Lubang Pantura masih lebih baik daripada lubang jalur Selatan

Leave a comment

http://finance.detik.com/read/2014/01/22/165458/2475093/4/gara-gara-banjir-3000-lubang-menganga-di-jalan-pantura

Lubang menganga bukan hanya "milik" Pantura. 3000 lubang masih lebih baik.

Coba perhatikan lubang yang ada di sepanjang jalur Cirebon-Sumedang-Bandung. Selain lubang kecil, banyak terdapat lubang yang sangat besar yang kadang di tengah jalan atau sisi jalan. Lubang besar yang lebih cocok disebut kolam ikan.

Pengalihan jalur dari Pantura kemarin akibat banjir di sepanjang jalur Pantura Jakarta arah Indramayu, berakibat jalur Bandung-Sumedang-Cirebon lebih diminati oleh kendaraan besar yang terbiasa lewat jalur Pantura Subang Indramayu. Akibatnya terjadi penambahan volume kendaraan lebih dari 2 kali lipat dibanding hari biasa, sehingga kemacetan terjadi. Ditambah jalanan yang sangat berlubang.

Saya mengalami sendiri. Tanggal 19 Januari kemarin, saya berangkat dari Cirebon jam 5 sore dan baru tiba di Sumedang jam 12 malam. Ada kemacetan akibat truk mogok di tanjakan Nyalindung dan akibat jalan rusak parah sehingga hanya bisa dilewati satu jalur saja. Dengan kondisi jalan relatif baik dan volume kendaraan normal saja, biasanya jarak Cirebon-Sumedang saya tempuh dalam waktu 2 jam saja dengan kecepatan rata-rata 60km/jam.

Tanggal 20 Januari kemarin, saya lanjut perjalanan dari Sumedang arah Bandung. Berangkat dari Sumedang jam 4 sore, tiba di Pintu Tol Cileunyi jam 8 malam. Saat itu pintu tol Cileunyi sudah dipenuhi antrian kendaraan dari arah Sumedang. Kondisinya sama, jalan rusak dan banyak kendaraan truk berat yang melaju pelan di tanjakan.

Pengalihan jalur Pantura akibat banjir kemarin ternyata tidak berlangsung mulus karena tidak ada kesiapan infrastruktur dan petugas lalu lintas yang bertugas. Jalur Provinsi Bandung-Sumedang-Cirebon punya masalah kondisi jalan yang tidak lebih baik dari Jalur Pantura.

Lubang Pantura masih lebih baik daripada lubang jalur Selatan

Leave a comment

http://finance.detik.com/read/2014/01/22/165458/2475093/4/gara-gara-banjir-3000-lubang-menganga-di-jalan-pantura

Lubang menganga bukan hanya "milik" Pantura. 3000 lubang masih lebih baik.

Coba perhatikan lubang yang ada di sepanjang jalur Cirebon-Sumedang-Bandung. Selain lubang kecil, banyak terdapat lubang yang sangat besar yang kadang di tengah jalan atau sisi jalan. Lubang besar yang lebih cocok disebut kolam ikan.

Pengalihan jalur dari Pantura kemarin akibat banjir di sepanjang jalur Pantura Jakarta arah Indramayu, berakibat jalur Bandung-Sumedang-Cirebon lebih diminati oleh kendaraan besar yang terbiasa lewat jalur Pantura Subang Indramayu. Akibatnya terjadi penambahan volume kendaraan lebih dari 2 kali lipat dibanding hari biasa, sehingga kemacetan terjadi. Ditambah jalanan yang sangat berlubang.

Saya mengalami sendiri. Tanggal 19 Januari kemarin, saya berangkat dari Cirebon jam 5 sore dan baru tiba di Sumedang jam 12 malam. Ada kemacetan akibat truk mogok di tanjakan Nyalindung dan akibat jalan rusak parah sehingga hanya bisa dilewati satu jalur saja. Dengan kondisi jalan relatif baik dan volume kendaraan normal saja, biasanya jarak Cirebon-Sumedang saya tempuh dalam waktu 2 jam saja dengan kecepatan rata-rata 60km/jam.

Tanggal 20 Januari kemarin, saya lanjut perjalanan dari Sumedang arah Bandung. Berangkat dari Sumedang jam 4 sore, tiba di Pintu Tol Cileunyi jam 8 malam. Saat itu pintu tol Cileunyi sudah dipenuhi antrian kendaraan dari arah Sumedang. Kondisinya sama, jalan rusak dan banyak kendaraan truk berat yang melaju pelan di tanjakan.

Pengalihan jalur Pantura akibat banjir kemarin ternyata tidak berlangsung mulus karena tidak ada kesiapan infrastruktur dan petugas lalu lintas yang bertugas. Jalur Provinsi Bandung-Sumedang-Cirebon punya masalah kondisi jalan yang tidak lebih baik dari Jalur Pantura.

Pengambilan JHT di Jamsostek Bekasi

Leave a comment

Sudah 2 tahun semenjak saya keluar kerja, tabungan di Jamsostek berupa Jaminan Hari Tua (JHT) baru bisa saya ambil sekarang.  Tabungan Jamsostek selama kerja 4 tahun itu sayang juga jika di biarkan begitu saja.

Sebagai syarat awal, bahwa uang JHT ini baru bisa diambil setelah masa kerja 5 tahun dan masa tunggu 1 bulan. Dan berhubung masa aktif Jamsostek saya, dari awal bekerja hingga keluar sudah 6 tahun, maka saya sudah bisa mengambil uang JHT tersebut.

Berikut syarat dokumen yang mesti dipersiapkan untuk dapat mengambil uang JHT :

1. Kartu jamsostek (asli)
2. KTP atau SIM yg berlaku (asli & copy 2 lembar)
3. Kartu Keluarga (KK) yg berlaku (asli & copy 1 lembar)
4. Surat Pengalaman Kerja/parklaring dari perusahaan kita bekerja (asli & copy 1 lembar)
5. Dokumen pendukung lainnya seperti ijazah/surat nikah/pasport (cukup salah satu saja, di bawa copy & asli)
6. Mengisi lembar formulir yang bisa kita peroleh dari kantor Jamsostek. Ada dua lembar formulir yang harus kita isi.

Keterangan :
1. Jika kartu jamsostek dan surat pengalaman kerja hilang, sebagai pengganti adalah surat keterangan hilang dari kepolisian yang dilegalisir oleh perusahaan (stempel & tanda tangan HRD jika perusahaan masih ada)

2. Mohon di cek nama, tanggal lahir dan alamat di dokumen terlampir, penulisan harus sama. Jika ada yang berbeda, dilampirkan surat keterangan dari perusahaan atau kelurahan yang menerangkan nama, tanggal lahir dan alamat yang sebenarnya.

3. Jika alamat di KK dan KTP yang berbeda hanya RT/RW nya saja karena proses pemekaran maka cukup lampirkan surat keterangan RT/RW setempat yang menjelaskan RT/RW yang benar.

4. Jika pembayaran ingin di transfer dilampirkan fotocopi buku tabungan atas nama pemegang kartu Jamsostek.

5. Jika kepesertaan Jamsostek dan KTP berada diluar Bekasi, mohon dilampirkan keterangan domisili RT/RW di Bekasi.

Dan setelah kita siapkan dokumen-dokumen tersebut, maka berikut kronologi pengalaman yang saya rasakan di lapangan :

Hari pertama, Senin 7 Oktober.

Di hari pertama saya datang, hari senin 7 oktober, saat itu sekitar jam 10 pagi, ternyata kantor Jamsostek sudah dipenuhi orang hingga ke pelataran parkir. Ternyata petugas security di sana, setelah memberikan formulir isian pengambilan JHT, saya di minta datang kembali keesokan harinya sebelum jam 7 pagi, sembari meminta saya agar formulir pengambilan JHT tersebut diisi di rumah. Akhirnya saya kembali pulang ke rumah, membawa formulir isian Jamsostek yang akan saya isi di rumah.

Hari kedua, Selasa 8 Oktober.

Di hari kedua, hari Selasa 8 Oktober, saya mengalami kendala di perjalanan akibat ulah preman dan petugas DLLAJ yang tidak komunikatif pada pengendara kendaraan. Jalanan di tutup dan di putar tak jelas arah. Hingga akhirnya saya terlambat datang di Kantor Jamsostek Bekasi dan baru tiba jam 7.45 dan saya mendapatkan nomor antrian 197.

Dari obrolan dengan teman duduk di sebelah, ada yang datang jam 6 pagi dan dapat antrian 48. Duh, saya membayangkan jam berapa harus datang agar mendapat nomor antrian 1. Ini adalah pengalaman pertama saya mengambil JHT di Jamsostek Bekasi dan saya pun tidak mendapat informasi lain di Internet mengenai bagaimana kondisi pengambilan JHT di kantor Jamsostek itu.

Hingga akhirnya jam 12.30 antrian sudah memasuki nomor 100. Itu pun dibarengi dengan beberapa kali kejadian mati listrik dan beberapa nomor antrian yang tidak jadi datang.

Jam 13.38 nomor antrian sudah menunjukkan angka 125.

Iseng-iseng saya ukur pelayanan tercepat setiap loketnya yakni 4 menit per orang. Namun ada juga yang sampai 6-7 menit per orang per loket. Belum lagi ada beberapa menit yang hilang dimana saat petugas loketnya pergi ke belakang loket, entah untuk keperluan apa.

Untuk layanan pengambilan JHT di batasi sampai 200 nomor antrian. Sementara ada 4 loket pelayanan pengambilan JHT, yakni loket 3, 4 , 5 dan 6. Serta ada 1 loket kasir yakni di loket 7. Artinya jika rata-rata per orang dilayani hingga 5 menit, ada sekitar 16 jam dan itu tidak mungkin. Jika jam layanan dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, berarti selama 9 jam, 4 loket tersebut punya jatah waktu melayani rata-rata 135 menit untuk 50 orang (9 jam di bagi 4 loket dan 200 antrian dibagi 4 loket). Dan itu artinya 1 loket harus bisa melayani per orangnya selama 2, 7 menit. Dan ini belum dikurangi waktu istirahat petugas loket dan gangguan teknis lainnya seperti mati listrik.

Beberapa kali mati listrik. Ada sekitar 4-5 kali listrik padam. AC pun otomatis tidak nyala sehingga ruangan cukup panas disesaki banyak orang. Dan pada jam 14.00, listrik mati lagi untuk waktu cukup lama hingga petugas Jamsosteknya mengumumkan bahwa meminta maaf atas kejadian ini dan akan tetap dilayani namun secara manual. Itu artinya kita tidak dapat mengetahui berapa total uang JHT yang kita peroleh.

Ada juga yang tidak hadir saat nomor antrian di panggil. Nampaknya memang menunggu ini pekerjaan yang membosankan. Di tambah pelayanan yang lumayan lama, ruangan yang panas dan tempat duduk yang keras. Sangat kurang nyaman menunggu lama di kursi keras seperti itu. Tidak ada TV ataupun yang dapat membuat kita nyaman menunggu.

Dan akhirnya saya pun di layani pada jam 15.45 saat panggilan nomor 197 keluar di layar panggilan loket 3.

Dan dikarenakan untuk pembayaran uang JHT saya minta dengan tunai, bukan di transfer, maka saya harus datang lagi keesokan harinya – dan antri lagi tentunya- di loket kasir, loket 7. Dari petugas loket 3 ini, saya diberikan 2 lembar kertas untuk bukti pengambilan uang JHT besok harinya di loket 7.

Hari Ketiga, Rabu 9 Oktober.

Keesokan harinya saya datang lagi jam 10.45. Untuk pengambilan tunai di loket kasir Jamsostek ini tidak harus datang subuh untuk ambil nomor antrian. Kali ini saya mendapat nomor antrian 576.

Pada saat pengambilan nomor antrian, formulir yang bermaterai 6 ribu dan lembar pengambilan uang di kasir , kita serahkan ke petugas disana. Kemudian saya diminta menunggu panggilan nomor antrian.

Di loket kasir ini, pemanggilan nomor antrian tidak berurutan. Saya pun tidak paham kenapa nomor antrian yang di panggil dengan cara acak. Dan akhirnya saya mendapat panggilan pada jam 12.45. Uang JHT pun saya terima dengan tunai.

Akan lebih cepat lagi jika kita punya nomor rekening BNI karena bank yang mengurus pembayaran JHT ini adalah Bank BNI. Fotocopy dan asli buku rekening kita serahkan kepada petugas bank BNI yang secara khusus melayani khusus pemegang rekening BNI di meja terpisah.

Hikmah dan pelajaran yang saya peroleh dari pengalaman ini dan semoga menjadi persiapan buat sahabat pembaca yang hendak mengambil uang JHT :

1. Datang sebelum jam 6 pagi di kantor Jamsostek Bekasi, untuk mengambil nomor antrian dan mengisi formulir pengambilan JHT.

2. Siapkan juga 3 lembar fotocopi KTP untuk digunakan syarat dokumen pengambilan JHT sebanyak 2 lembar dan pengambilan uang tunai di loket kasir sebanyak 1 lembar.

3. Bawa materai 6 ribu untuk ditempelkan di lembar pernyataan saat pengambilan uang tunai JHT di loket 7.

4. Bawa air minum, makanan ringan dan gadget dengan baterai yang full. Bawa juga baterai cadangan. Karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan.

5. Jika memang kita mendapat nomor antrian yang besar, 180-190 an, maka lebih baik pulang sja dulu ke rumah dan kembali lagi sekitar jam 12 siang.  Pengalaman saya , antrian 100 saja baru di panggil jam 12 siang.

6. Jangan ajak anak istri. Karena mereka bisa bosan di sana, dan merusak mood kita karena suasana dapat semakin menjengkelkan.

O iya, saya tidak tahu persis soal ini. Yang pasti, selama bekerja 3 tahun 2 bulan atau 8 bulan sebelum saya keluar kerja, saya mendapat saldo JHT sekitar 3 jutaan. Dan setelah 2 tahun sejak awal saya keluar kerja ini, ternyata saldo JHT yang saya ambil ada sekitar 5 jutaan. Apakah memang selama saya sudah tidak bekerja dan sudah tidak setor lagi uang Jamsostek ini, uang JHT tersebut terus bertambah karena investasi di Jamsostek? Yang pasti, saya tidak menyesal uang JHT ini sudah di ambil.

Kalaupun toh memang uang JHT kita terus berkembang meski kita sudah tidak lagi bekerja dan menyetor uang iuran Jamsostek, kita tak pernah tau seberapa besar uang kita bertambah. Jika pun kita hendak berinvestasi, lebih baik uang JHT tersebut kita ambil dan kita investasikan pada usaha real. Lebih cepat bertambah, meski juga bisa jadi cepat berkurang..hehe…

High Return, High Risk…

Semoga bermanfaat…

Rentenir Bertopeng Bank : Pinjaman Karyawan

Leave a comment

Ini adalah catatan sejarah pinjaman saya ke salah satu bank BUMN yang dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2011 selama 36 bulan atau 3 tahun, dengan aturan dan sanksi berikut :

1. Bunga 16,8%/thn atau 1,4%/bln
2. Jika Pelunasan Sebelum Jatuh Tempo, maka dikenakan :
- Penalti 2% dari sisa pokok
- Biaya Administrasi 6% dari sisa pokok

3. Jika terlambat membayar cicilan, maka dikenakan denda tunggakan 2% dari cicilan bulanan yakni Rp. 584.889,- (Utang Pokok Rp.388.889,- + bunga Rp. 196.000,-)

Wow…jika di hitung selama 3 tahun, maka bunganya mencapai angka 7.056.000,- atau 50,4% dari uang yang kita pinjam, yakni 14 juta. “Kejam sih ya…tapi mau bagaimana lagi pak, kan butuh????”

Ok, sekarang coba hitung total utang pokoknya. Jika Rp. 388.889,- di kalikan 36 bulan, maka ternyata totalnya 14.000.004,-! Sementara uang yang kita terima kurang dari 14 juta, setelah dikurangi biaya administrasi (saya tidak ingat berapa puluh ribu saat itu yang saya bayar ke teller bank), dan uang “terima kasih” yang sepantasnya di berikan ke marketing bank-nya. “Ya nggak usah di kasih aja pak? Kan orang bank nya sudah dapet gaji.” Yes, saya setuju, tapi Anda tidak akan pernah bisa menolak, jika di bilang sama orang marketing bank-nya “Bapak kan sudah dapat 14 juta, ya…ini sih seikhlasnya saja bapak kasih ke saya…lagian juga ini jadi tambahan penghasilan saya diluar gaji saya yang kecil dari bank pak….”. Kejamnya…

Selain itu, dari total pinjaman 14juta tersebut, ada sejumlah uang yang di blokir, agar tidak bisa kita ambil selama pinjaman berlangsung, senilai sebanyak satu kali cicilan kita. Dalam kasus saya, uang 600.000,- tertahan di saldo rekening saya. Uang di blokir ini untuk tujuan, jika kita tak bisa melunasi utang kita, setidaknya bank sudah meng-aman-kan uang mereka sebesar satu kali cicilan.

Pembayaran cicilannya pun dilakukan dengan autodebit atau potong otomatis dari saldo tabungan kita. Tanpa tedeng aling-aling, tak mau tahu saat itu kita sedang tergeletak di rumah sakit atau tidak punya uang, berapapun saldo yang ada di tabungan anda, bank akan ambil untuk membayar cicilan utang Anda. Jika masih kurang, maka tulisan di saldo tabungan anda akan tertulis “-…” alias minus xxx rupiah.

Dan akhirnya tiba pelunasan yang dipercepat dari jatuh tempo 3 tahun, maka prosesnya pun sangat ribet. Memang untuk pelunasan di percepat ini , kita terlihat untung. Perhitungannya, kita hanya harus membayar sisa pokok nya saja. Saat itu terhitung sisa pokok utang saya tinggal 5.444.442,-. Maka karena pelunasan di percepat, kita dikenakan penalti dan biaya administrasi (sesuai ketentuan dalam perjanjian diatas) dengan total 606.265,03. Huff…ngelus dada…

Setelah kita membayar lunas pinjaman kita, tibalah dimana kita bisa mengambil kembali jaminan yang sudah kita agunkan ke bank, yakni ijazah dan kartu peserta jamsostek. Namun ternyata tak semudah itu. Kata orang bank, agunan pinjaman baru bisa di ambil maksimal 3 minggu proses kerja. WHAT!!! Lama banget…bahkan sampai tulisan ini dibuat, sudah satu minggu, belum ada kabar kapan jaminan saya bisa di ambil. Semoga saja benar 3 minggu sudah bisa saya ambil agunan saya, biar tidak usah ada lagi urusan dengan perbankan.

O iya, jika sudah pelunasan pun, kita akan mendapat kembali uang yang sudah di blokir tadi. Semestinya proses pembukaan uang blokir ini cepat, karena dilakukan oleh kantor bank dimana kita berurusan. Namun apa yang saya alami, prosesnya memakan waktu 3 hari, dengan alasan dari bank “maaf pak, sistem kita lagi off..jadi belum bisa buka blokiran uang bapak…” Wah, apa lagi ini…masa yang punya kewenangan, yang punya sistem saja bisa mati…padahal kan sistem perbankan mereka tidak mungkin mati toh, karena tiap hari mereka melayani orang yang menabung dan meminjam. Apa mungkin sistem mereka mati? Atau hanya sekedar alasan? Sulitnya….

Apa yang saya alami ini, jika bukan keterpaksaan ekonomi (atau tepatnya memaksakan diri terpaksa) saya tidak mau berutang pada bank. Terlihat saat itu saya seperti pengemis, yang mengiba pada petugas bank agar memberikan pinjaman uang kepada saya dengan agunan ijazah…dan pada saat mau melunasinya pun, saya merasa diperlakukan seperti pendosa yang begitu dibenci para penguasa karena hendak mengembalikan uang mereka.

Sikap bank ini tak jauh seperti para rentenir pasar ya? Mau pinjam pun banyak di tanya ini itu. Jika telat bayar saja, kita sudah dikejar-kejar atau sita barang kita dan dikenakan bunga berlipat. Dan saat akan kita lunasi pun, seakan mereka ogah, acuh karena melihat kita punya uang untuk mengembalikan uang para rentenir. OMG!!!

Pinjaman ini diberikan khusus pada karyawan dengan jaminan ijazah sekolah terakhir dan kartu peserta jamsostek. Alhamdullilah, berkat pertolongan Allah Azza Wa Jalla, saya di gerakkan untuk melunasi utang ini pada  tanggal 15 September 2013 kemarin. Semoga Allah Azza Wa Jalla melindungi kita dari keinginan berutang ke bank, melindungi perasaan kita agar tak tergoda dengan bujuk rayu pinjaman bank, dan menghindarkan kita dari keinginan berutang. Semoga Allah memberkahi rezeki kita dan menghindarkan kita dari kefakiran. Amiin…

Bahkan hingga saya telah jadi pedaganga seperti sekarang pun, yang sudah tak punya agunan apa-apa lagi, tawaran kredit bank itu tetap bisa saya akses. Banyak sekali telepon dan sms yang masuk menawarkan kredit yang “mudah” bagi saya. Jadi masih mau berutang pada bank? Saya sudah benci bank dan semoga selamanya tetap benci….

Tobat Kredit Benci Bank

Leave a comment

Di pertengahan bulan September 2013 ini, kami (saya dan istri) sepakat untuk tidak lagi menggunakan pembiayaan dari bank, baik KPR maupun skema kredit dari perbankan lainnya. Kami sudah TOBAT! Jadi sahabat pembaca berhak untuk mengingatkan saya lagi jika dikemudian hari saya kembali tergiur dengan tawaran pinjaman dari bank.

Lalu apa yang menjadi penyebab saya sudah melakukan PerTOBATan dari kredit bank tersebut? Apakah saya sudah mengalami kredit macet dan di blacklist oleh BI? Doakan saja semoga hal itu tidak pernah terjadi dan dialami oleh saya dan kita semua.

Hal yang membuat dada saya tersesak dan sedikit sempit sehingga saya alergi dengan kredit bank adalah konsekuensi dibalik semua rayuan gombal para bankir dan kronco-kronconya.

Contoh, untuk kredit kepemilikan kendaraan, baik mobil maupun motor, apatah itu kredit lewat bank langsung atau kantor leasing (yang sebenarnya perpanjangan tangan dari bank itu sendiri). Sudah banyak kita dengar cerita orang yang kredit kendaraan dan dikemudian hari dia tidak bisa membayar cicilan, kemudian kendaraan nya di sita.

Dan tidak sedikit orang juga yang kredit rumah (KPR), kemudian takdir berbicara lain, dia dipecat dari pekerjaannya, dan karena tenggat waktu bayar cicilan terus berjalan, dia over kredit rumahnya…namun karena ternyata menjual rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan, maka dia harus pinjam sana pinjam sini, gali lubang tutup lubang untuk dapat membayar cicilan rumahnya sambil berharap rumahnya segera terjual. Belum lagi masalah hidup lainnya yang harus dia pikirkan. Ada banyak masalah hidup yang semakin rumit dengan adanya kredit atau utang kepada bank.

Lihat saja aturan-aturan rumit menyiksa yang ada dibalik senyum manis tawaran-tawaran kredit itu. Semisal kredit rumah (KPR). Saya pernah menjajaki KPR rumah type RSS (dengan kisaran harga 60juta) dan rumah type menengah ke atas (dengan kisaran harga 300juta). Semua ada kesamaan aturan, yakni aturan yang tidak beresiko merugikan bank dan aturan yang beresiko besar kerugian dialami pihak pembeli.

Semisal bahwa bank akan menetapkan bunga yang besar sekali (besar jika dibanding di negara maju. Ingat ya, Indonesia masih termasuk kategori negara berkembang!). Atau bank syariah akan mengambil margin keuntungan yang sangat besar, dan pembeli tidak bisa menegosiasikan besarnya margin yang diambil bank syariah ini (teorinya sih dalam transaksi yang syariah itu, pembeli dan penjual bisa menyepakati harga jual yang ditetapkan). Atau semisal ada juga aturan yang mengikat pembeli untuk tidak menjual kembali (over kredit) jika belum mencapai waktu tertentu. Atau kegiatan menyita aset milik pembeli yang mengalami kredit macet. Atau pun memberikan denda kepada pembeli yang membatalkan pembelian. Semisal kita sudah memberikan uang muka hingga 30juta dan berniat membatalkan pembelian karena kita tidak puas dengan hasil bangunannya, maka uang muka tersebut hilang dan tidak kembali. Dan seabreg aturan lainnya yang merugikan pembeli.

Atau pun jika kita kredit kendaraan baik motor maupun mobil. Kita akan dikenakan denda jika kita telat membayar cicilan. Dendanya pun di hitung per hari. Sangat ketat. Namun beda lagi jika kita akan klaim asuransi kehilangan, misalkan. Maka penggantian nilai asuransinya tidak akan secepat jika kita telat bayar. Untuk kendaraan hilang yang sudah diasuransikan, uang penggantinya bisa diproses 2-4 minggu. Atau jika kendaraannya masih kredit, maka bukan kendaraan yang diganti. Namun, sisa utang cicilan kita akan di bayar oleh nilai asuransi. Jika nilai asuransinya lebih kecil dari sisa utang kredit mobilnya, maka kita harus “nombokin” sisa utang kredit tersebut. Bukan mobil yang kita dapat, namun sisa utang yang masih harus kita bayarkan. Memangnya ada leasing atau bank yang mau rugi? Kreditur macet yang “menghilang” saja sampai dikejar-kejar bank ke rumah orang tuanya.

Belum dengan rayuan-rayuan dari sales KTA (Kredit Tanpa Agunan) atau kartu kredit yang mencekik kita dengan bunga tinggi dan resiko bunga yang terus berlipat saat telat bayar cicilan. Salah-salah agunan kita bisa di sita. Padahal iklan yang sering kita dengar : “bank akan mendukung pertumbuhan usaha kita”. Itu pun jika tumbuh, jika tidak?

Masih banyak lagi resiko kita untuk terjepit dan harta serta hidup kita semakin sempit jika kita berutang dengan bank atau leasing. Maka solusinya adalah jangan berutang pada bank, sekalipun bertitel syariah. Bukankah sudah hukum alam bahwa kehidupan manusia ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kapan terjadinya kita di atas atau di bawah? Kita tak pernah tau…

Betul sekali jika ada pendapat yang mengatakan bahwa kesulitan membayar kredit itu bisa kita negosiasikan dengan pihak bank atau leasing. Namun apakah kita pantas mendapat resiko seperti itu jika masih ada pilihan hidup yang lainnya? Jika semisal kita membutuhkan penerangan, bukankah lebih baik kita gunakan senter daripada lilin yang berpeluang jatuh dan membakar rumah kita?

Solusinya PERTAMA : jangan hidup konsumtif. Janganlah berutang untuk kebutuhan diluar perut kita. Selama perut tidak kelaparan, jangan berutang untuk membeli yang lain. Berapa banyak di antara kita yang berutang (kredit) mobil agar terlihat kaya? Berapa banyak orang mengantri untuk kredit smartphone canggih agar terlihat ngeksis? Berutang-lah jika perut kita lapar dan kita tidak berdaya (tapi bukan karena malas!).

Solusi KEDUA : jika ingin dagang atau wirausaha, lakukan kerjasama dengan orang lain, apakah dia sebagai pemilik modal atau yang bersama-sama akan berdagang. Jangan dibiasakan lagi mendatangi bank untuk mengajukan kredit. Jangan sampai harta yang sudah Anda kumpulkan hasil bekerja, harus di sita oleh bank hanya karena kita tak pernah tahu keberuntungan kita. Kredit bank hanya ditujukan bagi orang yang sudah pasti untung terus selama hidupnya. Titik!

Solusi KETIGA : Bergabunglah dalam kebaikan. Bersama-sama kita bantu dan dukung kehidupan ekonomi saudara kita. Berikan bantuan pekerjaan ataupun permodalan sebatas keikhlasan kita. Jika kita bisa belikan kerupuk 1 bal harga 60 ribu, berikan pada mereka yang membutuhkan pekerjaan untuk menjual kerupuk itu. Berikan mereka kail untuk memancing, jangan berikan ikan terus kepada mereka. Jika kita terbiasa menyisihkan uang 100 ribu untuk sedekah, maka mulai sekarang titipkan dan kelola bersama-sama untuk memberikan bantuan pada mereka yang sudah terjerat kredit bank. Bantu mereka yang sudah terjerat rentenir berkedok bank ataupun perorangan. Yang ingin bergabung dalam kebaikan, silahkan hubungi saya.

Pendapat saya (ini pendapat saya lho ya…), bank bagaikan rentenir jalanan yang siap menghisap harta benda kita yang sudah terjajah oleh penyakit kemalasan, serba instant dan kemudahan kredit. Tak ada bank/leasing/rentenir yang mau rugi atau menolong kita saat kita susah. Semua kemudahan itu hanyalah semu. Mulai sekarang saya katakan : Aku Benci Kredit, Aku Benci Bank!

Salam keselamatan bagi kita semua,

NB : tulisan ini bukan ajakan atau provokasi untuk membenci bank, lembaga leasing atau rentenir. Tulisan ini adalah AJAKAN untuk membenci apa yang sudah dilakukan bank, lembaga leasing dan para rentenir dengan yang sudah dilakukan mereka di masa lampau.

http://about.me/hapesurya

Ada Apa di Jawara?

Leave a comment

Ini adalah sedikit rekaman yang hendak saya ceritakan dari apa yang terjadi di dalam diskusi komunitas pengguna dinar dirham, JAWARADINAR. Untuk membuktikan bahwa komunitas ini tetap eksis, ada, dan hadir di tengah pluralitas kehidupan masyarakat Indonesia, untuk membawa kesepahaman bersama bahwa penggunaan dinar dirham untuk transaksi keuangan sudah sangat memungkinkan kita lakukan.

Pagi kemarin, jam 6.51 tanggal 21 Agustus atau tepatnya 4 hari setelah rakyat Indonesia merayakan kemerdekaannya, salah satu admin (administrator) grup chat WhatsApp JAWARA, menyebarkan info tentang manfaat baking soda dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Info tersebut berupa link (http://t.co/gEH6MCoZuj) ke sebuah website berdasar rujukan dari kicauan twitter @YaSalimBkngSoda.  

Topik tentang Baking Soda ini menyedot banyak perhatian member lain sehingga tertarik untuk turut bergabung, merespon pesan tersebut dari sang admin. Salah satu yang tertarik dengan Baking Soda atau soda kue ini adalah Ibu Lilien, owner Khaff Shop, yang memproduksi produk produk healthcare seperti sabun, pasta gigi, dll.

Dari obrolan tentang baking soda ini, kita semua jadi tahu bahwa baking soda (BS) atau soda kue ini berbeda dengan baking powder (BP). BS ini dijual di toko bahan kue dan juga toko bahan kimia. BS ini umumnya lebih banyak dipakai untuk keperluan masakan atau pembuatan kue (dalam kadar yang tidak berlebihan). Namun dari obrolan hari ini, kita semua jadi tahu manfaat lain BS untuk hal lainnya yang lebih luas. Setidaknya Ibu Dina (owner Ya Salim Baking Soda) banyak menjelaskan soal manfaat lain BS ini. Silahkan simak serunya pertanyaan dan respon yang muncul dari teman-teman (utamanya Ibu-ibu JAWARA) berikut:
……………………….
……………………..
08:13, 21 Aug – ‪+62 815-xxxx-963‬: Ada BP dan BS, yg sering dipake BP
08:13, 21 Aug – Ibu Dina‬: Assalamualaikum
08:13, 21 Aug – ‪+62 878-xxxx-0519‬: Setauku untuk baking soda,di jual di toko2 bahan bangunan..eh..toko bahan kimia
08:14, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Izin bergabung di jawara muamalah
08:14, 21 Aug – ‪+62 878-xxxx-0519‬: Waalaykumsalam,mba Dina..Salam kenal ya
08:15, 21 Aug – ‪+62 815-xxxx-963‬: Di toko bahan kue dijual jg mb Anna
08:15, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Ingin belajar bermuamalah sesuai tuntunan Rasulullah seperti yg telah dirintis rekan2 di sini
08:15, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Mohon bimbingannya
08:15, 21 Aug – ‪+62 815-xxxx-963‬: Salam kenal mb Dina,welcome
08:16, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Iya mbak dijual di toko bahan kue dan toko kimia
08:17, 21 Aug – Admin: Mba Anna: yg di toko bahan bangunan itu serius??
08:17, 21 Aug – ‪+62 878-xxxx-0519‬: Iya,betul…hi..hi..Mba Tina,saya tidak bisa bikin kue,palingan bantuin ibu bikin kue Kaak,kue khas arab
08:17, 21 Aug – Admin: Mba Dina: salam kenal, ditunggu sharing2nya yaa
08:17, 21 Aug – ‪+62 878-xxxx-8444‬: Yang pengen taubaking soda sehat dak…
08:17, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Target saya supaya pemakaian baking soda ini lebih meluas
08:17, 21 Aug – ‪+62 878-xxxx-0519‬: Becandaaaaa,mba Endah…
08:18, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Saya buka Info nya di fb juga, Silakan klik like ya
08:18, 21 Aug – ‪+62 838-xxxx-1682‬: Emang ada baking soda ga sehat mbak?
08:18, 21 Aug – ‪+62 878-xxxx-0519‬: Maaf,bukannya baking soda itu jgn terlalu banyak,mba Dina?
08:18, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Insya Allah saya sharing Info2 nya di situ
08:19, 21 Aug – Admin: kasi bocoran dikit2 disini doongg
08:19, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Kalo untuk masak ya sedikit aja mbak Hehe
08:20, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Tapi kalo untuk ngepel lantai atau bersih2 perabotan ya bikinnya semangkuk
08:20, 21 Aug – ‪+62 815-xxxx-963‬: Di toko bahan bangunan itu soda api hehehe buat bersihin saluran sink yg mampet hehehe
……………..
………………..
08:21, 21 Aug – ‪+62 878-xxxx-0519‬: saya kira yg gugus bicarbonat,bisa merusak ginjal,salah ya?spt CDR itu kan ada gugus bicarbonat nya,gmana mba Dina?
08:21, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Tapi Sementara buka page Ya Salim baking soda di fb dulu aja ya
08:21, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Takutnya Gak sempat
08:21, 21 Aug – Jawara-Lilien Khaf: Nah, yg penasaran sm baking soda, sila ke tkp. Kalo saya mah simple, drpada ketelen SLS/SLES (yg utk pembersih lantai) di odol bikinan pabrik, Mendingan ketelan sebutir baking soda yg lbh aman. Cmiiw (itu kalo saya lho)
08:22, 21 Aug – Admin: Aku blm kebayang bentuknya nih
…………………..
…………………..
…………………..
08:22, 21 Aug – Admin: Link fb-nya apa mb?
08:23, 21 Aug – ‪+62 838-xxxx-1682‬: Ketemu ide baking soda darimana mbak??
08:23, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Ya Salim baking soda
08:23, 21 Aug – Jawara-Lilien Khaf: Bentuknya putih bubuk halus mbak endah, kayak putaw 
08:23, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Hmmm karena saya Pemakai sih :-)
08:23, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Kalo di Amerika/Eropa, mereka pake untuk segala macem udah dari dulu banget
08:24, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Punya tante yg asal canada, dia seminggu habis 2kg
08:24, 21 Aug – Jawara-Lilien Khaf: Betul, org bule itu fans berat baking soda
08:25, 21 Aug – ‪Ibu Dina: Saya mau Ibu2 Indonesia pake juga, karena ramah Lingkungan
08:25, 21 Aug – Jawara-Lilien Khaf: Sy tau baking soda utk segala keperluan household dari kecil (nenek fans baking soda, turun ke mama, turun ke saya)
08:26, 21 Aug – Jawara-Lilien Khaf: Yg babynya pake cloth diaper, baking soda utk ngilangin bau pesing
08:26, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Nggak mengiritasi kulit buktinya, bahkan dipakai kumur atau odol ok kan
08:26, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Iya mbak lilien
08:26, 21 Aug – ‪Ibu Dina: Lanjutkan Hahaha
08:26, 21 Aug – Jawara-Lilien Khaf: Produkuk natural deodorant sy jg pake BS 
08:27, 21 Aug – ‪Ibu Dina: Masih banyak yg belum tahu
08:27, 21 Aug – Admin: Ayo ngiklaaaaannnnn :P
08:27, 21 Aug -Admin: Iya, aku termasuk
08:27, 21 Aug – ‪Ibu Dina: Aku packing BS 500gr dan 1 kg merk ya Salim
08:27, 21 Aug – ‪+62 838-xxxx-1682‬: Oo.. Biasanya deo pake tawas
08:28, 21 Aug – ‪Ibu Dina: Buat yg nggak sempat Jalan ke toko kue atau toko kimia
08:28, 21 Aug – ‪Ibu Dina: Bisa Kirim online
08:28, 21 Aug – Jawara-Lilien Khaf: Natural deo saya aluminum free, Insya Allah aman & sehat
08:29, 21 Aug – ‪Ibu Dina: 1 daniq buat yg 500gr, 1/2 dirham 1kg
………………..
………………..
08:52, 21 Aug – ‪+62 813-xxxx-6678‬: Kl yang buat bersihin perak pake BS jg khan?
08:52, 21 Aug – Admin: BS: bayar sendiri ? 
08:55, 21 Aug – ‪+62 816-xxxx-855‬: Pake odol jg bs.
08:55, 21 Aug – ‪+62 813-xxxx-6678‬: Baking soda-lah
08:56, 21 Aug – ‪+62 813-xxxx-6678‬: BS = Bakul Sosis
08:56, 21 Aug – ‪+62 813-xxxx-6678‬: BS = Bocah Sleman
08:56, 21 Aug – ‪+62 813-xxxx-6678‬: BS = Bekasi Selatan
08:56, 21 Aug – ‪+62 813-xxxx-6678‬:  diterus2in ya
08:58, 21 Aug – Admin: Wakakaaa
08:59, 21 Aug – ‪+62 813-xxxx-6678‬: Kl selama ini khan pake odol bersihin dirhamnya. Kl aja kl pake BS lbh bersih lg
09:05, 21 Aug – ‪+62 815-xxxx-963‬: Lebih bagus lg dirhamnya stlhnya digosok pake BS,yg 1 dirham jd 5  dirham
09:10, 21 Aug – ‪+62 815-xxxx-963‬: Mb yeni : Kalo BS ‘ajaib’ sptnya hrs menhubungi nirmala mb *just kidding
09:11, 21 Aug – ‪+62 815-xxxx-963‬: Versi serius : sy biasa beli di TBK,ada yg sdh repack sama penjualnya,ada jg merk kupu2. Di alfa,indomaret bisa didapet
10:10, 21 Aug – ‪+62 878-xxxx-8444‬:  :)
10:11, 21 Aug – Admin: Ooo merk kupu2 itu toh. Aku tau kalo ituuu
10:32, 21 Aug – Admin: Lagi, qirad antar anggota JAWARA: http://wakalanusantara.com/detilurl/Ngalap.Berkah.dari.Qirad.Kaous/1499/id
10:49, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Mau Pesan BS? japri dong ke saya Hehe
10:49, 21 Aug – Admin: Fotonya dong
10:53, 21 Aug – ‪Ibu Dina: Nih.. Yg kemasan sealware 1 kg
10:54, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Lagi difoto perbandingan ama merk arm & hammer
10:55, 21 Aug – ‪Ibu Dina: Setiap produk dilengkapi brosur penggunaan untuk Macam2 keperluan
11:39, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Ini yg kemasan 500gr
11:46, 21 Aug – Admin: Keren kemasannya
11:46, 21 Aug – Admin: Produksinya sdh banyak?
11:46, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Masih sedikit.. Maklum newbie
11:47, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Ngerjain sendiri juga.. Hehe
11:48, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Tapi yg beli sudah ada
11:48, 21 Aug – Admin: Sejak kapan produksinya?
11:48, 21 Aug – Admin: *kepo*
11:49, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Saya Baru share Info Macam2 soda di page fb
11:49, 21 Aug – ‪Ibu Dina‬: Bagi yg penasaran beda caustic soda ama baking soda
11:49, 21 Aug – Admin: Mba Dina share juga di grup fb jawara dinar ya. Kl yg barusan kan via page fb jawara muamalah
…………….
……………  

Obrolan berjalan apa adanya, bahkan terkadang keluar dari topik yang sedang di bicarakan. Dari sekedar candaan ringan, hingga transaksi jual beli skala besar. Semua dilakukan dengan secara ikhlas dalam mata uang dinar dan dirham.

Dari transaksi yang terjadi selama sharing santai ini berlangsung saja, ada transaksi jual beli keju dari Ibu Admin, sekaligus owner usaha Salmaa Barokah kepada member JAWARA lainnya, Ibu Heldi. Ada juga yang menawarkan dagangan batik, ada yang menanyakan pesanan madunya, bahkan transaksi pembelian BS pun berhasil di buka dengan refill BS senilai 1/2 Dirham dari Ibu Lilien kepada Ibu Dina, dengan cara kliring di wakala terdekat mereka.  

Obrolan hari itu seakan mengikuti arah angin berhembus, tak tentu arah,namun masih tetap sejuk di hati karena memang obrolannya santai tanpa tekanan. Dari sekedar ucapkan salam dan menyapa, atau menyampaikan kabar gembira mendapat pesanan dari luar negeri, sampai curhat soal mesin vacum sealer untuk kemasan produk usaha teman-teman JAWARA (jaringan kerjasama bisnis Jawara dinar sudah merambah ke luar negeri. Cek di http://www.dinarshops.com)

Aktivitas ngobrol di WhatsApp hari itu berakhir jam 00.07 tengah malam,  dengan berita dari seorang member Jawara yang memberitahukan bahwa dia sudah menerima kiriman paket pembalut merk Avail dari Ibu Tiwi, member JAWARA Jogjakarta. Ada lebih dari 190 pembicaraan selama hari tersebut. Sebuah obrolan yang intensif bukan?

Ingin tahu lebih banyak apa yang dibicarakan di komunitas pengguna dinar dan dirham ini? Silahkan gabung di Facebook, Twitter atau Google+ Communities dengan nama Jawara Dinar, dan segera gabung dengan grup chat WhatsApp nya. Pastinya bukan hanya soal koin emas perak yang di bicarakan, tapi bagaimana kita bisa hidup lebih bijak menggunakan mata uang yang sebenarnya.

Semoga bermanfaat,

Hendra Permana
http://www.pasarterasi.web.id | Tukar koin 1/2 Dirham Mu dengan 1 Kg
087775037699

NB : Beberapa pembicaraan dan nomor WhatsApp di samarkan untuk kepentingan privasi setiap orang.

Penginapan di Sayang Heulang Beach

Leave a comment

Sayang Heulang Beach

Dari sekian banyak lokasi wisata pantai di pulau Jawa (Java Island), pantai di Pameungpeuk, Garut ini masih perawan. Pantai yang berbatasan dengan samudera Hindia ini bersih dan natural.

Simak rekaman video saya ini :

https://www.youtube.com/watch?v=1mpc-5XdP7s&feature=youtube_gdata_player

Yang ingin tahu lokasi pantai ini, bisa di cek di peta Google Maps :

http://goo.gl/maps/KHdml

Kondisi air laut masih jernih bersih dan banyak karang

image

Pemandangan dari belakang penginapan

image

Pemandangan dari lantai atas penginapan

image

Penginapan membelakangi pantai untuk menghindari terpaan angin yang sangat kencang

image

Pemandangan di depan penginapan

image

Lokasi penginapan hanya 100 meter dari pantai, jarak yang cukup aman dan nyaman untuk menikmati kesejukan suasana pantai yang sangat nyaman.

Penginapan 2 lantai dengan total 4 kamar tidur ukuran 3 × 3 meter, 1 kamar mandi, ruang memasak dan ruangan santai.
Tarif sewa Weekend/Weekdays (Libur Nasional/Sabtu/Minggu) 2 juta rupiah/hari.
Tarif sewa hari biasa (Senin-Jumat) 1 juta rupiah/hari.
(Harga sewa penginapan belum termasuk tiket masuk lokasi wisata pantai sebesar 5000 rupiah per orang.

Order tempat penginapan : telepon 087782263736

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 646 other followers