Selasa, 11 Oktober 2011 sore

Masih dengan perasaan bimbang, kami diajak menapaki anak tangga semen tanpa plester rumah beliau menuju kamar atas yang beliau katakan sebagai kamar tamu, dimana jika ada tamu beliau persilahkan untuk menginap di sana.

Kami bereskan kamar yang penuh debu di sana sini. "Kamarnya penuh debu, debu dari gunung Merapi. Rumah ini berada di kaki gunung Merapi, sehingga debunya seringkali terbang ke sini." Ujar Pak Ustad. Setelah ditunjukkan kamar yang akan kami tempati, Pak Ustad juga mengajak kami ke bawah, tepatnya ke kamar beliau. "Ayo kita ambil komputer saya yang rusak, ada di kamar bawah. Komputer saya ini sudah lama tidak bisa di nyalakan, entah karena banyak virus atau berdebu. Kalian bisa kan perbaiki?" Tanya Pak Ustad.

"Kita semua mengerti soal komputer kok pa ustad" jawab saya. Kami pun beranjak ke bawah. Kami bawa ke atas lagi, ke kamar atas. Di sana kami bongkar komputer desktop pentium 4 itu dengan obeng yang sudah disediakan. Pak Ustad juga membawakan kami proposal pembangunan masjid yang pernah beliau buat saat pembangunan pertama masjid Al Hadi.

Tak lama kami membongkar komputer, sambil duduk-duduk di atas kasur, tidur terlentang, saling bergantian memperhatikan komputer yang sedang diperbaiki, saya, Mas Asto dan Pak Iwan berusaha melepas lelah. Dalam santai, kami saling menceritakan kembali dengan kejadian-kejadian yang telah kami lalui bersama 2 hari terakhir.

Tiba-tiba adzan Ashar berkumandang terdengar sayup dari kejauhan. Tak lama kemudian suara adzan terdengar dari masjid pesantren. Suara Pak Ustad terdengar jelas. Kami pun beranjak turun dari kamar, mendatangi masjid yang tak jauh dari kami. Kami pun menunaikan shalat Ashar berjamaah.

Selesai shalat Ashar, Pak Ustad yang menjadi imam, membalikkan badan seraya memberitahukan bahwa selesai shalat Magrib nanti, kita akan mengaji bersama. "Silahkan kalian beristirahat, atau mau memperbaiki komputer atau mau membuatkan proposal saya, terserah. Nanti kita makan bersama ya di bawah" sambung Pak Ustad.

Kami pun kembali ke kamar atas. Saya lebih banyak memperhatikan Pak Iwan yang sedang serius memperbaiki komputer. Pak Iwan memang punya latar belakang pendidikan IT. Sementara saya hanya sekedar hobi saja. Sementara Mas Asto lebih asyik duduk memperhatikan sembari bilang "untungnya hape Esia saya nggak ikut di rampas sama Bang Jay" sembari mengeluarkan handphone CDMA dari tasnya.

Reaksi saya saat itu biasa saja, tidak terkejut. Karena tiba-tiba saja, disaat rasa aman mendapat tempat istirahat yang lebih baik, kekhawatiran akan kondisi anak istri dan orang di kantor semakin menjadi. Sudah satu hari lebih saya meninggalkan anak istri dan orang di kantor tanpa berita yang jelas. Kemana saya pergi, kapan saya akan kembali, semua masih tanda tanya besar, dengan jawaban yang tidak kunjung datang. Kapankah ini berakhir?

Melihat Mas Asto mengeluarkan hape, saya terpikir untuk segera menghubungi atasan saya di kantor. Pa Ulung, begitu saya memanggilnya. Setelah saya mendapat ijin menggunakan hape Mas Asto, kemudian saya hanya mengirim SMS yang berisi bahwa saya sedang ada di Jogja untuk urusan pribadi. Saya sedang ikut pelatihan bisnis.

Saya pun mengirim SMS yang kedua. Kali ini saya hubungi istri saya di rumah. "Say, Abi masih di Jogja. Abi dlm kondisi sehat. Doain Abi biar cepet pulang" kurang lebih seperti itu isinya. SMS pun terkirim kepada keduanya. Dan kali ini tidak ada balasan dari kedua orang tersebut. Semoga saja mereka tidak marah, itulah harapan saya saat itu.

Selesai SMS, saya coba alihkan kecemasan saya ini dengan mengerjakan hal lain. Saya coba duduk santai sambil membuka-buka contoh proposal pembangunan masjid Al Hadi sebelumnya. Saya coba tenangkan pikiran untuk konsentrasi pada pekerjaan yang akan saya pilih.

Saat itu jam di komputer sudah menunjukkan angka setengah lima sore. Saya pun coba rebahkan badan pada kasur yang sudah disediakan yang akan kita gunakan bersama-sama, satu kasur, tanpa ranjang. Pak Iwan masih anteng (nyaman -sunda) melototin layar komputer yang sedang men scan harddisk

Saat itulah pertama kalinya kami dapat berbicara, diskusi satu sama lain dengan lebih nyaman, setelah kondisi hari kemarin yang jauh dari teduh dan santai. Pertama kalinya pula saya dapat mandi lebih nyaman. Meminjam sabun dari Pak Iwan, serta mandi di tempat yang lebih layak, air yang cukup deras, semakin memuaskan untuk mandi.

Syukurnya saya mendapat pinjaman baju ganti kaos "XL" dari Pak Iwan, (sampai hari ini Pak Iwan tidak mau menerima baju XL itu kembali, untuk kenangan saya katanya) sebagai ganti dari baju kemeja kantor saya yang sudah melekat dari semenjak keberangkatan dari Jakarta 36 jam sebelumnya.

Akhirnya kami semua dapat memulai hidup baru dengan lebih tenang, tempat istirahat yang lebih baik, ada sedikit pekerjaan yang dapat dilakukan -jadi tidak bosan-, sehingga kami dapat berpikir lebih jernih di banding hari sebelumnya.

Hingga akhirnya adzan Magrib berkumandang. Kami semua turun ke bawah menuju masjid. Kali ini dengan penampilan yang lebih bersih dan rapi, kami bersiap menunaikan shalat. Sebelum shalat dimulai, Pa Ustad berpesan bahwa selesai shalat magrib nanti kita ngaji dulu. Saat itu saya cukup kaget karena tidak sesuai perkiraan saya. Bukan kaget karena akan ada pengajian selesai shalat, tapi kaget karena hanya kami bertiga, makmum shalat magrib berjamaah itu. Tidak ada yang lain. Tadinya saya pikir akan ada banyak masyarakat yang datang turut shalat berjamaah.

Selesai shalat dan dzikir, pa Ustad membalikkan badan dan mempersilahkan kami membawa meja kecil berwarna hijau yang biasa di gunakan anak-anak TK belajar. Tak lupa kami pun diingatkan agar mencatat apa yang akan dibahas pengajian saat itu. Karena tidak ada satu pun yang membawa buku, akhirnya Pak Iwan berlari ke kamar atas membawakan buku tulis kami masing-masing yang sebelumnya sudah diberiksn Bang Jay sebelum keberangkatan ke Jogja.

Setelah pembukaan, Pak Ustad meminta perkenalan dari kami masing-masing, mulai dari asal muasal kami, kampung kami, pekerjaan kami di Jakarta, hingga pendapatan kami setiap bulannya. "Pengajian kali ini, saya ingin membahas mengenai surat Ad Dhuha (surat no 93) dan Al Insyirah (surat no 94), karena ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kedua surat tersebut".

Saat itu saya pribadi tidak ada firasat apa-apa dengan hikmah dibalik pengajian saat itu. Namun nyatanya, dari nasihat kedua surat Al Quran itulah, saya memulai (start point) kehidupan bisnis saya. Lalu nasihat apa yang disampaikan Pak Ustad dari kedua surat tersebut??

#AlHadi #Jogja #Dhuha #AlamNasyroh #SekolahMonyet