Di pertengahan bulan September 2013 ini, kami (saya dan istri) sepakat untuk tidak lagi menggunakan pembiayaan dari bank, baik KPR maupun skema kredit dari perbankan lainnya. Kami sudah TOBAT! Jadi sahabat pembaca berhak untuk mengingatkan saya lagi jika dikemudian hari saya kembali tergiur dengan tawaran pinjaman dari bank.

Lalu apa yang menjadi penyebab saya sudah melakukan PerTOBATan dari kredit bank tersebut? Apakah saya sudah mengalami kredit macet dan di blacklist oleh BI? Doakan saja semoga hal itu tidak pernah terjadi dan dialami oleh saya dan kita semua.

Hal yang membuat dada saya tersesak dan sedikit sempit sehingga saya alergi dengan kredit bank adalah konsekuensi dibalik semua rayuan gombal para bankir dan kronco-kronconya.

Contoh, untuk kredit kepemilikan kendaraan, baik mobil maupun motor, apatah itu kredit lewat bank langsung atau kantor leasing (yang sebenarnya perpanjangan tangan dari bank itu sendiri). Sudah banyak kita dengar cerita orang yang kredit kendaraan dan dikemudian hari dia tidak bisa membayar cicilan, kemudian kendaraan nya di sita.

Dan tidak sedikit orang juga yang kredit rumah (KPR), kemudian takdir berbicara lain, dia dipecat dari pekerjaannya, dan karena tenggat waktu bayar cicilan terus berjalan, dia over kredit rumahnya…namun karena ternyata menjual rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan, maka dia harus pinjam sana pinjam sini, gali lubang tutup lubang untuk dapat membayar cicilan rumahnya sambil berharap rumahnya segera terjual. Belum lagi masalah hidup lainnya yang harus dia pikirkan. Ada banyak masalah hidup yang semakin rumit dengan adanya kredit atau utang kepada bank.

Lihat saja aturan-aturan rumit menyiksa yang ada dibalik senyum manis tawaran-tawaran kredit itu. Semisal kredit rumah (KPR). Saya pernah menjajaki KPR rumah type RSS (dengan kisaran harga 60juta) dan rumah type menengah ke atas (dengan kisaran harga 300juta). Semua ada kesamaan aturan, yakni aturan yang tidak beresiko merugikan bank dan aturan yang beresiko besar kerugian dialami pihak pembeli.

Semisal bahwa bank akan menetapkan bunga yang besar sekali (besar jika dibanding di negara maju. Ingat ya, Indonesia masih termasuk kategori negara berkembang!). Atau bank syariah akan mengambil margin keuntungan yang sangat besar, dan pembeli tidak bisa menegosiasikan besarnya margin yang diambil bank syariah ini (teorinya sih dalam transaksi yang syariah itu, pembeli dan penjual bisa menyepakati harga jual yang ditetapkan). Atau semisal ada juga aturan yang mengikat pembeli untuk tidak menjual kembali (over kredit) jika belum mencapai waktu tertentu. Atau kegiatan menyita aset milik pembeli yang mengalami kredit macet. Atau pun memberikan denda kepada pembeli yang membatalkan pembelian. Semisal kita sudah memberikan uang muka hingga 30juta dan berniat membatalkan pembelian karena kita tidak puas dengan hasil bangunannya, maka uang muka tersebut hilang dan tidak kembali. Dan seabreg aturan lainnya yang merugikan pembeli.

Atau pun jika kita kredit kendaraan baik motor maupun mobil. Kita akan dikenakan denda jika kita telat membayar cicilan. Dendanya pun di hitung per hari. Sangat ketat. Namun beda lagi jika kita akan klaim asuransi kehilangan, misalkan. Maka penggantian nilai asuransinya tidak akan secepat jika kita telat bayar. Untuk kendaraan hilang yang sudah diasuransikan, uang penggantinya bisa diproses 2-4 minggu. Atau jika kendaraannya masih kredit, maka bukan kendaraan yang diganti. Namun, sisa utang cicilan kita akan di bayar oleh nilai asuransi. Jika nilai asuransinya lebih kecil dari sisa utang kredit mobilnya, maka kita harus “nombokin” sisa utang kredit tersebut. Bukan mobil yang kita dapat, namun sisa utang yang masih harus kita bayarkan. Memangnya ada leasing atau bank yang mau rugi? Kreditur macet yang “menghilang” saja sampai dikejar-kejar bank ke rumah orang tuanya.

Belum dengan rayuan-rayuan dari sales KTA (Kredit Tanpa Agunan) atau kartu kredit yang mencekik kita dengan bunga tinggi dan resiko bunga yang terus berlipat saat telat bayar cicilan. Salah-salah agunan kita bisa di sita. Padahal iklan yang sering kita dengar : “bank akan mendukung pertumbuhan usaha kita”. Itu pun jika tumbuh, jika tidak?

Masih banyak lagi resiko kita untuk terjepit dan harta serta hidup kita semakin sempit jika kita berutang dengan bank atau leasing. Maka solusinya adalah jangan berutang pada bank, sekalipun bertitel syariah. Bukankah sudah hukum alam bahwa kehidupan manusia ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kapan terjadinya kita di atas atau di bawah? Kita tak pernah tau…

Betul sekali jika ada pendapat yang mengatakan bahwa kesulitan membayar kredit itu bisa kita negosiasikan dengan pihak bank atau leasing. Namun apakah kita pantas mendapat resiko seperti itu jika masih ada pilihan hidup yang lainnya? Jika semisal kita membutuhkan penerangan, bukankah lebih baik kita gunakan senter daripada lilin yang berpeluang jatuh dan membakar rumah kita?

Solusinya PERTAMA : jangan hidup konsumtif. Janganlah berutang untuk kebutuhan diluar perut kita. Selama perut tidak kelaparan, jangan berutang untuk membeli yang lain. Berapa banyak di antara kita yang berutang (kredit) mobil agar terlihat kaya? Berapa banyak orang mengantri untuk kredit smartphone canggih agar terlihat ngeksis? Berutang-lah jika perut kita lapar dan kita tidak berdaya (tapi bukan karena malas!).

Solusi KEDUA : jika ingin dagang atau wirausaha, lakukan kerjasama dengan orang lain, apakah dia sebagai pemilik modal atau yang bersama-sama akan berdagang. Jangan dibiasakan lagi mendatangi bank untuk mengajukan kredit. Jangan sampai harta yang sudah Anda kumpulkan hasil bekerja, harus di sita oleh bank hanya karena kita tak pernah tahu keberuntungan kita. Kredit bank hanya ditujukan bagi orang yang sudah pasti untung terus selama hidupnya. Titik!

Solusi KETIGA : Bergabunglah dalam kebaikan. Bersama-sama kita bantu dan dukung kehidupan ekonomi saudara kita. Berikan bantuan pekerjaan ataupun permodalan sebatas keikhlasan kita. Jika kita bisa belikan kerupuk 1 bal harga 60 ribu, berikan pada mereka yang membutuhkan pekerjaan untuk menjual kerupuk itu. Berikan mereka kail untuk memancing, jangan berikan ikan terus kepada mereka. Jika kita terbiasa menyisihkan uang 100 ribu untuk sedekah, maka mulai sekarang titipkan dan kelola bersama-sama untuk memberikan bantuan pada mereka yang sudah terjerat kredit bank. Bantu mereka yang sudah terjerat rentenir berkedok bank ataupun perorangan. Yang ingin bergabung dalam kebaikan, silahkan hubungi saya.

Pendapat saya (ini pendapat saya lho ya…), bank bagaikan rentenir jalanan yang siap menghisap harta benda kita yang sudah terjajah oleh penyakit kemalasan, serba instant dan kemudahan kredit. Tak ada bank/leasing/rentenir yang mau rugi atau menolong kita saat kita susah. Semua kemudahan itu hanyalah semu. Mulai sekarang saya katakan : Aku Benci Kredit, Aku Benci Bank!

Salam keselamatan bagi kita semua,

NB : tulisan ini bukan ajakan atau provokasi untuk membenci bank, lembaga leasing atau rentenir. Tulisan ini adalah AJAKAN untuk membenci apa yang sudah dilakukan bank, lembaga leasing dan para rentenir dengan yang sudah dilakukan mereka di masa lampau.

http://about.me/hapesurya