Hari Selasa, 11 Oktober 2011 sore

Saat itu saya hanya berpikir, kita hadapi saja semua ini mesti semua masih misteri. Setibanya di sana, kami semua diajak mendekati masjid yang belum selesai pembangunannya itu. Dari selasar masjid, kami diajak melihat keadaan sekeliling yang memang terlihat lebih jelas karena bangunan masjid itu lebih tinggi dari semuanya.

Ada kolam-kolam ikan yang dipenuhi air. Ada sekitar 5 atau 6 kolam termasuk satu kolam besar yang belum selesai dibuat, tepat berada di samping rumah besar kediaman Ustad Natsir. Pepohonan tinggi yang merimbuni komplek pesantren itu membuat teduh. Memang terlihat agak tidak terurus karena sampah daun yang berserakan serta banyak bercakan semen dan pasir dimana-mana sisa pembangunan masjid dan kolam yang tidak dirapikan.

"Beginilah kondisi saat ini pesantren Al Hadi. Ada banyak kelas pesantren yang sudah lama tidak terisi. Juga pembangunan masjid yang belum selesai pasca gempa Jogja tahun kemarin." Saya tidak tanya persis tahun kemarin itu kapan, apakah gempa jogja tahun 2006 atau tahun-tahun kemarin. Kondisi masjid saat itu masih belum di plester di sana sini. Bagian dalam masjid pun hanya di plester semen dengan dialasi karpet hijau tipis.

Kami bertiga memandangi setiap sudut bangunan masjid dan sekitar bangunan rumah. Sambil duduk di atas tumpukan kayu di selasar masjid, saya buka sepatu dan mengistirahatkan alas kaki yang sudah pegal berjalan kaki hampir 2 jam. "Ayo, kita naik ke atas. Ada kamar kosong yang bisa kalian pakai tidur. Tapi terserah kalian, mau tidur di masjid atau di kamar atas. Tapi kalau tidur di masjid nanti kedinginan." Ustad Natsir memberi kami pilihan.

Akhirnya kami memilih tidur di kamar atas sembari beranjak mengikuti Ustad Natsir berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak sekitar 20 meteran dari masjid. "O iya, saya bingung ngasih kalian kerjaan apa ya? Tapi saya punya komputer yang rusak, mungkin kotor atau banyak virusnya. Saya minta tolong kalian perbaiki. Saya juga punya proposal pembangunan masjid Al Hadi yang belum dikerjakan, nanti kalian bisa kerjakan. Saya juga punya bisnis ikan koi yang bisa kalian kembangkan. Saya juga punya buku yang bisa kalian jualkan."

Kami dipersilahkan untuk mengerjakan apapun. Terserah kami. "Tapi mungkin saya tidak bisa kasih kalian uang cash saat ini, karena sayansedang tidak punya uang. Tapi mungkin nanti kalian bisa ikut saya berangkat ke Jakarta sebagai ganti upah kalian." Miris, sedih dan bingung. Karena ternyata dari tadi sepanjang perjalanan di mobil Ustad Natsir bilang bahwa dia tidak punya uang cash untuk membayar kami, ternyata dia ucapkan lagi.

Apakah memang benar beliau tidak punya uang untuk membayar kami? Apakah ini hanya perpeloncoan, memanfaatkan kami untuk membantu secara sosial untuk sebuah pesantren yang sudah lama mati? Lantas jika memang tidak uang, kenapa beliau berani mengajak kami ke sini? Terus bagaimana? Ah..semakin bingung saja saya….terlebih saat beliau bilang, "tapi kalau kalian mau pergi dari sini, mencari usaha yang lain, yang sesuai…saya juga tidak bisa memaksa kalian tinggal di sini…" Hah!! Untuk kesekian kali, saya harus menghela nafas untuk dapat tetap berpikir tenang….

Hingga akhirnya adzan Ashar berkumandang…

#AlHadi #Sleman #Triharjo