Rabu, 12 Oktober 2011

Tak ada rasa yang berbeda selepas pengajian semalam. Semua berjalan seperti
sebelumnya, masih tetap galau!! Masih tetap pusing memikirkan kondisi karir
di kantor dan keadaan istri yang terbayang semakin bertambah marah.
Syukurnya kami bisa tertidur lelap malam itu.

Adzan subuh berkumandang, kami pun terbangun dan segera beranjak keluar
kamar menuju masjid. Masjid masih nampak sepi, hanya kami bertiga dan pak
ustad yang shalat berjamaah. Selesai shalat pak ustad memberitahukan
aktivitasnya hari itu. Ada beberapa pengajian diluar pesantren. Pak ustad
mempersilahkan kami untuk memilih aktivatas yang akan kami lakukan.

Selepas subuh, kami semua beranjak ke kamar dan mulai melakukan yang bisa
kami kerjakan. Mas Asto dan Pak Iwan memilih untuk mengerjakan proposal
bisnis Ikan Koi Pak Ustad yang sudah ada sekitar 4 kolam besar. Saya
memilih mengerjakan proposal pembangunan masjid Al Hadi tahap 2.

Sekitar jam 8, pesantren Al Hadi didatangi banyak orang berpakaian rapi.
Rupanya setiap hari Rabu pagi, Pak Ustad mengadakan pengajian di masjid
Pesantren Al Hadi. Jamaahnya cukup banyak dan mereka berdatangan
mengendarai motor dan mobil.

Pak Ustad pun meminjami saya handphone berkamera merk Nokia. Saya tidak
ingat merknya apa, yang saya ingat bahwa handphone itu sudah pintar
(smartphone). Saya diminta Pak Ustad untuk memfoto lokasi pesantren Al Hadi
menggunakan handphone tersebut.

image

Sekitar jam 11 siang, kami semua diajak Pak Ustad menemani beliau mengisi
pengajian lainnya di suatu pesantren di Jogja Kota. Lokasinya cukup jauh
dari pesantren. Sebelum berangkat, saya membawa beberapa buah Al Quran yang
masih terbungkus rapi untuk dijual di tempat ceramah nanti. Pak Ustad
menawarkan kami berjualan, untuk menambah pemasukan ongkos kami.

Setiap Hari Rabu, memang aktivitas Pak Ustad sangat padat dibanding hari
lainnya. Itu yang beliau ceritakan sepanjang perjalanan kami menuju tempat
pengajian. Pak Ustad pun banyak bercerita soal rencana bisnis perumahan
yang sedang beliau kerjakan bersama temannya kemarin, saat pertama kali
kami bertemu di kantor DPD PKS.

Sesampainya di tempat pengajian, kami menyimak ceramah Pak Ustad kepada
ratusan anak pesantren. Ustad Natsir meski terlihat sudah tidak muda, namun
pembawaan ceramahnya selalu menggelora. Beliau sering disebut “Ustad
Penumbuh Semangat” oleh para aktivis mahasiswa, begitu yang beliau
ceritakan saat di perjalanan tadi.

Selepas kami shalat berjamaah di pesantren seusai pengajian berakhir, kami
bertiga dan Pak Ustad beranjak pulang. Saat itu Al Quran yang awalnya akan
saya jajakan saat pengajian tadi, nyatanya masih saya pegang dengan erat.
Ternyata situasinya tidak memungkinkan untuk berjualan. Belum ada satu
rupiah pun yang masuk kantong.

Meninggalkan lokasi pengajian, Pak Ustad membawa kami jalan-jalan entah
kemana. Setibanya di lokasi yang saya kenal bahwa itu daerah kampus UGM,
Pak Ustad meminta diantara kami untuk mengantarkan flyer iklan Umrah. Pak
Ustad memang menjadi Agen Cabang salah satu Umrah dan Haji Tour Travel yang
berpusat di Jakarta.

Mobil pun diparkir di parkiran Kopma UGM. Pak Iwan dan Mas Asto menawarkan
diri untuk mengantarkan flyer tersebut sesuai petunjuk dari Pak Ustad.
Sementara saya dan Pak Ustad menunggu di pelataran parkir Kopma UGM.

Sambil menunggu Pak Iwan dan Mas Asto mengantarkan flyer ke salah satu
kenalan Pak Ustad, saya menanyakan kepada Pak Ustad soal kepastian rencana
berangkat ke Jakarta besok harinya (kamis). “Belum pasti, insya allah kalau
nggak Kamis, mungkin Jumat” begitu jawaban Pak Ustad. Deg! Hati saya
semakin goyah, khawatir jangan-jangan saya malah tidak bisa pulang.

Disaat yang lain, Pak Iwan dan Mas Asto, sudah membuat rencana untuk
meminjam rekening Pak Ustad guna menerima kiriman uang dari istri mereka,
saya belum ada rencana apa-apa, kecuali mengasong berjualan apa saja di
sekitar Malioboro. Agak sedih juga membayangkan kondisi saat itu, selain
kebuntuan memikirkan pekerjaan yang sudah tiada lagi harapan untuk
dilanjutkan, kisruh dengan istri yang tinggal menunggu pecah telur, juga
kebingungan yang sangat mencari cara mendapatkan ongkos pulang.

Setelah Pak Iwan dan Mas Asto berhasil mengirimkan flyer tersebut, kami
semua pulang ke pesantren Al Hadi. Pak Ustad juga sempat melihat proposal
yang telah kami buat. Proposal pun kami perbanyak cetakannya.

Selepas sore itu, kebanyakan kami menghabiskan hari di dalam kamar dan
lingkungan pesantren Al Hadi. Saya pun sempat diajak Pak Ustad untuk
membeli kertas ke luar pesantren yang lokasi toko kertasnya cukup jauh,
sehingga kami berdua menggunakan mobil. Sementara Pak Iwan dan Mas Asto
masih mengutak atik proposal ikan koi mereka.

Hingga magrib dan Isya, kami belum mendapat kepastian kabar keberangkatan
Pak Ustad ke Jakarta. Kemungkinan di hari Jumat, demikian kata Pak Ustad.
Mas Asto dan Pak Iwan sudah mendapatkan nomor rekening Pak Ustad untuk
dipinjam menerima kiriman ongkos pulang dari istri mereka.

Saya tidak bisa meminta bantuan istri saya di rumah untuk mengirimkan juga
uang ke nomor rekening Pak Ustad. Bukan persoalan istri yang masih marah
karena saya tinggal pergi ke Jogja bersama Bang Jay, namun memang tidak ada
uang di rumah yang cukup untuk ongkos saya naik kereta.

Nahas benar nasib saya saat itu, tak ada yang bisa menolong saya…

#Al Hadi #Jogja #UGM