Hot Deal Investasi Rumah 3 bulan sudah panen

Leave a comment

Kamar Mandi dengan WC Jongkok & Exhaust Fan
Pintu menggunakan kusen aluminium

rmhMETLAND

Rumah Tampak Depan

Hot DEAL!!! Capital Gain indent 3 bulan.

Sedang mencari rumah nyaman dan luas di Metland Cibitung? Indent hanya 3 bulan? Di dalam cluster dengan lokasi menghadap taman? Atau sekedar untuk investasi?

Tidak perlu menunggu 15 bulan untuk mendapat salah satu rumah terbaik di Metland Cibitung. Tidak perlu investasi hingga 15 bulan untuk mendapatkan Capital Gain terbaik dari Metland.

 

Dijual Rumah di Cluster Gondola :

Type LB/LT : 53/91

3 KT 2KM, Toilet Duduk & Jongkok + exhaust fan

Canopy & Pagar

Bata merah, double wall, atap baja ringan

 

Cukup 380 juta dan dalam 3 bulan, sudah dapat Anda tempati atau Anda sewakan.

Harga sudah termasuk biaya Hadap Taman (4 juta) dan AC 1/2 PK.

Rumah atas nama saya pribadi, belum pernah di tempati karena memang pembangunan baru akan selesai 3 bulanan lagi setelah 23 bulan pembangunan.

Jadi jangan sampai Anda investasi pada property yang lama sekali akan Anda petik hasilnya. Cukup indent 3 bulan, bangunan sudah 90% selesai, bisa langsung ditempati atau disewakan (investasi) sembari menunggu hasil kenaikan harga properti Anda ini seiring kenaikan nilai investasi rumah indent lainnya.

Kelebihan rumah saya ini :

1. Indent hanya 3 bulan

2. Bisa langsung ditempati karena lingkungan sudah hidup

3. Bisa juga di sewakan (investasi)

4. Harga properti tetap naik seiring kenaikan investasi rumah indent lainnya.

Semua kelebihan diatas tidak akan Anda dapatkan jika membeli rumah indent baru (hasil investasi pada rumah yang baru, baru bisa di nikmati setelah 15 bulan menunggu pembangunan bahkan tidak menutup peluang lebih lama lagi ~cluster saya hingga 26 bulan), lingkungan yang sudah hidup dibanding memilih cluster baru, dan kelebihan lainnya dibanding rumah indent.

Bagi sahabat yang berminat, silahkan hubungi saya di 085312429858.

Kondisi detail rumah per Juli 2014, bisa dilihat di video berikut ini

Perjalanan Blog ini di 2013

Leave a comment

Posting kali ini meneruskan laporan dari WordPress.com tentang kontribusi sahabat semua  terhadap tulisan di blog saya ini selama tahun 2013 .

Berikut kutipannya :

Sebuah kereta subway New York City memiliki 1.200 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 5.200 kali pada tahun 2013. Jika itu adalah kereta bawah tanah kereta api NYC, itu akan memakan waktu sekitar 4 perjalanan untuk membawa banyak orang…mengagumkan :)

Laporan disampaikan dalam bahasa Inggris. Silahkan klik disini untuk melihat lebih lengkap.

Saya ucapkan terima kasih untuk partisipasi dan kunjungan sahabat pembaca selama ini terhadap tulisan saya. Salam sukses untuk Anda semua.

Catatan Kecil Investasi Cipaganti

Leave a comment

Tawaran investasi dari Cipaganti atau lebih tepatnya Koperasi Cipaganti ini sudah menarik perhatian saya sejak saya masih kuliah di Bandung sekitar tahun 2005 an. Bahkan hingga terakhir saya lihat penawaran yang sama sekitar satu tahun yang lalu di salah satu pameran investasi, saya masih saja melirik tawaran dari Cipaganti ini. Saking menariknya saya sempat terpikir untuk menjual mobil saya dan menginvestasikan uangnya ke Cipaganti.

Yang menarik perhatian saya dari tawaran investasi ini karena ada nama besar “Cipaganti” dibelakang penawaran ini. Cipaganti adalah nama perusahaan besar yang bergerak di bidang travel dan transportasi. Menitipkan investasi kepada sebuah perusahaan besar bagi saya seperti menitipkan sebuah masa depan yang cerah.

Dan saya yakin bahwa ke 8700 nasabah yang dananya “menguap” tersebut juga dimotivasi bahwa dana investasi mereka di simpan di tempat yang terpercaya, yakni Cipaganti. Nilai minimal investasi 150 juta (media massa ada yang menyebutkan 100 juta) bukanlah nilai yang kecil. Bahkan dari total dana yang digelapkan sang direktur sebesar 3,2 Triliun jika dibagi rata ke 8700 mitra maka ada sekitar Rp. 367.816.091,954 per orang. Jumlah investasi yang menakjubkan.

Program kemitraan investasi Cipaganti ini dimulai dari tahun 2002 dengan return minimal 1,4% per bulan untuk 1 tahun kemitraan kerjasama hingga 1,7% per bulan untuk 4 tahun kemitraan kerjasama, dengan besaran profit tetap selama kerjasama dilakukan. Setiap nasabah atau mitra kerjasama akan mendapatkan bilyet giro sebanyak 12 lembar untuk pencairan selama 12 bulan.

Sebagian orang mengira bahwa sebuah investasi sudah dianggap aman manakala tertulis secara hitam di atas putih dalam surat perjanjian yang resmi terikat dalam akte notaris. Namun apalah guna secarik kertas perjanjiaan saat uang sudah melayang.  Saat kehendak Sang Kuasa sudah ditetapkan dan semua usaha manusia tidak membuahkan hasil sesuai harapan.

Jadilah Investor Pintar

Pelajari bisnis yang akan Anda danai tersebut. Tidak perlu mempelajari secara teknis terkecuali Anda akan ikut terjun sebagai pengelola, namun pelajari bagaimana operasional bisnis tersebut dijalankan. Bagaimana pihak manajemen menggunakan uang mereka dan bagaimana pihak manajemen mendapatkan profit, dan bagaimana pihak manajemen mengelola jalannya bisnis. Kita harus pelajari seluk beluk bisnis tersebut.

Cermati potensi keuntunggan (return) yang dijanjikan. Cermati juga bagaimana potensi kerugian (loss) yang mungkin terjadi. Karena tak ada bisnis yang akan selalu untung. Ada saatnya sebuah bisnis mengalami kerugian. Pastikan Anda memahami besaran keuntungan atau kerugian yang mungkin dihasilkan dari bisnis itu.

Harus ada transparansi. Investasi yang tidak transparan patut mengundang pertanyaan. Investor berhak mengetahui bagaimana pengelola bisnis itu memutarkan dana investor sehingga mampu menghasilkan keuntungan yang besar. Investor juga berhak mengetahui tingkat keuntungan, resiko, analisa pasar dan aspek sosial sebuah investasi.

Selain tentunya kita pun wajib mengecek identitas perusahaan, pihak manajemen yang ada dibelakang perusahaan tersebut serta bagaimana laporan keuangan bisnis tersebut selama ini. Dalam kasus Cipaganti ini, saya yakin investor tidak perlu melakukan tahapan ini karena mereka percaya dengan nama Cipaganti-nya.

Beritanya bahwa Koperasi Cipaganti ini tidak berhubungan dengan eksistensi Perusahaan Cipaganti. Karena yang mengalami masalah ini adalah Koperasi Cipaganti Karya Graha Persada, bukan PT. Cipaganti Citra Graha Tbk. Namun kita sebagai masyarakat dan investor, tentu tidak dapat membedakan perbedaan kedua perusahaan ini selama tidak ada keterangan resmi dari pemilik merk Cipaganti. Dan lagi pula memang sumber masalahnya terjadi dikarenakan Koperasi Cipaganti yang tidak menyalurkan dana investasinya sebagaimana perjanjian dengan pihak investor.

Investasi bukan hitungan pasti

Hikmah yang bisa saya petik dari kejadian ini bahwa :

Sebagai perusahaan atau organisasi besar, perlu kita berhati-hati dalam menjalin kerjasama dengan organisasi yang mencatut nama kita. Dalam hal ini Perusahaan Cipaganti dengan Koperasi Cipaganti. Kita masyarakat tidak bisa memisahkan dan membedakan selama tidak ada keterangan resmi dari pemilik nama besar tersebut. Dan akibat kejadian ini, merk Cipaganti telah mengalami kerugian yang besar.

Sebagai pemilik dana, nama besar tidak memberikan jaminan integritas dan keamanan atas dana investasi yang kita titipkan. Memang dalam kasus Cipaganti ini, kerugian dana investasi nasabah disebabkan karena penggelapan uang yang dilakukan direktur Cipaganti, bukan disebabkan kinerja perusahaan. Namun, kita sebagai pemilik dana pastinya percaya kepada nama besar Cipaganti-nya, bukan kepada direktur atau orang yang ada di dalam Cipaganti.

Dari kejadian ini, semakin menambah keyakinan saya bahwa seberapa menariknya pun hitungan bisnis yang ditawarkan, return yang dihasilkan, nama besar yang menggawangi investasi tersebut, seberapa banyak notaris yang mengawal legalitas investasi ini, hitam di atas putihnya, dan lain lain, tetap saja tidak memberikan kepastian mengenai hasil yang sudah di rencanakan di atas kertas tadi. Karena hakikatnya yang memberikan hasil usaha atau investasi dari uang yang kita titipkan, adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menguasai rejeki di muka bumi ini. Bukan karena kehebatan tim manajemen yang berada dibelakang nama besar perusahaan atau karena banyaknya pengalaman bisnis yang telah di tempuh. Namun juga bukan berarti dengan banyaknya kejadian seperti ini, lantas kita menjadi takut untuk berinvestasi.

Oleh karena itu, mindset pertama yang harus kita gunakan saat kita memutuskan untuk berinvestasi adalah “Yakinlah bahwa apapun return yang akan kita terima nanti pastinya sudah rejeki dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Dan setidaknya kita semua sudah melakukan tahapan Pelajari, Cermati dan Amati sebagaimana saran saya di atas.

Semoga tidak ada lagi sahabat kita yang dikorbankan atau merasa menjadi korban. Jadilah investor bisnis yang pintar dan tangguh. Kasus Cipaganti bukanlah kejadian investasi bodong, melainkan investasi ribawi yang (kembali terbukti) hangus. Akan saya ceritakan dalam tulisan saya berikutnya.

Lubang Pantura masih lebih baik daripada lubang jalur Selatan

Leave a comment

http://finance.detik.com/read/2014/01/22/165458/2475093/4/gara-gara-banjir-3000-lubang-menganga-di-jalan-pantura

Lubang menganga bukan hanya "milik" Pantura. 3000 lubang masih lebih baik.

Coba perhatikan lubang yang ada di sepanjang jalur Cirebon-Sumedang-Bandung. Selain lubang kecil, banyak terdapat lubang yang sangat besar yang kadang di tengah jalan atau sisi jalan. Lubang besar yang lebih cocok disebut kolam ikan.

Pengalihan jalur dari Pantura kemarin akibat banjir di sepanjang jalur Pantura Jakarta arah Indramayu, berakibat jalur Bandung-Sumedang-Cirebon lebih diminati oleh kendaraan besar yang terbiasa lewat jalur Pantura Subang Indramayu. Akibatnya terjadi penambahan volume kendaraan lebih dari 2 kali lipat dibanding hari biasa, sehingga kemacetan terjadi. Ditambah jalanan yang sangat berlubang.

Saya mengalami sendiri. Tanggal 19 Januari kemarin, saya berangkat dari Cirebon jam 5 sore dan baru tiba di Sumedang jam 12 malam. Ada kemacetan akibat truk mogok di tanjakan Nyalindung dan akibat jalan rusak parah sehingga hanya bisa dilewati satu jalur saja. Dengan kondisi jalan relatif baik dan volume kendaraan normal saja, biasanya jarak Cirebon-Sumedang saya tempuh dalam waktu 2 jam saja dengan kecepatan rata-rata 60km/jam.

Tanggal 20 Januari kemarin, saya lanjut perjalanan dari Sumedang arah Bandung. Berangkat dari Sumedang jam 4 sore, tiba di Pintu Tol Cileunyi jam 8 malam. Saat itu pintu tol Cileunyi sudah dipenuhi antrian kendaraan dari arah Sumedang. Kondisinya sama, jalan rusak dan banyak kendaraan truk berat yang melaju pelan di tanjakan.

Pengalihan jalur Pantura akibat banjir kemarin ternyata tidak berlangsung mulus karena tidak ada kesiapan infrastruktur dan petugas lalu lintas yang bertugas. Jalur Provinsi Bandung-Sumedang-Cirebon punya masalah kondisi jalan yang tidak lebih baik dari Jalur Pantura.

Pengambilan JHT di Jamsostek Bekasi

Leave a comment

Sudah 2 tahun semenjak saya keluar kerja, tabungan di Jamsostek berupa Jaminan Hari Tua (JHT) baru bisa saya ambil sekarang.  Tabungan Jamsostek selama kerja 4 tahun itu sayang juga jika di biarkan begitu saja.

Sebagai syarat awal, bahwa uang JHT ini baru bisa diambil setelah masa kerja 5 tahun dan masa tunggu 1 bulan. Dan berhubung masa aktif Jamsostek saya, dari awal bekerja hingga keluar sudah 6 tahun, maka saya sudah bisa mengambil uang JHT tersebut.

Berikut syarat dokumen yang mesti dipersiapkan untuk dapat mengambil uang JHT :

1. Kartu jamsostek (asli)
2. KTP atau SIM yg berlaku (asli & copy 2 lembar)
3. Kartu Keluarga (KK) yg berlaku (asli & copy 1 lembar)
4. Surat Pengalaman Kerja/parklaring dari perusahaan kita bekerja (asli & copy 1 lembar)
5. Dokumen pendukung lainnya seperti ijazah/surat nikah/pasport (cukup salah satu saja, di bawa copy & asli)
6. Mengisi lembar formulir yang bisa kita peroleh dari kantor Jamsostek. Ada dua lembar formulir yang harus kita isi.

Keterangan :
1. Jika kartu jamsostek dan surat pengalaman kerja hilang, sebagai pengganti adalah surat keterangan hilang dari kepolisian yang dilegalisir oleh perusahaan (stempel & tanda tangan HRD jika perusahaan masih ada)

2. Mohon di cek nama, tanggal lahir dan alamat di dokumen terlampir, penulisan harus sama. Jika ada yang berbeda, dilampirkan surat keterangan dari perusahaan atau kelurahan yang menerangkan nama, tanggal lahir dan alamat yang sebenarnya.

3. Jika alamat di KK dan KTP yang berbeda hanya RT/RW nya saja karena proses pemekaran maka cukup lampirkan surat keterangan RT/RW setempat yang menjelaskan RT/RW yang benar.

4. Jika pembayaran ingin di transfer dilampirkan fotocopi buku tabungan atas nama pemegang kartu Jamsostek.

5. Jika kepesertaan Jamsostek dan KTP berada diluar Bekasi, mohon dilampirkan keterangan domisili RT/RW di Bekasi.

Dan setelah kita siapkan dokumen-dokumen tersebut, maka berikut kronologi pengalaman yang saya rasakan di lapangan :

Hari pertama, Senin 7 Oktober.

Di hari pertama saya datang, hari senin 7 oktober, saat itu sekitar jam 10 pagi, ternyata kantor Jamsostek sudah dipenuhi orang hingga ke pelataran parkir. Ternyata petugas security di sana, setelah memberikan formulir isian pengambilan JHT, saya di minta datang kembali keesokan harinya sebelum jam 7 pagi, sembari meminta saya agar formulir pengambilan JHT tersebut diisi di rumah. Akhirnya saya kembali pulang ke rumah, membawa formulir isian Jamsostek yang akan saya isi di rumah.

Hari kedua, Selasa 8 Oktober.

Di hari kedua, hari Selasa 8 Oktober, saya mengalami kendala di perjalanan akibat ulah preman dan petugas DLLAJ yang tidak komunikatif pada pengendara kendaraan. Jalanan di tutup dan di putar tak jelas arah. Hingga akhirnya saya terlambat datang di Kantor Jamsostek Bekasi dan baru tiba jam 7.45 dan saya mendapatkan nomor antrian 197.

Dari obrolan dengan teman duduk di sebelah, ada yang datang jam 6 pagi dan dapat antrian 48. Duh, saya membayangkan jam berapa harus datang agar mendapat nomor antrian 1. Ini adalah pengalaman pertama saya mengambil JHT di Jamsostek Bekasi dan saya pun tidak mendapat informasi lain di Internet mengenai bagaimana kondisi pengambilan JHT di kantor Jamsostek itu.

Hingga akhirnya jam 12.30 antrian sudah memasuki nomor 100. Itu pun dibarengi dengan beberapa kali kejadian mati listrik dan beberapa nomor antrian yang tidak jadi datang.

Jam 13.38 nomor antrian sudah menunjukkan angka 125.

Iseng-iseng saya ukur pelayanan tercepat setiap loketnya yakni 4 menit per orang. Namun ada juga yang sampai 6-7 menit per orang per loket. Belum lagi ada beberapa menit yang hilang dimana saat petugas loketnya pergi ke belakang loket, entah untuk keperluan apa.

Untuk layanan pengambilan JHT di batasi sampai 200 nomor antrian. Sementara ada 4 loket pelayanan pengambilan JHT, yakni loket 3, 4 , 5 dan 6. Serta ada 1 loket kasir yakni di loket 7. Artinya jika rata-rata per orang dilayani hingga 5 menit, ada sekitar 16 jam dan itu tidak mungkin. Jika jam layanan dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, berarti selama 9 jam, 4 loket tersebut punya jatah waktu melayani rata-rata 135 menit untuk 50 orang (9 jam di bagi 4 loket dan 200 antrian dibagi 4 loket). Dan itu artinya 1 loket harus bisa melayani per orangnya selama 2, 7 menit. Dan ini belum dikurangi waktu istirahat petugas loket dan gangguan teknis lainnya seperti mati listrik.

Beberapa kali mati listrik. Ada sekitar 4-5 kali listrik padam. AC pun otomatis tidak nyala sehingga ruangan cukup panas disesaki banyak orang. Dan pada jam 14.00, listrik mati lagi untuk waktu cukup lama hingga petugas Jamsosteknya mengumumkan bahwa meminta maaf atas kejadian ini dan akan tetap dilayani namun secara manual. Itu artinya kita tidak dapat mengetahui berapa total uang JHT yang kita peroleh.

Ada juga yang tidak hadir saat nomor antrian di panggil. Nampaknya memang menunggu ini pekerjaan yang membosankan. Di tambah pelayanan yang lumayan lama, ruangan yang panas dan tempat duduk yang keras. Sangat kurang nyaman menunggu lama di kursi keras seperti itu. Tidak ada TV ataupun yang dapat membuat kita nyaman menunggu.

Dan akhirnya saya pun di layani pada jam 15.45 saat panggilan nomor 197 keluar di layar panggilan loket 3.

Dan dikarenakan untuk pembayaran uang JHT saya minta dengan tunai, bukan di transfer, maka saya harus datang lagi keesokan harinya – dan antri lagi tentunya- di loket kasir, loket 7. Dari petugas loket 3 ini, saya diberikan 2 lembar kertas untuk bukti pengambilan uang JHT besok harinya di loket 7.

Hari Ketiga, Rabu 9 Oktober.

Keesokan harinya saya datang lagi jam 10.45. Untuk pengambilan tunai di loket kasir Jamsostek ini tidak harus datang subuh untuk ambil nomor antrian. Kali ini saya mendapat nomor antrian 576.

Pada saat pengambilan nomor antrian, formulir yang bermaterai 6 ribu dan lembar pengambilan uang di kasir , kita serahkan ke petugas disana. Kemudian saya diminta menunggu panggilan nomor antrian.

Di loket kasir ini, pemanggilan nomor antrian tidak berurutan. Saya pun tidak paham kenapa nomor antrian yang di panggil dengan cara acak. Dan akhirnya saya mendapat panggilan pada jam 12.45. Uang JHT pun saya terima dengan tunai.

Akan lebih cepat lagi jika kita punya nomor rekening BNI karena bank yang mengurus pembayaran JHT ini adalah Bank BNI. Fotocopy dan asli buku rekening kita serahkan kepada petugas bank BNI yang secara khusus melayani khusus pemegang rekening BNI di meja terpisah.

Hikmah dan pelajaran yang saya peroleh dari pengalaman ini dan semoga menjadi persiapan buat sahabat pembaca yang hendak mengambil uang JHT :

1. Datang sebelum jam 6 pagi di kantor Jamsostek Bekasi, untuk mengambil nomor antrian dan mengisi formulir pengambilan JHT.

2. Siapkan juga 3 lembar fotocopi KTP untuk digunakan syarat dokumen pengambilan JHT sebanyak 2 lembar dan pengambilan uang tunai di loket kasir sebanyak 1 lembar.

3. Bawa materai 6 ribu untuk ditempelkan di lembar pernyataan saat pengambilan uang tunai JHT di loket 7.

4. Bawa air minum, makanan ringan dan gadget dengan baterai yang full. Bawa juga baterai cadangan. Karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan.

5. Jika memang kita mendapat nomor antrian yang besar, 180-190 an, maka lebih baik pulang sja dulu ke rumah dan kembali lagi sekitar jam 12 siang.  Pengalaman saya , antrian 100 saja baru di panggil jam 12 siang.

6. Jangan ajak anak istri. Karena mereka bisa bosan di sana, dan merusak mood kita karena suasana dapat semakin menjengkelkan.

O iya, saya tidak tahu persis soal ini. Yang pasti, selama bekerja 3 tahun 2 bulan atau 8 bulan sebelum saya keluar kerja, saya mendapat saldo JHT sekitar 3 jutaan. Dan setelah 2 tahun sejak awal saya keluar kerja ini, ternyata saldo JHT yang saya ambil ada sekitar 5 jutaan. Apakah memang selama saya sudah tidak bekerja dan sudah tidak setor lagi uang Jamsostek ini, uang JHT tersebut terus bertambah karena investasi di Jamsostek? Yang pasti, saya tidak menyesal uang JHT ini sudah di ambil.

Kalaupun toh memang uang JHT kita terus berkembang meski kita sudah tidak lagi bekerja dan menyetor uang iuran Jamsostek, kita tak pernah tau seberapa besar uang kita bertambah. Jika pun kita hendak berinvestasi, lebih baik uang JHT tersebut kita ambil dan kita investasikan pada usaha real. Lebih cepat bertambah, meski juga bisa jadi cepat berkurang..hehe…

High Return, High Risk…

Semoga bermanfaat…

Rentenir Bertopeng Bank : Pinjaman Karyawan

6 Comments

Ini adalah catatan sejarah pinjaman saya ke salah satu bank BUMN yang dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2011 selama 36 bulan atau 3 tahun, dengan aturan dan sanksi berikut :

1. Bunga 16,8%/thn atau 1,4%/bln
2. Jika Pelunasan Sebelum Jatuh Tempo, maka dikenakan :
– Penalti 2% dari sisa pokok
– Biaya Administrasi 6% dari sisa pokok

3. Jika terlambat membayar cicilan, maka dikenakan denda tunggakan 2% dari cicilan bulanan yakni Rp. 584.889,- (Utang Pokok Rp.388.889,- + bunga Rp. 196.000,-)

Wow…jika di hitung selama 3 tahun, maka bunganya mencapai angka 7.056.000,- atau 50,4% dari uang yang kita pinjam, yakni 14 juta. “Kejam sih ya…tapi mau bagaimana lagi pak, kan butuh????”

Ok, sekarang coba hitung total utang pokoknya. Jika Rp. 388.889,- di kalikan 36 bulan, maka ternyata totalnya 14.000.004,-! Sementara uang yang kita terima kurang dari 14 juta, setelah dikurangi biaya administrasi (saya tidak ingat berapa puluh ribu saat itu yang saya bayar ke teller bank), dan uang “terima kasih” yang sepantasnya di berikan ke marketing bank-nya. “Ya nggak usah di kasih aja pak? Kan orang bank nya sudah dapet gaji.” Yes, saya setuju, tapi Anda tidak akan pernah bisa menolak, jika di bilang sama orang marketing bank-nya “Bapak kan sudah dapat 14 juta, ya…ini sih seikhlasnya saja bapak kasih ke saya…lagian juga ini jadi tambahan penghasilan saya diluar gaji saya yang kecil dari bank pak….”. Kejamnya…

Selain itu, dari total pinjaman 14juta tersebut, ada sejumlah uang yang di blokir, agar tidak bisa kita ambil selama pinjaman berlangsung, senilai sebanyak satu kali cicilan kita. Dalam kasus saya, uang 600.000,- tertahan di saldo rekening saya. Uang di blokir ini untuk tujuan, jika kita tak bisa melunasi utang kita, setidaknya bank sudah meng-aman-kan uang mereka sebesar satu kali cicilan.

Pembayaran cicilannya pun dilakukan dengan autodebit atau potong otomatis dari saldo tabungan kita. Tanpa tedeng aling-aling, tak mau tahu saat itu kita sedang tergeletak di rumah sakit atau tidak punya uang, berapapun saldo yang ada di tabungan anda, bank akan ambil untuk membayar cicilan utang Anda. Jika masih kurang, maka tulisan di saldo tabungan anda akan tertulis “-…” alias minus xxx rupiah.

Dan akhirnya tiba pelunasan yang dipercepat dari jatuh tempo 3 tahun, maka prosesnya pun sangat ribet. Memang untuk pelunasan di percepat ini , kita terlihat untung. Perhitungannya, kita hanya harus membayar sisa pokok nya saja. Saat itu terhitung sisa pokok utang saya tinggal 5.444.442,-. Maka karena pelunasan di percepat, kita dikenakan penalti dan biaya administrasi (sesuai ketentuan dalam perjanjian diatas) dengan total 606.265,03. Huff…ngelus dada…

Setelah kita membayar lunas pinjaman kita, tibalah dimana kita bisa mengambil kembali jaminan yang sudah kita agunkan ke bank, yakni ijazah dan kartu peserta jamsostek. Namun ternyata tak semudah itu. Kata orang bank, agunan pinjaman baru bisa di ambil maksimal 3 minggu proses kerja. WHAT!!! Lama banget…bahkan sampai tulisan ini dibuat, sudah satu minggu, belum ada kabar kapan jaminan saya bisa di ambil. Semoga saja benar 3 minggu sudah bisa saya ambil agunan saya, biar tidak usah ada lagi urusan dengan perbankan.

O iya, jika sudah pelunasan pun, kita akan mendapat kembali uang yang sudah di blokir tadi. Semestinya proses pembukaan uang blokir ini cepat, karena dilakukan oleh kantor bank dimana kita berurusan. Namun apa yang saya alami, prosesnya memakan waktu 3 hari, dengan alasan dari bank “maaf pak, sistem kita lagi off..jadi belum bisa buka blokiran uang bapak…” Wah, apa lagi ini…masa yang punya kewenangan, yang punya sistem saja bisa mati…padahal kan sistem perbankan mereka tidak mungkin mati toh, karena tiap hari mereka melayani orang yang menabung dan meminjam. Apa mungkin sistem mereka mati? Atau hanya sekedar alasan? Sulitnya….

Apa yang saya alami ini, jika bukan keterpaksaan ekonomi (atau tepatnya memaksakan diri terpaksa) saya tidak mau berutang pada bank. Terlihat saat itu saya seperti pengemis, yang mengiba pada petugas bank agar memberikan pinjaman uang kepada saya dengan agunan ijazah…dan pada saat mau melunasinya pun, saya merasa diperlakukan seperti pendosa yang begitu dibenci para penguasa karena hendak mengembalikan uang mereka.

Sikap bank ini tak jauh seperti para rentenir pasar ya? Mau pinjam pun banyak di tanya ini itu. Jika telat bayar saja, kita sudah dikejar-kejar atau sita barang kita dan dikenakan bunga berlipat. Dan saat akan kita lunasi pun, seakan mereka ogah, acuh karena melihat kita punya uang untuk mengembalikan uang para rentenir. OMG!!!

Pinjaman ini diberikan khusus pada karyawan dengan jaminan ijazah sekolah terakhir dan kartu peserta jamsostek. Alhamdullilah, berkat pertolongan Allah Azza Wa Jalla, saya di gerakkan untuk melunasi utang ini pada  tanggal 15 September 2013 kemarin. Semoga Allah Azza Wa Jalla melindungi kita dari keinginan berutang ke bank, melindungi perasaan kita agar tak tergoda dengan bujuk rayu pinjaman bank, dan menghindarkan kita dari keinginan berutang. Semoga Allah memberkahi rezeki kita dan menghindarkan kita dari kefakiran. Amiin…

Bahkan hingga saya telah jadi pedaganga seperti sekarang pun, yang sudah tak punya agunan apa-apa lagi, tawaran kredit bank itu tetap bisa saya akses. Banyak sekali telepon dan sms yang masuk menawarkan kredit yang “mudah” bagi saya. Jadi masih mau berutang pada bank? Saya sudah benci bank dan semoga selamanya tetap benci….

Tobat Kredit Benci Bank

2 Comments

Di pertengahan bulan September 2013 ini, kami (saya dan istri) sepakat untuk tidak lagi menggunakan pembiayaan dari bank, baik KPR maupun skema kredit dari perbankan lainnya. Kami sudah TOBAT! Jadi sahabat pembaca berhak untuk mengingatkan saya lagi jika dikemudian hari saya kembali tergiur dengan tawaran pinjaman dari bank.

Lalu apa yang menjadi penyebab saya sudah melakukan PerTOBATan dari kredit bank tersebut? Apakah saya sudah mengalami kredit macet dan di blacklist oleh BI? Doakan saja semoga hal itu tidak pernah terjadi dan dialami oleh saya dan kita semua.

Hal yang membuat dada saya tersesak dan sedikit sempit sehingga saya alergi dengan kredit bank adalah konsekuensi dibalik semua rayuan gombal para bankir dan kronco-kronconya.

Contoh, untuk kredit kepemilikan kendaraan, baik mobil maupun motor, apatah itu kredit lewat bank langsung atau kantor leasing (yang sebenarnya perpanjangan tangan dari bank itu sendiri). Sudah banyak kita dengar cerita orang yang kredit kendaraan dan dikemudian hari dia tidak bisa membayar cicilan, kemudian kendaraan nya di sita.

Dan tidak sedikit orang juga yang kredit rumah (KPR), kemudian takdir berbicara lain, dia dipecat dari pekerjaannya, dan karena tenggat waktu bayar cicilan terus berjalan, dia over kredit rumahnya…namun karena ternyata menjual rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan, maka dia harus pinjam sana pinjam sini, gali lubang tutup lubang untuk dapat membayar cicilan rumahnya sambil berharap rumahnya segera terjual. Belum lagi masalah hidup lainnya yang harus dia pikirkan. Ada banyak masalah hidup yang semakin rumit dengan adanya kredit atau utang kepada bank.

Lihat saja aturan-aturan rumit menyiksa yang ada dibalik senyum manis tawaran-tawaran kredit itu. Semisal kredit rumah (KPR). Saya pernah menjajaki KPR rumah type RSS (dengan kisaran harga 60juta) dan rumah type menengah ke atas (dengan kisaran harga 300juta). Semua ada kesamaan aturan, yakni aturan yang tidak beresiko merugikan bank dan aturan yang beresiko besar kerugian dialami pihak pembeli.

Semisal bahwa bank akan menetapkan bunga yang besar sekali (besar jika dibanding di negara maju. Ingat ya, Indonesia masih termasuk kategori negara berkembang!). Atau bank syariah akan mengambil margin keuntungan yang sangat besar, dan pembeli tidak bisa menegosiasikan besarnya margin yang diambil bank syariah ini (teorinya sih dalam transaksi yang syariah itu, pembeli dan penjual bisa menyepakati harga jual yang ditetapkan). Atau semisal ada juga aturan yang mengikat pembeli untuk tidak menjual kembali (over kredit) jika belum mencapai waktu tertentu. Atau kegiatan menyita aset milik pembeli yang mengalami kredit macet. Atau pun memberikan denda kepada pembeli yang membatalkan pembelian. Semisal kita sudah memberikan uang muka hingga 30juta dan berniat membatalkan pembelian karena kita tidak puas dengan hasil bangunannya, maka uang muka tersebut hilang dan tidak kembali. Dan seabreg aturan lainnya yang merugikan pembeli.

Atau pun jika kita kredit kendaraan baik motor maupun mobil. Kita akan dikenakan denda jika kita telat membayar cicilan. Dendanya pun di hitung per hari. Sangat ketat. Namun beda lagi jika kita akan klaim asuransi kehilangan, misalkan. Maka penggantian nilai asuransinya tidak akan secepat jika kita telat bayar. Untuk kendaraan hilang yang sudah diasuransikan, uang penggantinya bisa diproses 2-4 minggu. Atau jika kendaraannya masih kredit, maka bukan kendaraan yang diganti. Namun, sisa utang cicilan kita akan di bayar oleh nilai asuransi. Jika nilai asuransinya lebih kecil dari sisa utang kredit mobilnya, maka kita harus “nombokin” sisa utang kredit tersebut. Bukan mobil yang kita dapat, namun sisa utang yang masih harus kita bayarkan. Memangnya ada leasing atau bank yang mau rugi? Kreditur macet yang “menghilang” saja sampai dikejar-kejar bank ke rumah orang tuanya.

Belum dengan rayuan-rayuan dari sales KTA (Kredit Tanpa Agunan) atau kartu kredit yang mencekik kita dengan bunga tinggi dan resiko bunga yang terus berlipat saat telat bayar cicilan. Salah-salah agunan kita bisa di sita. Padahal iklan yang sering kita dengar : “bank akan mendukung pertumbuhan usaha kita”. Itu pun jika tumbuh, jika tidak?

Masih banyak lagi resiko kita untuk terjepit dan harta serta hidup kita semakin sempit jika kita berutang dengan bank atau leasing. Maka solusinya adalah jangan berutang pada bank, sekalipun bertitel syariah. Bukankah sudah hukum alam bahwa kehidupan manusia ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kapan terjadinya kita di atas atau di bawah? Kita tak pernah tau…

Betul sekali jika ada pendapat yang mengatakan bahwa kesulitan membayar kredit itu bisa kita negosiasikan dengan pihak bank atau leasing. Namun apakah kita pantas mendapat resiko seperti itu jika masih ada pilihan hidup yang lainnya? Jika semisal kita membutuhkan penerangan, bukankah lebih baik kita gunakan senter daripada lilin yang berpeluang jatuh dan membakar rumah kita?

Solusinya PERTAMA : jangan hidup konsumtif. Janganlah berutang untuk kebutuhan diluar perut kita. Selama perut tidak kelaparan, jangan berutang untuk membeli yang lain. Berapa banyak di antara kita yang berutang (kredit) mobil agar terlihat kaya? Berapa banyak orang mengantri untuk kredit smartphone canggih agar terlihat ngeksis? Berutang-lah jika perut kita lapar dan kita tidak berdaya (tapi bukan karena malas!).

Solusi KEDUA : jika ingin dagang atau wirausaha, lakukan kerjasama dengan orang lain, apakah dia sebagai pemilik modal atau yang bersama-sama akan berdagang. Jangan dibiasakan lagi mendatangi bank untuk mengajukan kredit. Jangan sampai harta yang sudah Anda kumpulkan hasil bekerja, harus di sita oleh bank hanya karena kita tak pernah tahu keberuntungan kita. Kredit bank hanya ditujukan bagi orang yang sudah pasti untung terus selama hidupnya. Titik!

Solusi KETIGA : Bergabunglah dalam kebaikan. Bersama-sama kita bantu dan dukung kehidupan ekonomi saudara kita. Berikan bantuan pekerjaan ataupun permodalan sebatas keikhlasan kita. Jika kita bisa belikan kerupuk 1 bal harga 60 ribu, berikan pada mereka yang membutuhkan pekerjaan untuk menjual kerupuk itu. Berikan mereka kail untuk memancing, jangan berikan ikan terus kepada mereka. Jika kita terbiasa menyisihkan uang 100 ribu untuk sedekah, maka mulai sekarang titipkan dan kelola bersama-sama untuk memberikan bantuan pada mereka yang sudah terjerat kredit bank. Bantu mereka yang sudah terjerat rentenir berkedok bank ataupun perorangan. Yang ingin bergabung dalam kebaikan, silahkan hubungi saya.

Pendapat saya (ini pendapat saya lho ya…), bank bagaikan rentenir jalanan yang siap menghisap harta benda kita yang sudah terjajah oleh penyakit kemalasan, serba instant dan kemudahan kredit. Tak ada bank/leasing/rentenir yang mau rugi atau menolong kita saat kita susah. Semua kemudahan itu hanyalah semu. Mulai sekarang saya katakan : Aku Benci Kredit, Aku Benci Bank!

Salam keselamatan bagi kita semua,

NB : tulisan ini bukan ajakan atau provokasi untuk membenci bank, lembaga leasing atau rentenir. Tulisan ini adalah AJAKAN untuk membenci apa yang sudah dilakukan bank, lembaga leasing dan para rentenir dengan yang sudah dilakukan mereka di masa lampau.

http://about.me/hapesurya

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 724 other followers