Waktunya membeli rumah syariah yang tepat

2 Comments

Anda tentu sudah paham bahwa menurut para perencana keuangan, besaran cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), maksimal 30% dari penghasillan bulanan. Ini artinya, Anda harus berhemat sebesar 30% setiap bulan sampai cicilan selesai. Lamanya bisa sampai lima belas tahun. Dan itu tentu bukan hal mudah.

Namun, untuk memiliki rumah yang harganya semakin naik, Anda harus mau mengambil momentum dan sedikit berkorban.

Saat ini dinilai sebagai saat yang tepat karena beberapa developer muslim yang tergabung dalam APSI (Asosiasi Property Syariah Indonesia) tengah menggalakkan kemudahan pemilikan rumah saat bunga bank dan denda cicilan banyak menjerat masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Salah satunya adalah dengan menghilangkan biaya asuransi rumah, denda cicilan dan juga cicilan tanpa bunga dikarenakan semua itu termasuk akad transaksi RIBA yang mengandung gharar (judi) dan mengambil manfaat (Denda dan bunga) dalam transaksi utang piutang. Semua itu merugikan pihak konsumen dan tidak mengandung keberkahan jual beli.
Anda tidak berdosa jika tidak memiliki rumah. Namun Anda akan berdosa jika membeli rumah dengan cara RIBA.
Bahkan untuk rumah yang sudah di cicil beberapa waktu dan mengalami masalah pembayaran, tidak akan di sita melainkan akan di bantu kan di jual atau over kredit dengan akad perjanjian jual beli yang masih sama.
Melihat ragam peluang yang bisa Anda manfaatkan untuk memiliki rumah pribadi, coba cek sembilan hal berikut. Jika memenuhi tiga atau empat di antaranya, dapat memberikan indikasi bahwa Anda siap untuk mulai mengajukan cicilan KPR Syariah tanpa riba ini.
Anda tidak punya hutang
Ini adalah komitmen keuangan yang utama jika Anda hendak mengajukan KPR syariah. Pastikan saat ini Anda tidak punya pinjaman atau hutang dengan pihak manapun agar aliran dana bulanan Anda tidak terganggu.

Anda punya tabungan untuk keperluan mendadak
Mungkin jumlahnya tidak seberapa, namun tabungan ini harus tetap Anda miliki dan ditambah terus nominalnya setiap bulan. Sehingga bila sewaktu-waktu ada pengeluaran tak terduga, Anda sudah punya simpanan.

Anda punya tabungan uang muka
Minimal uang muka yang harus diajukan adalah sekitar 20 persen dari harga jual rumah. Namun kondisi di lapangan, nilainya bervariasi antara 10-30 persen tergantung penawaran setiap perumahan. Dengan jumlah yang minim tersebut, tidak ada kata terlambat untuk menabung uang muka.
Anda punya kondisi keuangan yang sehat
Umumnya pihak developer akan melakukan riset keuangan dan memeriksa apakah Anda punya utang kepada pihak lain atau tidak.

Punya alat perkakas rumah dan dapat melakukan perbaikan rumah skala kecil
Meski terlihat sepele tapi keterampilan ini sangat penting jika Anda memiliki rumah sendiri. Perbaikan seperti genteng atau tembok bocor mestinya menjadi pengetahuan yang Anda kuasai di luar kepala. Ini demi penghematan bujet bulanan.

Kontrakan saat ini tidak sesuai dengan kebutuhan Anda
Misalnya jika saat ini tempat tinggal Anda tinggal di kontrakan petak dan sudah menikah, tak ada salahnya pindah ke rumah subsidi. Meski lebih jauh dari pusat kota, Anda bisa membangun kehidupan pribadi yang lebih nyaman di sana.

Membeli adalah pertimbangan yang lebih baik ketimbang menyewa
Jika lokasi rumah incaran Anda punya harga yang miring dengan prospek kenaikan harga yang menjanjikan, tak perlu ragu untuk mulai mengalihkan uang sewa menjadi uang cicilan rumah.

Menyukai tinggal di daerah tersebut dan betah tinggal setidaknya lima tahun ke depan
Masalah sebagian besar pengontrak adalah kebiasaan pindah rumah yang membuatnya tidak nyaman untuk tinggal dalam jangka waktu panjang. Tapi jika Anda sudah merasa nyaman tinggal disana minimal lima tahun, maka keputusan cicilan KPR bisa jadi pilihan yang pas.

Anda ingin bebas mendekorasi rumah sesuai selera
Rumah kontrak umumnya tak bisa diubah-ubah sesuai selera. Mulai dari warna cat dan interior dinding dibiarkan saja kosong dan terlihat membosankan. Jika punya hunian sendiri, Anda bisa bebas berkreasi.
*Tulisan ini di sadur dari berbagai sumber.
Advertisements

Perjalanan Blog ini di 2013

Leave a comment

Posting kali ini meneruskan laporan dari WordPress.com tentang kontribusi sahabat semua  terhadap tulisan di blog saya ini selama tahun 2013 .

Berikut kutipannya :

Sebuah kereta subway New York City memiliki 1.200 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 5.200 kali pada tahun 2013. Jika itu adalah kereta bawah tanah kereta api NYC, itu akan memakan waktu sekitar 4 perjalanan untuk membawa banyak orang…mengagumkan 🙂

Laporan disampaikan dalam bahasa Inggris. Silahkan klik disini untuk melihat lebih lengkap.

Saya ucapkan terima kasih untuk partisipasi dan kunjungan sahabat pembaca selama ini terhadap tulisan saya. Salam sukses untuk Anda semua.

Tobat Kredit Benci Bank

9 Comments

Di pertengahan bulan September 2013 ini, kami (saya dan istri) sepakat untuk tidak lagi menggunakan pembiayaan dari bank, baik KPR maupun skema kredit dari perbankan lainnya. Kami sudah TOBAT! Jadi sahabat pembaca berhak untuk mengingatkan saya lagi jika dikemudian hari saya kembali tergiur dengan tawaran pinjaman dari bank.

Lalu apa yang menjadi penyebab saya sudah melakukan PerTOBATan dari kredit bank tersebut? Apakah saya sudah mengalami kredit macet dan di blacklist oleh BI? Doakan saja semoga hal itu tidak pernah terjadi dan dialami oleh saya dan kita semua.

Hal yang membuat dada saya tersesak dan sedikit sempit sehingga saya alergi dengan kredit bank adalah konsekuensi dibalik semua rayuan gombal para bankir dan kronco-kronconya.

Contoh, untuk kredit kepemilikan kendaraan, baik mobil maupun motor, apatah itu kredit lewat bank langsung atau kantor leasing (yang sebenarnya perpanjangan tangan dari bank itu sendiri). Sudah banyak kita dengar cerita orang yang kredit kendaraan dan dikemudian hari dia tidak bisa membayar cicilan, kemudian kendaraan nya di sita.

Dan tidak sedikit orang juga yang kredit rumah (KPR), kemudian takdir berbicara lain, dia dipecat dari pekerjaannya, dan karena tenggat waktu bayar cicilan terus berjalan, dia over kredit rumahnya…namun karena ternyata menjual rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan, maka dia harus pinjam sana pinjam sini, gali lubang tutup lubang untuk dapat membayar cicilan rumahnya sambil berharap rumahnya segera terjual. Belum lagi masalah hidup lainnya yang harus dia pikirkan. Ada banyak masalah hidup yang semakin rumit dengan adanya kredit atau utang kepada bank.

Lihat saja aturan-aturan rumit menyiksa yang ada dibalik senyum manis tawaran-tawaran kredit itu. Semisal kredit rumah (KPR). Saya pernah menjajaki KPR rumah type RSS (dengan kisaran harga 60juta) dan rumah type menengah ke atas (dengan kisaran harga 300juta). Semua ada kesamaan aturan, yakni aturan yang tidak beresiko merugikan bank dan aturan yang beresiko besar kerugian dialami pihak pembeli.

Semisal bahwa bank akan menetapkan bunga yang besar sekali (besar jika dibanding di negara maju. Ingat ya, Indonesia masih termasuk kategori negara berkembang!). Atau bank syariah akan mengambil margin keuntungan yang sangat besar, dan pembeli tidak bisa menegosiasikan besarnya margin yang diambil bank syariah ini (teorinya sih dalam transaksi yang syariah itu, pembeli dan penjual bisa menyepakati harga jual yang ditetapkan). Atau semisal ada juga aturan yang mengikat pembeli untuk tidak menjual kembali (over kredit) jika belum mencapai waktu tertentu. Atau kegiatan menyita aset milik pembeli yang mengalami kredit macet. Atau pun memberikan denda kepada pembeli yang membatalkan pembelian. Semisal kita sudah memberikan uang muka hingga 30juta dan berniat membatalkan pembelian karena kita tidak puas dengan hasil bangunannya, maka uang muka tersebut hilang dan tidak kembali. Dan seabreg aturan lainnya yang merugikan pembeli.

Atau pun jika kita kredit kendaraan baik motor maupun mobil. Kita akan dikenakan denda jika kita telat membayar cicilan. Dendanya pun di hitung per hari. Sangat ketat. Namun beda lagi jika kita akan klaim asuransi kehilangan, misalkan. Maka penggantian nilai asuransinya tidak akan secepat jika kita telat bayar. Untuk kendaraan hilang yang sudah diasuransikan, uang penggantinya bisa diproses 2-4 minggu. Atau jika kendaraannya masih kredit, maka bukan kendaraan yang diganti. Namun, sisa utang cicilan kita akan di bayar oleh nilai asuransi. Jika nilai asuransinya lebih kecil dari sisa utang kredit mobilnya, maka kita harus “nombokin” sisa utang kredit tersebut. Bukan mobil yang kita dapat, namun sisa utang yang masih harus kita bayarkan. Memangnya ada leasing atau bank yang mau rugi? Kreditur macet yang “menghilang” saja sampai dikejar-kejar bank ke rumah orang tuanya.

Belum dengan rayuan-rayuan dari sales KTA (Kredit Tanpa Agunan) atau kartu kredit yang mencekik kita dengan bunga tinggi dan resiko bunga yang terus berlipat saat telat bayar cicilan. Salah-salah agunan kita bisa di sita. Padahal iklan yang sering kita dengar : “bank akan mendukung pertumbuhan usaha kita”. Itu pun jika tumbuh, jika tidak?

Masih banyak lagi resiko kita untuk terjepit dan harta serta hidup kita semakin sempit jika kita berutang dengan bank atau leasing. Maka solusinya adalah jangan berutang pada bank, sekalipun bertitel syariah. Bukankah sudah hukum alam bahwa kehidupan manusia ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kapan terjadinya kita di atas atau di bawah? Kita tak pernah tau…

Betul sekali jika ada pendapat yang mengatakan bahwa kesulitan membayar kredit itu bisa kita negosiasikan dengan pihak bank atau leasing. Namun apakah kita pantas mendapat resiko seperti itu jika masih ada pilihan hidup yang lainnya? Jika semisal kita membutuhkan penerangan, bukankah lebih baik kita gunakan senter daripada lilin yang berpeluang jatuh dan membakar rumah kita?

Solusinya PERTAMA : jangan hidup konsumtif. Janganlah berutang untuk kebutuhan diluar perut kita. Selama perut tidak kelaparan, jangan berutang untuk membeli yang lain. Berapa banyak di antara kita yang berutang (kredit) mobil agar terlihat kaya? Berapa banyak orang mengantri untuk kredit smartphone canggih agar terlihat ngeksis? Berutang-lah jika perut kita lapar dan kita tidak berdaya (tapi bukan karena malas!).

Solusi KEDUA : jika ingin dagang atau wirausaha, lakukan kerjasama dengan orang lain, apakah dia sebagai pemilik modal atau yang bersama-sama akan berdagang. Jangan dibiasakan lagi mendatangi bank untuk mengajukan kredit. Jangan sampai harta yang sudah Anda kumpulkan hasil bekerja, harus di sita oleh bank hanya karena kita tak pernah tahu keberuntungan kita. Kredit bank hanya ditujukan bagi orang yang sudah pasti untung terus selama hidupnya. Titik!

Solusi KETIGA : Bergabunglah dalam kebaikan. Bersama-sama kita bantu dan dukung kehidupan ekonomi saudara kita. Berikan bantuan pekerjaan ataupun permodalan sebatas keikhlasan kita. Jika kita bisa belikan kerupuk 1 bal harga 60 ribu, berikan pada mereka yang membutuhkan pekerjaan untuk menjual kerupuk itu. Berikan mereka kail untuk memancing, jangan berikan ikan terus kepada mereka. Jika kita terbiasa menyisihkan uang 100 ribu untuk sedekah, maka mulai sekarang titipkan dan kelola bersama-sama untuk memberikan bantuan pada mereka yang sudah terjerat kredit bank. Bantu mereka yang sudah terjerat rentenir berkedok bank ataupun perorangan. Yang ingin bergabung dalam kebaikan, silahkan hubungi saya.

Pendapat saya (ini pendapat saya lho ya…), bank bagaikan rentenir jalanan yang siap menghisap harta benda kita yang sudah terjajah oleh penyakit kemalasan, serba instant dan kemudahan kredit. Tak ada bank/leasing/rentenir yang mau rugi atau menolong kita saat kita susah. Semua kemudahan itu hanyalah semu. Mulai sekarang saya katakan : Aku Benci Kredit, Aku Benci Bank!

Salam keselamatan bagi kita semua,

NB : tulisan ini bukan ajakan atau provokasi untuk membenci bank, lembaga leasing atau rentenir. Tulisan ini adalah AJAKAN untuk membenci apa yang sudah dilakukan bank, lembaga leasing dan para rentenir dengan yang sudah dilakukan mereka di masa lampau.

http://about.me/hapesurya

Watch “Evangelizing for the Lean Startup” on YouTube

Leave a comment

Bagi kamu yang ingin belajar secara audio visual tentang apa itu Lean Startup, simak video durasi 1 jam ini….

Terima kasih buat annasahmad.com yang sudah menginfokan adanya video ini.

Pengusaha sukses dlm perspektif islam

Leave a comment

1. Optimis
A. Sukses ada dmn2 (ath thalaq 2-3)
B. Rejeki Allah tidak pernah habis
“Tangan Allah senantiasa penuh, tiada pernah berkurang krn terus memberi. Allah Maha Pemberi sepanjang malam dan siang. Pikirkan karunia Allah sejak Ia menciptakan langit dan bumi, semua itu sedikitpun tidak mengurangi rizki yang ada dalam genggaman-Nya (Muttafaqun’alaih)
C. Rizki menertai denyut nadi
Tidak akan mati hingga telah mengenyam seluruh rezki. Tempuhlah jalan rizki halal, tinggalkan yg haram. (Ibnu Majah)
D. Jangan ratapi masa lalu (al hadid 22-23)
Jangan buat cita2 masa lalu…”andai aku berbuat demikian, pasti kejadiannya akan demikian”

3. Pahami karakter dunia
“Dunia itu manis nan indah”. (Muslim)
Aplikasinya juallah :
1. Layanan/Kenyamanan
2. Keindahan (penampilan)

4. Sertakan orang lain dalam kesuksesan
Allah Azza wa Jalla berfirman “Berinfaklah niscaya aku terus melimpahkan rizki ku kepadamu” (Muttafaqun’alaih)

5. Meniti sukses setapak demi setapak
Hujan turun setetes demi setetes
Allah turunkan rejeki sesuai ukuran, agar kita tak melampaui batas (Asy Syura 27)

Sumber disadur dari ceramah ust. Arifin Badri

Post Galau 16 : Uang pemicu kesedihan

2 Comments

Kamis, 13 Oktober 2011 sore hari

Begitu mengetahui kalau ternyata Mas Asto dan Pak Iwan sudah memegang uang cash kiriman dari keluarga mereka, hati saya semakin ciut. Berarti tinggal saya sendiri yang harus berjuang mempertahankan hidup di kota Jogja, pikir saya saat itu.

Selepas mengambil uang dari ATM, Pak Ustad memberitahu kami bahwa malam nanti, salah satu anak beliau, bernama Abdullah, akan pulang ke rumah (Al Hadi) dari pesantrennya di Solo, dalam rangka libur sekolah. Pak Ustad memberi tahu bahwa malam nanti, kita akan menjemput Abdullah di Stasiun Tugu.

Dan sambil menunggu kedatangan Abdullah, Pak Ustad mempersilahkan kami untuk jalan-jalan keliling Jogja. Akhirnya meninggalkan ATM, kami menelusuri jalanan Kota Jogja. Bu Ustad menawarkan kami untuk membeli oleh-oleh kue Bakpia di salah satu toko Bakpia merk terkenal.

Mobil yang kali ini saya kemudikan, karena Pak Ustad merasa lelah untuk mengemudikan mobil, saya pacu dengan sedikit santai. Pak Ustad yang duduk di sebelah saya, menjadi penunjuk arah jalanan Jogja hingga kami tiba di toko Bakpia yang dimaksud.

Setiba di toko oleh-oleh tersebut, hari sudah mulai sore. Di sana Mas Asto dan Pak Iwan membeli beberapa dus kue Bakpia untuk oleh-oleh ke rumah dan juga pesanan beberapa teman mereka lewat FaceBook. Saya yang tadinya hanya berniat menunggu di kursi kemudi, di tanya Pak Ustad mengapa tidak ikut membeli Bakpia.

Saya tidak menjawab "saya tidak punya uang". Namun agar tidak mencirikan saya tidak punya uang, akhirnya saya pun keluar mobil dan bergabung dengan Mas Asto dan Pak Iwan memilih oleh-oleh Jogja.

Nampaknya Mas Asto memang tahu keberadaan saya memilih oleh-oleh di toko tersebut, tentu tanpa maksud membeli karena beliau memang tahu saya tidak punya uang. Akhirnya, sambil mendekati saya "Akh, ini saya pinjemin uang 100 ribu. Barangkali mau beli oleh-oleh buat orang rumah" bisik Mas Asto.

Terbayang bagaimana perasaan saya saat menerima uang itu? Sedih, Malu, Senang bercampur aduk. Sedih karena hingga saat itu saya belum mendapat uang sepeser pun. Jangankan uang untuk membeli Bakpia, uang untuk makan sendiri pun tidak tahu harus mencari dari mana. Malu karena semakin memperlihatkan kelemahan saya saja. Senang karena akhirnya saya bisa belikan oleh-oleh Jogja untuk anak istri.

"Terima kasih ya Akh, uangnya saya pinjem dulu. Nanti saya ganti di Jakarta" jawab saya dengan mata berkaca tanpa berani menatap mata Mas Asto. Akhirnya saya membeli 2 dus kecil kue Bakpia. Saat itu harganya sekitar 30 ribu untuk 2 dus, kalau saya tidak lupa. Sengaja saya sisakan uangnya untuk keperluan lainnya nanti saya di jalan.

Setelah membeli beberapa dus makanan, kami melanjutkan perjalanan keliling Jogja. Saat itu waktu menuju magrib dan saya tetap memegang kemudi mobil. Akhirnya Pak Ustad meminta saya untuk menunggu Abdullah di Stasiun Tugu saja, sambil shalat Magrib di sana.

Akhirnya kami tiba di Stasiun Tugu, tempat berawal kesedihan para murid Sekolah Monyet dimulai. Setelah mobil saya parkirkan, kami semua bergantian menunaikan shalat Magrib di mushola Stasiun Tugu. Sesekali saya lihat Pak Ustad menelepon Abdullah menanyakan posisi dia di kereta.

Sambil menunggu, Pak Ustad meminta kami membuatkan stempel sederhana untuk Pesantren Al Hadi. "Tulisannya sederhana saja "Pesantren Al Hadi, Triharjo, Sleman, Jogjakarta" bentuk melingkar. Bikin yang kilat saja, harganya sekitar 25 ribuan. Bikin di sana, di sepanjang jalan itu banyak tukang bikin stempel kilat" sambil tunjuk Pak Ustad ke salah satu pertigaan jalan dekat Stasiun Tugu.

Kami bertiga memenuhi permintaan Pak Ustad mencarikan tukan stempel yang masih buka dan bisa cepat selesai di sepanjang jalan sesuai petunjuk Pak Ustad. Dari 3 warung kecil pembuat stempel, akhirnya kami menemukan yang bisa membuat stempel kilat. Dan stempel pun selesai setelah negosiasi harga dalam bahasa Jawa yang dilakukan Mas Asto dengan tukang stempel itu.

Dan akhirnya setelah adzan Isya berkumandang, Abdullah memberi kabar bahwa dia sudah tiba di Stasiun Tugu. Akhirnya yang ditunggu telah datang, Abdullah menghampiri kami di pelataran parkir Stasiun Tugu. Terlihat perasaan senang sebagai orang tua yang sudah lama tidak bertemu anak pertama mereka yang pergi sekolah pesantren di Solo.

Setelah bercakap melepas rindu, akhirnya Pak Ustad mengajak kami melanjutkan perjalanan. Pak Ustad juga secara tiba-tiba memberitahukan kami bertiga bahwa beliau akan pergi ke Bandung tengah malam nanti, dan jika jadi beliau akan lanjut pergi ke Jakarta sebagaimana janji beliau kepada kami sebelumnya.

Saya sangat senang mendengar berita ini. Akhirnya bayangan rumah dan keluarga mulai terlihat, bahwa saya akan kembali pulang. Dan setelah menjemput Abdullah, Pak Ustad meminta saya diantar ke rumah teman beliau (orang yang sama saat pertama kami bertemu di Gedung DPD PKS Jogja).

Setibanya kami di rumah teman Pak Ustad tersebut, ternyata teman Pak Ustad tersebut meminjamkan Pak Ustad mobil Panther miliknya. Pak Ustad bilang pada kami bahwa temannya tersebut akan menyusul pergi ke Jakarta, karena keesokan harinya beliau sudah ada janji. "Besok dia akan menyusul ke Jakarta, pergi dari Bandara Adisucipto. Nanti biar saya yang jemput dia di bandara Jakarta" kata Pak Ustad menjelaskan.

Akhirnya mobil Panther tersebut dikemudikan Pak Iwan dan Mas Asto karena Pak Ustad memilih untuk tetap bersama saya serta anak istrinya. Mungkin sekalian melepas rindu dengan Abdullah yang baru saja bertemu. Akhirnya kami melanjutkan pulang ke Pesantren Al Hadi, dengan Pak Iwan dan Mas Asto yang mengemudikan mobil Panther mengikuti dari belakang saya.

Setelah kami tiba di rumah, Pak Ustad mempersilahkan kami beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung. "Jam 11 malem aja ya kita pergi, biar tiba di sana subuh" jelas Pak Ustad kepada kami. Akhirnya kami bertiga beranjak naik ke kamar atas, membereskan semua barang kami.

Hingga akhirnya, sekitar jam 10.45 malam, Pak Ustad memanggil kami semua dari bawah, untuk bersiap-siap berangkat dan memasukkan semua barang kami ke dalam mobil Panther. Kami akan berangkat ke Bandung menggunakan mobil Panther tersebut. Saya dan Mas Asto juga membawa beberapa bundel Al Quran Terjemah, barang jualan Pak Ustad untuk kami bawa ke rumah, guna kami jual di sana.

Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dengan Al Quran tersebut, apakah akan laku terjual di rumah atau tidak. Padahal saya membawa Quran cukup banyak dibanding Mas Asto, ada sekitar 4-5 buah. Bagaimana nanti saja, saya pikir….dan akhirnya kami meninggalkan pesantren Al Hadi sekitar jam 11 malam lebih…

Post Galau 15 : Let it God, let it good

Leave a comment

Kamis, 13 Oktober 2011

Setelah lelah seharian mengikuti jadwal ceramah Pak Ustad, pagi itu kami memperbanyak proposal yang telah kami buat. Masih banyak perbaikan proposal yang harus saya lakukan, karena saya cukup repot harus mengerjakan proposal pembangunan masjid sendirian.

Selepas sholat subuh berjamaah, kami banyak menghabiskan waktu di kamar. Pagi itu kami sudah sedikit lebih tenang karena dapat hidup lebih baik, makan dan minum dengan nikmat, istirahat dengan tenang, mandi dengan nyaman meski pakaian yang saya gunakan harus di bolak balik…

Pagi itu, sekitar jam 8 pagi Pak Ustad pamit kepada kami bahwa beliau akan pergi untuk mengisi pengajian di tempat lain dan pergi di jemput, jadi kami tidak perlu bersama beliau. "Kalian di sini saja ya, selesaikan proposalnya. Nanti siang saya juga pulang" kata Pak Ustad kepada kami.

Hari itu pikiran saya sudah sedikit tenang. Bukan karena semua sudah ada jalan keluarnya, namun saya sudah mem-pasrah-kan diri dengan kondisi pekerjaan saya. Saya sudah pasrah untuk di PECAT!!

Urusan rumah tangga juga sudah saya selesaikan hari itu. Saya putuskan untuk tidak lagi terganggu dengan kekhawatiran istri yang akan marah besar atau meminta cerai. Saya tidak ingin konsentrasi saya terganggu dengan ancaman istri dan kondisi rumah yang tidak kondusif. Saya harus fokus pada SOLUSI!!

Hingga waktu dzuhur, kami tetap di kamar. Bila kami ingin makan atau minum, kami cukup turun ke dapur yang ada di lantai bawah. Meskipun Pak Ustad memberikan kami modem internet Flash Telkomsel, namun ternyata tidak ada jaringan internet di sana, sehingga kami tidak ada koneksi internet.

Sekitar jam 1 siang, Pak Ustad telah kembali ke Pesantren. Beliau memberitahu kami bahwa sekitar jam 2 siang, beliau ada jadwal ceramah di radio MQ Jogja dan mengajak kami bertiga untuk ikut serta menemani. Akhirnya kami semua, termasuk anak istri Pak Ustad, pergi ke Radio MQ Jogja yang berada kawasan sekolah STMIK AMIKOM Jogja.

Setibanya di sana, Pak Ustad terburu-buru harus segera siaran. Belum tiba di tempat parkir, Pak Ustad meminta kami bertiga memarkirkan mobil. Saat itu mobil beliau Kia Carnival Automatic berwarna hijau tua. Namun ternyata Pak Iwan dan Mas Asto dengan kompak menunjuk saya sebagai orang yang bisa menggunakan mobil transmisi Matic, karena mereka berdua belum pernah menggunakan mobil Matic.

Padahal berbekal pengalaman saya dulu, tahun 2006, saat bekerja membantu Artis Senior, Jenny Rachman, saya hanya sekali menggunakan mobil Jenny Rachman yang persis sama dengan mobil Psk Ustad ini.

Setelah saya parkirkan mobil, kami bertiga masuk dan menunggu di lobby STMIK. Disana ada sarana komputer berkoneksi internet gratis. Kami bisa berinternet dengan leluasa akhirnya.

Setelah Pak Ustad selesai siaran, kami semua diajak jalan-jalan oleh Pak Ustad keliling kota Jogja. Di jalan pun, Pak Iwan dan Mas Asto meminta ijin untuk pergi ke ATM Mandiri dan meminjam ATM Pak Ustad untuk mengambil uang yang sudah ditransferkan oleh istri Pak Iwan dan Mas Asto.

Saya sangat sedih melihat Pak Iwan dan Mas Asto yang seolah mendapat dukungan dan bantuan penuh dari istri mereka dengan kepergian mereka ke Jogja ini, hingga di perkenankan di kirimi uang dari rumah. Sementara saya…harus memutar otak bagaimana cara mendapatkan uang, yang hingga hari ke 3 di Jogja belum satu rupiah pun saya dapatkan…

Older Entries