Kamis, 13 Oktober 2011 sore hari

Begitu mengetahui kalau ternyata Mas Asto dan Pak Iwan sudah memegang uang cash kiriman dari keluarga mereka, hati saya semakin ciut. Berarti tinggal saya sendiri yang harus berjuang mempertahankan hidup di kota Jogja, pikir saya saat itu.

Selepas mengambil uang dari ATM, Pak Ustad memberitahu kami bahwa malam nanti, salah satu anak beliau, bernama Abdullah, akan pulang ke rumah (Al Hadi) dari pesantrennya di Solo, dalam rangka libur sekolah. Pak Ustad memberi tahu bahwa malam nanti, kita akan menjemput Abdullah di Stasiun Tugu.

Dan sambil menunggu kedatangan Abdullah, Pak Ustad mempersilahkan kami untuk jalan-jalan keliling Jogja. Akhirnya meninggalkan ATM, kami menelusuri jalanan Kota Jogja. Bu Ustad menawarkan kami untuk membeli oleh-oleh kue Bakpia di salah satu toko Bakpia merk terkenal.

Mobil yang kali ini saya kemudikan, karena Pak Ustad merasa lelah untuk mengemudikan mobil, saya pacu dengan sedikit santai. Pak Ustad yang duduk di sebelah saya, menjadi penunjuk arah jalanan Jogja hingga kami tiba di toko Bakpia yang dimaksud.

Setiba di toko oleh-oleh tersebut, hari sudah mulai sore. Di sana Mas Asto dan Pak Iwan membeli beberapa dus kue Bakpia untuk oleh-oleh ke rumah dan juga pesanan beberapa teman mereka lewat FaceBook. Saya yang tadinya hanya berniat menunggu di kursi kemudi, di tanya Pak Ustad mengapa tidak ikut membeli Bakpia.

Saya tidak menjawab "saya tidak punya uang". Namun agar tidak mencirikan saya tidak punya uang, akhirnya saya pun keluar mobil dan bergabung dengan Mas Asto dan Pak Iwan memilih oleh-oleh Jogja.

Nampaknya Mas Asto memang tahu keberadaan saya memilih oleh-oleh di toko tersebut, tentu tanpa maksud membeli karena beliau memang tahu saya tidak punya uang. Akhirnya, sambil mendekati saya "Akh, ini saya pinjemin uang 100 ribu. Barangkali mau beli oleh-oleh buat orang rumah" bisik Mas Asto.

Terbayang bagaimana perasaan saya saat menerima uang itu? Sedih, Malu, Senang bercampur aduk. Sedih karena hingga saat itu saya belum mendapat uang sepeser pun. Jangankan uang untuk membeli Bakpia, uang untuk makan sendiri pun tidak tahu harus mencari dari mana. Malu karena semakin memperlihatkan kelemahan saya saja. Senang karena akhirnya saya bisa belikan oleh-oleh Jogja untuk anak istri.

"Terima kasih ya Akh, uangnya saya pinjem dulu. Nanti saya ganti di Jakarta" jawab saya dengan mata berkaca tanpa berani menatap mata Mas Asto. Akhirnya saya membeli 2 dus kecil kue Bakpia. Saat itu harganya sekitar 30 ribu untuk 2 dus, kalau saya tidak lupa. Sengaja saya sisakan uangnya untuk keperluan lainnya nanti saya di jalan.

Setelah membeli beberapa dus makanan, kami melanjutkan perjalanan keliling Jogja. Saat itu waktu menuju magrib dan saya tetap memegang kemudi mobil. Akhirnya Pak Ustad meminta saya untuk menunggu Abdullah di Stasiun Tugu saja, sambil shalat Magrib di sana.

Akhirnya kami tiba di Stasiun Tugu, tempat berawal kesedihan para murid Sekolah Monyet dimulai. Setelah mobil saya parkirkan, kami semua bergantian menunaikan shalat Magrib di mushola Stasiun Tugu. Sesekali saya lihat Pak Ustad menelepon Abdullah menanyakan posisi dia di kereta.

Sambil menunggu, Pak Ustad meminta kami membuatkan stempel sederhana untuk Pesantren Al Hadi. "Tulisannya sederhana saja "Pesantren Al Hadi, Triharjo, Sleman, Jogjakarta" bentuk melingkar. Bikin yang kilat saja, harganya sekitar 25 ribuan. Bikin di sana, di sepanjang jalan itu banyak tukang bikin stempel kilat" sambil tunjuk Pak Ustad ke salah satu pertigaan jalan dekat Stasiun Tugu.

Kami bertiga memenuhi permintaan Pak Ustad mencarikan tukan stempel yang masih buka dan bisa cepat selesai di sepanjang jalan sesuai petunjuk Pak Ustad. Dari 3 warung kecil pembuat stempel, akhirnya kami menemukan yang bisa membuat stempel kilat. Dan stempel pun selesai setelah negosiasi harga dalam bahasa Jawa yang dilakukan Mas Asto dengan tukang stempel itu.

Dan akhirnya setelah adzan Isya berkumandang, Abdullah memberi kabar bahwa dia sudah tiba di Stasiun Tugu. Akhirnya yang ditunggu telah datang, Abdullah menghampiri kami di pelataran parkir Stasiun Tugu. Terlihat perasaan senang sebagai orang tua yang sudah lama tidak bertemu anak pertama mereka yang pergi sekolah pesantren di Solo.

Setelah bercakap melepas rindu, akhirnya Pak Ustad mengajak kami melanjutkan perjalanan. Pak Ustad juga secara tiba-tiba memberitahukan kami bertiga bahwa beliau akan pergi ke Bandung tengah malam nanti, dan jika jadi beliau akan lanjut pergi ke Jakarta sebagaimana janji beliau kepada kami sebelumnya.

Saya sangat senang mendengar berita ini. Akhirnya bayangan rumah dan keluarga mulai terlihat, bahwa saya akan kembali pulang. Dan setelah menjemput Abdullah, Pak Ustad meminta saya diantar ke rumah teman beliau (orang yang sama saat pertama kami bertemu di Gedung DPD PKS Jogja).

Setibanya kami di rumah teman Pak Ustad tersebut, ternyata teman Pak Ustad tersebut meminjamkan Pak Ustad mobil Panther miliknya. Pak Ustad bilang pada kami bahwa temannya tersebut akan menyusul pergi ke Jakarta, karena keesokan harinya beliau sudah ada janji. "Besok dia akan menyusul ke Jakarta, pergi dari Bandara Adisucipto. Nanti biar saya yang jemput dia di bandara Jakarta" kata Pak Ustad menjelaskan.

Akhirnya mobil Panther tersebut dikemudikan Pak Iwan dan Mas Asto karena Pak Ustad memilih untuk tetap bersama saya serta anak istrinya. Mungkin sekalian melepas rindu dengan Abdullah yang baru saja bertemu. Akhirnya kami melanjutkan pulang ke Pesantren Al Hadi, dengan Pak Iwan dan Mas Asto yang mengemudikan mobil Panther mengikuti dari belakang saya.

Setelah kami tiba di rumah, Pak Ustad mempersilahkan kami beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung. "Jam 11 malem aja ya kita pergi, biar tiba di sana subuh" jelas Pak Ustad kepada kami. Akhirnya kami bertiga beranjak naik ke kamar atas, membereskan semua barang kami.

Hingga akhirnya, sekitar jam 10.45 malam, Pak Ustad memanggil kami semua dari bawah, untuk bersiap-siap berangkat dan memasukkan semua barang kami ke dalam mobil Panther. Kami akan berangkat ke Bandung menggunakan mobil Panther tersebut. Saya dan Mas Asto juga membawa beberapa bundel Al Quran Terjemah, barang jualan Pak Ustad untuk kami bawa ke rumah, guna kami jual di sana.

Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dengan Al Quran tersebut, apakah akan laku terjual di rumah atau tidak. Padahal saya membawa Quran cukup banyak dibanding Mas Asto, ada sekitar 4-5 buah. Bagaimana nanti saja, saya pikir….dan akhirnya kami meninggalkan pesantren Al Hadi sekitar jam 11 malam lebih…