungkin akan meng-gelandang lagi bila hasilnya kembali nihil.

Sambil istirahat, saya dan Mas Asto menghampiri Pak Iwan yang masih serius membuka FB dan chatting soal jualannya. Saat itu perasaan saya masih belum tenang, karena semuanya masih belum pasti. Ya Allah, tolong tunjukkan jalan keluar dari petualangan saya ini…

Hingga akhirnya jam menunjukkan angka 11.50. Tak lama kemudian kumandang adzan terdengar sangat jelas datang dari belakang gedung DPD PKS. Seorang pemuda di gedung itu mengajak kami untuk melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, sambil menunjukkan bahwa masjidnya ada di belakang gedung ini.

Akhirnya Mas Asto mengajak kami semua sambil mengingatkan bahwa setelah shalat dzuhur nanti, kita masih ada rencana pergi ke kantor pemberdayaan UKM milik kader PKS tadi. Akhirnya kami semua pergi ke masjid yang ada di belakang gedung.

Dalam doa, tak henti saya panjatkan harapan agar Allah berikan jalan keluar dari perjalanan kami ini, agar kami dapat segera pulang ke rumah kami masing-masing dengan selamat. Dan shalat dzuhur pun selesai. Kami semua segera kembali ke dalam kantor DPD.

Tenyata di sofa, tempat kami duduk tadi telah ada 2 orang yang nampak sedang menunggu juga. 2 orang yang sudah berumur, 1 orang sekitar usia 40 an, dan 1 orang lagi sudah cukup tua, sekitar 50 an, dengan peci putih, berjanggut putih, terlihat seperti seorang ulama besar.

Akhirnya kita duduk bersama. Sebagai sama-sama tamu, kita sendiri orang asing, maka kita pun duduk rapi, menghormati tamu yang lebih tua. "Assalamualaikum, mas-mas ini mau ketemu siapa?" Sapa bapak tua yang mirip ulama itu menyapa kami terlebih dahulu. Wah, nampaknya bapak ini orang kader juga nih, kok tau kami orang asing? Pikir saya dalam hati. Akhirnya kami bicara dan jelaskan maksud kedatangan kami.

Saat ada pemuda petugas DPD menghampiri kami semua dan menanyakan tujuan kedatangan dua orang tua itu, pemuda petugas DPD mengatakan bahwa orang yang akan ditemui tidak ada di DPD. Akhirnya bapak ulama itu menitipkan sebuah proposal untuk disampaikan ke orang yang akan ditemui bapak ulama tersebut.

Kemudian bapak ulama itu kembali menanyakan kepada kami bertiga "terus, tenaga apa yang akan mas-mas ini tawarkan kepada saya? Karena saya juga tidak bisa berikan uang untuk ongkos pulang ke Jakarta, tapi saya punya pesantren, ada jualan buku, yang bisa kalian manfaatkan. Atau mungkin sebagai upahnya nanti kita bareng saja pergi ke Jakarta, karena saya dan teman saya ini juga ada rencana pergi ke Jakarta hari kamis besok"

Jreng! Seakan menemukan secercah cahaya di lorong yang gelap gulita, saya sangat senang sekali. Saya langsung mengiyakan saja tawaran bapak ulama tersebut sambil melihat ke Mas Asto dan Pak Iwan, berharap mengamini tawaran tersebut. Namun Mas Asto nampak bingung saat saya pastikan ke mereka apakah akan ikut tawaran bapak ulama tersebut yang kami ketahui namanya sebagai ustad Natsir, karena saya sampaikan ke Mas Asto dan Pak Iwan bahwa kita ada peluang besar untuk dapat pulang ke Jakarta dan juga siapa tahu nanti akan ada peluang lain yang bisa kita kerjasamakan di pesantren milik ustad Natsir tersebut.

Saat Ustad Natsir dan temannya akan beranjak pergi, beliau memastikan kepada kami bertiga apakah akan ikut bersama beliau atau tidak. Jika iya, kami dipersilahkan untuk membawa sekalian tas kami ke dalam mobil beliau karena beliau sedang buru-buru, ada ikan koi di dalam mobil beliau sehingga takut keburu mati kepanasan.

Saya yang saat itu memang tidak membawa apa-apa, segera beranjak mengikuti Ustad Natsir dan temannya yang sudah beranjak dari tempat duduk. Mas Asto dan Pak Iwan yang nampak bingung dengan rencananya untuk pergi ke kantor kader PKS yang memiliki lembaga pemberdayaan UKM. Namun saya coba yakinkan pada Mas Asto dan Pak Iwan bahwa ada harapan besar untuk kita dapat kembali ke Jakarta melalui pertolongan Ustad Natsir ini. Selain itu, di pesantrennya nanti banyak hal yang bisa kita lakukan, setidaknya kita punya tempat beristirahat yang lebih baik untuk berpikir tenang.

"Ayo Akh, kita langsung saja bawa tas. Khawatirnya kita tidak bisa ke sini lagi" kata saya saat Mas Asto dan Pak Iwan diskusi soal kemungkinan mereka untuk kembali ke kantor DPD atau tidak. "Ayo, cepat Akh, Pak Ustadnya sudah ke mobil, dia nggak bisa nunggu lama karena ada ikan koi di mobilnya" desak saya sambil berjalan terlebih dahulu khawatir pak ustad menunggu kita terlalu lama.

Hingga akhirnya Mas Asto dan Pak Iwan membawa semua barang bawaan mereka ke mobil pak ustad. Kami pun memasuki mobil Panther berwarna gelap tersebut di kursi tengah. Saat mobil mulai melaju, pikiran saya kembali melayang, mempertanyakan akan dibawakah kemana lagi saya? Dan semakin jauhlah saya dari Stasiun Tugu, tempat kami menginjakkan kaki pertama kali di Jogja. Mungkinkah saya dapat kembali pulang?

Selama perjalanan, Ustad Natsir yang duduk di kursi sebelah temannya yang menyetiri mobil, bertanya kepada kami lebih banyak soal aktivitas rutin kami di Jakarta. Beliau pun cerita tujuannya tadi datang ke kantor DPD. Bahwa beliau sedang ada kerjasama bisnis dengan salah seorang anggota dewan dari partai PKS dalam proyek perumahan. Pak Ustad pun menawarkan kerjasama memasarkan perumahan tersebut kepada kami. Sejauh saat itu, kami hanya mengangguk, mengiyakan semua tawaran pak ustad.

Diperjalanan kami bertiga sempat diajak makan siang terlebih dahulu di sebuah tempat makan yang cukup besar. Saya tidak tahu ada di daerah mana. Namun yang pasti, pemilik tempat makan gudeg jogja itu salah seorang teman pak ustad, yang memiliki usaha rental mobil juga. Itulah pertama kalinya semenjak saya buka puasa kemarin magrib, baru bisa makan enak lagi, walaupun saya tidak terlalu suka dengan sayuran.

Setelah makan siang, kami semua melanjutkan perjalanan dan akhirnya tibalah kami di sebuah tempat di pinggiran jalan ring road Magelang, dekat RSUD Sleman. Saat itu kami tahu bahwa kami trlah tiba di kediaman ustad Natsir, yakni lingkungan Pesantren Al Hadi.

Seketika pikiran saya bingung, terdampar kemana lagi saya ini? Dari Stasiun Tugu, ke Malioboro, menginap di Masjid Walikota, berjalan kaki entah kemana, ketemu dengan orang asing dipanggil ustad Natsir, dan sekarang terdampar di suatu pelosok tempat yang disebut Pesantren Al Hadi. Namun pesantren apa ini??? Tidak ada keramaian aktivitas atau santri yang lalu lalang. Hanya pekarangan rumah yang sepi sunyi, dengan masjid yang belum selesai di bangun.

Semuanya masih tanda tanya. Sementara waktu terus berjalan. Terbayang disaat teman sekolah monyet lainnya sedang sibuk mengumpulkan pundi rupiah untuk ongkos pulang, kami bertiga malah dibawa kesuatu tempat yang asing. Sementara di Jakarta sana, ada anak istri yang kebingungan dan ada atasan kantor yang sama bingungnya juga mencari tahu keberadaan saya saat ini….

Oh My God!!! Ada apa lagi ini….

#Sleman #alHadi #Ustad