Ada yang menarik dari silaturahmi hari ini. Singkat cerita, saya dan anak istri main ke rumah salah seorang sahabat istri dari jaman kuliah. Dan ternyata suaminya teman tersebut seorang pedagang yang sudah 2 tahun dagang ikan asin di Pasar Baru Bekasi.

Menarik karena meski kita sama-sama pedagang ikan asin, tapi model bisnis kita yang membedakan. Dia menjalankan dagang ikan asin ini dengan bantuan dan bimbingan dari kakak iparnya yang sudah lebih lama berdagang ikan asin di Pasar Baru Bekasi. Dengan modal yang cukup banyak, puluhan juta, dia membeli lapak kakak iparnya dulu berjualan.

Kita saling berbagi pengalaman berdagang. Saya yang baru berjualan ikan asin selama 11 bulan, tentu kalah makan asam garam ikan asin dibanding dia yang sudah 2 tahun berjualan. Dari pengalaman dia, saya mendapat banyak cerita menarik tentang suka duka bisnis retail ikan asin di pasar tradisional.

Model bisnis yang berbeda, saya jualan grosir atau bahasa kerennya “B to B”, sementara dia jualan retail atau bahasa kerennya “B to C”, Business to Costumer, atau berjualan langsung ke konsumen dengan cara ngecer. Sehingga pengalaman kami pun di lapangan sangat berbeda. Hingga kami pun mengetahui ada istilah “uang induk” dalam perdagangan di pasar seperti itu.

“Uang Induk” yang dimaksud adalah uang yang kita terima pembayaran dari pembeli kita, namun secara “magic” uang dari pembeli itu hilang, seolah kembali lagi ke pemiliknya (pembeli tadi) dan hilangnya pun dengan membawa “anak-anak” nya. Contoh, ada pembeli kita memberi uang 100 ribu, sementara transaksinya hanya 50 ribu. Maka kembalian uang si pembeli itu 50 ribu.

Kembaliannya (oleh si pembeli) di terima, barang belanjaan si pembeli pun diambil (karena memang sudah transaksi), tapi ternyata setelah uang si pembeli itu masuk ke dalam petty cash dagangan kita, maka misal saat dagangan kita akan tutup, dan kita hitung ulang semua uang kita, maka pasti uang 100 ribu yang diberikan pembeli kita tadi akan hilang beserta uang 100 ribuan lainnya yang ada di petty cash kita. Hilang dalam artian, perkiraan total uang dagangan yang kita terima meleset (berkurang) akibat adanya “uang induk” tadi.

Percaya tidak percaya, itulah yang menjadi salah satu kepercayaan yang sudah dianggap lumrah terjadi oleh pedagang-pedagang di pasar. Selain ada juga kejadian-kejadian “magic” lainnya seperti adanya daging bangkai di lapak kita, tipu menipu, hipnotis, dan lain-lain.

Oleh karena itulah, kami pun teringat bahwa ada doa masuk pasar yang sering di contohkan para Nabi ” Laa Ilaaha Illallaahu wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu, Yuhyii, Wayumiitu, Wahuwa Hayyun Laa Yamuutu, Biyadihil Khairu, Wahuwa ‘alaa Kulli Syai-in Qadiir

Ada apa dengan pasar? Kenapa secara khusus ada doanya tersendiri saat memasuki pasar? Sebagaimana penjelasannya berikut : “Jika engkau bisa, janganlah menjadi orang yang pertama masuk pasar dan terakhir keluar darinya. Karena pasar merupakan medan pertempuran syetan dan di sanalah ia menancapkan benderanya.” (HR. Muslim)

Karena apapun bisnisnya, senantiasa syetan itu menggoda manusia sekalipun di pasar online.🙂