Kamis, 13 Oktober 2011

Setelah lelah seharian mengikuti jadwal ceramah Pak Ustad, pagi itu kami memperbanyak proposal yang telah kami buat. Masih banyak perbaikan proposal yang harus saya lakukan, karena saya cukup repot harus mengerjakan proposal pembangunan masjid sendirian.

Selepas sholat subuh berjamaah, kami banyak menghabiskan waktu di kamar. Pagi itu kami sudah sedikit lebih tenang karena dapat hidup lebih baik, makan dan minum dengan nikmat, istirahat dengan tenang, mandi dengan nyaman meski pakaian yang saya gunakan harus di bolak balik…

Pagi itu, sekitar jam 8 pagi Pak Ustad pamit kepada kami bahwa beliau akan pergi untuk mengisi pengajian di tempat lain dan pergi di jemput, jadi kami tidak perlu bersama beliau. "Kalian di sini saja ya, selesaikan proposalnya. Nanti siang saya juga pulang" kata Pak Ustad kepada kami.

Hari itu pikiran saya sudah sedikit tenang. Bukan karena semua sudah ada jalan keluarnya, namun saya sudah mem-pasrah-kan diri dengan kondisi pekerjaan saya. Saya sudah pasrah untuk di PECAT!!

Urusan rumah tangga juga sudah saya selesaikan hari itu. Saya putuskan untuk tidak lagi terganggu dengan kekhawatiran istri yang akan marah besar atau meminta cerai. Saya tidak ingin konsentrasi saya terganggu dengan ancaman istri dan kondisi rumah yang tidak kondusif. Saya harus fokus pada SOLUSI!!

Hingga waktu dzuhur, kami tetap di kamar. Bila kami ingin makan atau minum, kami cukup turun ke dapur yang ada di lantai bawah. Meskipun Pak Ustad memberikan kami modem internet Flash Telkomsel, namun ternyata tidak ada jaringan internet di sana, sehingga kami tidak ada koneksi internet.

Sekitar jam 1 siang, Pak Ustad telah kembali ke Pesantren. Beliau memberitahu kami bahwa sekitar jam 2 siang, beliau ada jadwal ceramah di radio MQ Jogja dan mengajak kami bertiga untuk ikut serta menemani. Akhirnya kami semua, termasuk anak istri Pak Ustad, pergi ke Radio MQ Jogja yang berada kawasan sekolah STMIK AMIKOM Jogja.

Setibanya di sana, Pak Ustad terburu-buru harus segera siaran. Belum tiba di tempat parkir, Pak Ustad meminta kami bertiga memarkirkan mobil. Saat itu mobil beliau Kia Carnival Automatic berwarna hijau tua. Namun ternyata Pak Iwan dan Mas Asto dengan kompak menunjuk saya sebagai orang yang bisa menggunakan mobil transmisi Matic, karena mereka berdua belum pernah menggunakan mobil Matic.

Padahal berbekal pengalaman saya dulu, tahun 2006, saat bekerja membantu Artis Senior, Jenny Rachman, saya hanya sekali menggunakan mobil Jenny Rachman yang persis sama dengan mobil Psk Ustad ini.

Setelah saya parkirkan mobil, kami bertiga masuk dan menunggu di lobby STMIK. Disana ada sarana komputer berkoneksi internet gratis. Kami bisa berinternet dengan leluasa akhirnya.

Setelah Pak Ustad selesai siaran, kami semua diajak jalan-jalan oleh Pak Ustad keliling kota Jogja. Di jalan pun, Pak Iwan dan Mas Asto meminta ijin untuk pergi ke ATM Mandiri dan meminjam ATM Pak Ustad untuk mengambil uang yang sudah ditransferkan oleh istri Pak Iwan dan Mas Asto.

Saya sangat sedih melihat Pak Iwan dan Mas Asto yang seolah mendapat dukungan dan bantuan penuh dari istri mereka dengan kepergian mereka ke Jogja ini, hingga di perkenankan di kirimi uang dari rumah. Sementara saya…harus memutar otak bagaimana cara mendapatkan uang, yang hingga hari ke 3 di Jogja belum satu rupiah pun saya dapatkan…