Dari dua kali pertemuan yang cukup lama dengan Pak William Wongso di kantornya, beberapa kali beliau menyinggung pentingnya mempertahankan kualitas dari suatu produk, utamanya makanan sebagai spesialisasi beliau sebagai seorang ahli makanan (culinary experts).

Dalam suasana obrolan santai, beliau pun menunjukkan beberapa makanan yang berkualitas. Ada sebuah keju yang sudah berusia 3 tahun, dibawa dari Belanda. Beliau bilang inilah keju yang sebenarnya. Berwarna orange, mirip jeruk santang yang dijual dipasaran, dilapisi kulit keju yang tidak bisa dimakan karena memang keras ini memiliki rasa yang sedikit berbeda dengan keju yang biasa kita beli di toko dekat rumah. Keju ini sangat berbeda dari warna keju yang biasa dimakan oleh Tikus di film-film luar negeri. Keju ini sangat enak hingga beberapa kali anak saya minta di potongkan kecil oleh Pak William Wongso.

Beliau juga mempersilahkan saya mencicipi kue dari buah Tin. Tekstur kue dengan motif mirip batik ini seperti selai buah yang dipadatkan, berwarna coklat dan agak lengket di tangan. Beliau menceritakan bahwa getah buah Tin ini digunakan juga sebagai bahan pemisah pada susu untuk pembuatan keju di Belanda. Prosesnya memang agak rumit, namun memiliki hasil produk yang sangat lezat dan berkualitas.

"saya ingin Anda memiliki spesialisasi" pesan Pak William Wongso pada dagangan ikan Jambal Pancing saya (http://www.pasarterasi.web.id/_item?item_id=020001). "Karena saya sudah sering pesan ikan seperti ini tapi memang sulit dicari di pasaran. Dan tidak banyak orang yang tahu soal ini. Bagi orang yang sudah pernah mencicipinya, tidak akan lagi memikirkan harganya, karena memang kualitas daging ini sangat bagus" sambung Pak William Wongso sambil sesekali beliau menghisap Cerutu nya.

Beliau pun menghidangkan daging Jambal Pancing yang sudah berusia cukup lama yang beliau rendam dalam minyak ramuan khusus. Setelah saya cicipi ternyata dagingnya masih lezat dan sangat berbeda dari daging Jambal Roti yang bisa kita beli di restoran-restoran besar di Jakarta. Saya pun akhirnya menemukan cara mengawetkan yang lebih sehat & baik, meski biayanya sangat besar.

Beliau memberi banyak contoh makanan kelas premium yang dijual dengan harga sangat tinggi. Semisal ada daging babi (Ham) yang diolah dengan cara tertentu selama 5 tahun dan dijual dengan harga sekitar 2 juta per kilo. Atau sekilogram daging ikan dari lautan Skandinavia yang dijual dengan harga 700 ribuan. Bahkan ada ikan asin yang bisa dijual seharga 200 ribu per kilo. Wow!!! Mengingatkan saya pada metode pengolahan Anggur yang dibuat menjadi Wine (Miras) di daratan Eropa sana. Semakin lama, semakin teliti cara membuatnya, semakin bagus hasilnya, semakin mahal harganya.

Bukan soal wine atau daging Ham yang dijual mahal, tapi saya bisa menarik kesimpulan pesan yang hendak disampaikan Pak William Wongso pada saya, bahwa jangan takut untuk membuat produk premium, berkualitas meski harus dijual dengan harga yang mahal, karena semua produk mahal itu pun punya konsumennya sendiri. "Pertahankan kualitas! Jangan karena banyak pesanan, lantas proses produksinya kita percepat untuk mengejar pesanan yang berdatangan. Kualitas itu penting!" pesan Pak William Wongso di sela-sela pembicaraan kami bertemankan gemericik hujan di kawasan Melawai sore jumat kemarin.

Maka, tahun ini kami pun akan membuat salah satu produk premium sesuai pesan Pak William Wongso. Semoga Allah SWT memberikan kami jalan rejeki melalui ikhtiar ini. Amin. Apa produk premium kami itu? Terus pantau twitter kami ya…. ^-^

Pasarterasi.web.id
Twitter/FB @pasarterasi