Pengambilan JHT di Jamsostek Bekasi

2 Comments

Sudah 2 tahun semenjak saya keluar kerja, tabungan di Jamsostek berupa Jaminan Hari Tua (JHT) baru bisa saya ambil sekarang.  Tabungan Jamsostek selama kerja 4 tahun itu sayang juga jika di biarkan begitu saja.

Sebagai syarat awal, bahwa uang JHT ini baru bisa diambil setelah masa kerja 5 tahun dan masa tunggu 1 bulan. Dan berhubung masa aktif Jamsostek saya, dari awal bekerja hingga keluar sudah 6 tahun, maka saya sudah bisa mengambil uang JHT tersebut.

Berikut syarat dokumen yang mesti dipersiapkan untuk dapat mengambil uang JHT :

1. Kartu jamsostek (asli)
2. KTP atau SIM yg berlaku (asli & copy 2 lembar)
3. Kartu Keluarga (KK) yg berlaku (asli & copy 1 lembar)
4. Surat Pengalaman Kerja/parklaring dari perusahaan kita bekerja (asli & copy 1 lembar)
5. Dokumen pendukung lainnya seperti ijazah/surat nikah/pasport (cukup salah satu saja, di bawa copy & asli)
6. Mengisi lembar formulir yang bisa kita peroleh dari kantor Jamsostek. Ada dua lembar formulir yang harus kita isi.

Keterangan :
1. Jika kartu jamsostek dan surat pengalaman kerja hilang, sebagai pengganti adalah surat keterangan hilang dari kepolisian yang dilegalisir oleh perusahaan (stempel & tanda tangan HRD jika perusahaan masih ada)

2. Mohon di cek nama, tanggal lahir dan alamat di dokumen terlampir, penulisan harus sama. Jika ada yang berbeda, dilampirkan surat keterangan dari perusahaan atau kelurahan yang menerangkan nama, tanggal lahir dan alamat yang sebenarnya.

3. Jika alamat di KK dan KTP yang berbeda hanya RT/RW nya saja karena proses pemekaran maka cukup lampirkan surat keterangan RT/RW setempat yang menjelaskan RT/RW yang benar.

4. Jika pembayaran ingin di transfer dilampirkan fotocopi buku tabungan atas nama pemegang kartu Jamsostek.

5. Jika kepesertaan Jamsostek dan KTP berada diluar Bekasi, mohon dilampirkan keterangan domisili RT/RW di Bekasi.

Dan setelah kita siapkan dokumen-dokumen tersebut, maka berikut kronologi pengalaman yang saya rasakan di lapangan :

Hari pertama, Senin 7 Oktober.

Di hari pertama saya datang, hari senin 7 oktober, saat itu sekitar jam 10 pagi, ternyata kantor Jamsostek sudah dipenuhi orang hingga ke pelataran parkir. Ternyata petugas security di sana, setelah memberikan formulir isian pengambilan JHT, saya di minta datang kembali keesokan harinya sebelum jam 7 pagi, sembari meminta saya agar formulir pengambilan JHT tersebut diisi di rumah. Akhirnya saya kembali pulang ke rumah, membawa formulir isian Jamsostek yang akan saya isi di rumah.

Hari kedua, Selasa 8 Oktober.

Di hari kedua, hari Selasa 8 Oktober, saya mengalami kendala di perjalanan akibat ulah preman dan petugas DLLAJ yang tidak komunikatif pada pengendara kendaraan. Jalanan di tutup dan di putar tak jelas arah. Hingga akhirnya saya terlambat datang di Kantor Jamsostek Bekasi dan baru tiba jam 7.45 dan saya mendapatkan nomor antrian 197.

Dari obrolan dengan teman duduk di sebelah, ada yang datang jam 6 pagi dan dapat antrian 48. Duh, saya membayangkan jam berapa harus datang agar mendapat nomor antrian 1. Ini adalah pengalaman pertama saya mengambil JHT di Jamsostek Bekasi dan saya pun tidak mendapat informasi lain di Internet mengenai bagaimana kondisi pengambilan JHT di kantor Jamsostek itu.

Hingga akhirnya jam 12.30 antrian sudah memasuki nomor 100. Itu pun dibarengi dengan beberapa kali kejadian mati listrik dan beberapa nomor antrian yang tidak jadi datang.

Jam 13.38 nomor antrian sudah menunjukkan angka 125.

Iseng-iseng saya ukur pelayanan tercepat setiap loketnya yakni 4 menit per orang. Namun ada juga yang sampai 6-7 menit per orang per loket. Belum lagi ada beberapa menit yang hilang dimana saat petugas loketnya pergi ke belakang loket, entah untuk keperluan apa.

Untuk layanan pengambilan JHT di batasi sampai 200 nomor antrian. Sementara ada 4 loket pelayanan pengambilan JHT, yakni loket 3, 4 , 5 dan 6. Serta ada 1 loket kasir yakni di loket 7. Artinya jika rata-rata per orang dilayani hingga 5 menit, ada sekitar 16 jam dan itu tidak mungkin. Jika jam layanan dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, berarti selama 9 jam, 4 loket tersebut punya jatah waktu melayani rata-rata 135 menit untuk 50 orang (9 jam di bagi 4 loket dan 200 antrian dibagi 4 loket). Dan itu artinya 1 loket harus bisa melayani per orangnya selama 2, 7 menit. Dan ini belum dikurangi waktu istirahat petugas loket dan gangguan teknis lainnya seperti mati listrik.

Beberapa kali mati listrik. Ada sekitar 4-5 kali listrik padam. AC pun otomatis tidak nyala sehingga ruangan cukup panas disesaki banyak orang. Dan pada jam 14.00, listrik mati lagi untuk waktu cukup lama hingga petugas Jamsosteknya mengumumkan bahwa meminta maaf atas kejadian ini dan akan tetap dilayani namun secara manual. Itu artinya kita tidak dapat mengetahui berapa total uang JHT yang kita peroleh.

Ada juga yang tidak hadir saat nomor antrian di panggil. Nampaknya memang menunggu ini pekerjaan yang membosankan. Di tambah pelayanan yang lumayan lama, ruangan yang panas dan tempat duduk yang keras. Sangat kurang nyaman menunggu lama di kursi keras seperti itu. Tidak ada TV ataupun yang dapat membuat kita nyaman menunggu.

Dan akhirnya saya pun di layani pada jam 15.45 saat panggilan nomor 197 keluar di layar panggilan loket 3.

Dan dikarenakan untuk pembayaran uang JHT saya minta dengan tunai, bukan di transfer, maka saya harus datang lagi keesokan harinya – dan antri lagi tentunya- di loket kasir, loket 7. Dari petugas loket 3 ini, saya diberikan 2 lembar kertas untuk bukti pengambilan uang JHT besok harinya di loket 7.

Hari Ketiga, Rabu 9 Oktober.

Keesokan harinya saya datang lagi jam 10.45. Untuk pengambilan tunai di loket kasir Jamsostek ini tidak harus datang subuh untuk ambil nomor antrian. Kali ini saya mendapat nomor antrian 576.

Pada saat pengambilan nomor antrian, formulir yang bermaterai 6 ribu dan lembar pengambilan uang di kasir , kita serahkan ke petugas disana. Kemudian saya diminta menunggu panggilan nomor antrian.

Di loket kasir ini, pemanggilan nomor antrian tidak berurutan. Saya pun tidak paham kenapa nomor antrian yang di panggil dengan cara acak. Dan akhirnya saya mendapat panggilan pada jam 12.45. Uang JHT pun saya terima dengan tunai.

Akan lebih cepat lagi jika kita punya nomor rekening BNI karena bank yang mengurus pembayaran JHT ini adalah Bank BNI. Fotocopy dan asli buku rekening kita serahkan kepada petugas bank BNI yang secara khusus melayani khusus pemegang rekening BNI di meja terpisah.

Hikmah dan pelajaran yang saya peroleh dari pengalaman ini dan semoga menjadi persiapan buat sahabat pembaca yang hendak mengambil uang JHT :

1. Datang sebelum jam 6 pagi di kantor Jamsostek Bekasi, untuk mengambil nomor antrian dan mengisi formulir pengambilan JHT.

2. Siapkan juga 3 lembar fotocopi KTP untuk digunakan syarat dokumen pengambilan JHT sebanyak 2 lembar dan pengambilan uang tunai di loket kasir sebanyak 1 lembar.

3. Bawa materai 6 ribu untuk ditempelkan di lembar pernyataan saat pengambilan uang tunai JHT di loket 7.

4. Bawa air minum, makanan ringan dan gadget dengan baterai yang full. Bawa juga baterai cadangan. Karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan.

5. Jika memang kita mendapat nomor antrian yang besar, 180-190 an, maka lebih baik pulang sja dulu ke rumah dan kembali lagi sekitar jam 12 siang.  Pengalaman saya , antrian 100 saja baru di panggil jam 12 siang.

6. Jangan ajak anak istri. Karena mereka bisa bosan di sana, dan merusak mood kita karena suasana dapat semakin menjengkelkan.

O iya, saya tidak tahu persis soal ini. Yang pasti, selama bekerja 3 tahun 2 bulan atau 8 bulan sebelum saya keluar kerja, saya mendapat saldo JHT sekitar 3 jutaan. Dan setelah 2 tahun sejak awal saya keluar kerja ini, ternyata saldo JHT yang saya ambil ada sekitar 5 jutaan. Apakah memang selama saya sudah tidak bekerja dan sudah tidak setor lagi uang Jamsostek ini, uang JHT tersebut terus bertambah karena investasi di Jamsostek? Yang pasti, saya tidak menyesal uang JHT ini sudah di ambil.

Kalaupun toh memang uang JHT kita terus berkembang meski kita sudah tidak lagi bekerja dan menyetor uang iuran Jamsostek, kita tak pernah tau seberapa besar uang kita bertambah. Jika pun kita hendak berinvestasi, lebih baik uang JHT tersebut kita ambil dan kita investasikan pada usaha real. Lebih cepat bertambah, meski juga bisa jadi cepat berkurang..hehe…

High Return, High Risk…

Semoga bermanfaat…

Advertisements

Rentenir Bertopeng Bank : Pinjaman Karyawan

6 Comments

Ini adalah catatan sejarah pinjaman saya ke salah satu bank BUMN yang dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2011 selama 36 bulan atau 3 tahun, dengan aturan dan sanksi berikut :

1. Bunga 16,8%/thn atau 1,4%/bln
2. Jika Pelunasan Sebelum Jatuh Tempo, maka dikenakan :
– Penalti 2% dari sisa pokok
– Biaya Administrasi 6% dari sisa pokok

3. Jika terlambat membayar cicilan, maka dikenakan denda tunggakan 2% dari cicilan bulanan yakni Rp. 584.889,- (Utang Pokok Rp.388.889,- + bunga Rp. 196.000,-)

Wow…jika di hitung selama 3 tahun, maka bunganya mencapai angka 7.056.000,- atau 50,4% dari uang yang kita pinjam, yakni 14 juta. “Kejam sih ya…tapi mau bagaimana lagi pak, kan butuh????”

Ok, sekarang coba hitung total utang pokoknya. Jika Rp. 388.889,- di kalikan 36 bulan, maka ternyata totalnya 14.000.004,-! Sementara uang yang kita terima kurang dari 14 juta, setelah dikurangi biaya administrasi (saya tidak ingat berapa puluh ribu saat itu yang saya bayar ke teller bank), dan uang “terima kasih” yang sepantasnya di berikan ke marketing bank-nya. “Ya nggak usah di kasih aja pak? Kan orang bank nya sudah dapet gaji.” Yes, saya setuju, tapi Anda tidak akan pernah bisa menolak, jika di bilang sama orang marketing bank-nya “Bapak kan sudah dapat 14 juta, ya…ini sih seikhlasnya saja bapak kasih ke saya…lagian juga ini jadi tambahan penghasilan saya diluar gaji saya yang kecil dari bank pak….”. Kejamnya…

Selain itu, dari total pinjaman 14juta tersebut, ada sejumlah uang yang di blokir, agar tidak bisa kita ambil selama pinjaman berlangsung, senilai sebanyak satu kali cicilan kita. Dalam kasus saya, uang 600.000,- tertahan di saldo rekening saya. Uang di blokir ini untuk tujuan, jika kita tak bisa melunasi utang kita, setidaknya bank sudah meng-aman-kan uang mereka sebesar satu kali cicilan.

Pembayaran cicilannya pun dilakukan dengan autodebit atau potong otomatis dari saldo tabungan kita. Tanpa tedeng aling-aling, tak mau tahu saat itu kita sedang tergeletak di rumah sakit atau tidak punya uang, berapapun saldo yang ada di tabungan anda, bank akan ambil untuk membayar cicilan utang Anda. Jika masih kurang, maka tulisan di saldo tabungan anda akan tertulis “-…” alias minus xxx rupiah.

Dan akhirnya tiba pelunasan yang dipercepat dari jatuh tempo 3 tahun, maka prosesnya pun sangat ribet. Memang untuk pelunasan di percepat ini , kita terlihat untung. Perhitungannya, kita hanya harus membayar sisa pokok nya saja. Saat itu terhitung sisa pokok utang saya tinggal 5.444.442,-. Maka karena pelunasan di percepat, kita dikenakan penalti dan biaya administrasi (sesuai ketentuan dalam perjanjian diatas) dengan total 606.265,03. Huff…ngelus dada…

Setelah kita membayar lunas pinjaman kita, tibalah dimana kita bisa mengambil kembali jaminan yang sudah kita agunkan ke bank, yakni ijazah dan kartu peserta jamsostek. Namun ternyata tak semudah itu. Kata orang bank, agunan pinjaman baru bisa di ambil maksimal 3 minggu proses kerja. WHAT!!! Lama banget…bahkan sampai tulisan ini dibuat, sudah satu minggu, belum ada kabar kapan jaminan saya bisa di ambil. Semoga saja benar 3 minggu sudah bisa saya ambil agunan saya, biar tidak usah ada lagi urusan dengan perbankan.

O iya, jika sudah pelunasan pun, kita akan mendapat kembali uang yang sudah di blokir tadi. Semestinya proses pembukaan uang blokir ini cepat, karena dilakukan oleh kantor bank dimana kita berurusan. Namun apa yang saya alami, prosesnya memakan waktu 3 hari, dengan alasan dari bank “maaf pak, sistem kita lagi off..jadi belum bisa buka blokiran uang bapak…” Wah, apa lagi ini…masa yang punya kewenangan, yang punya sistem saja bisa mati…padahal kan sistem perbankan mereka tidak mungkin mati toh, karena tiap hari mereka melayani orang yang menabung dan meminjam. Apa mungkin sistem mereka mati? Atau hanya sekedar alasan? Sulitnya….

Apa yang saya alami ini, jika bukan keterpaksaan ekonomi (atau tepatnya memaksakan diri terpaksa) saya tidak mau berutang pada bank. Terlihat saat itu saya seperti pengemis, yang mengiba pada petugas bank agar memberikan pinjaman uang kepada saya dengan agunan ijazah…dan pada saat mau melunasinya pun, saya merasa diperlakukan seperti pendosa yang begitu dibenci para penguasa karena hendak mengembalikan uang mereka.

Sikap bank ini tak jauh seperti para rentenir pasar ya? Mau pinjam pun banyak di tanya ini itu. Jika telat bayar saja, kita sudah dikejar-kejar atau sita barang kita dan dikenakan bunga berlipat. Dan saat akan kita lunasi pun, seakan mereka ogah, acuh karena melihat kita punya uang untuk mengembalikan uang para rentenir. OMG!!!

Pinjaman ini diberikan khusus pada karyawan dengan jaminan ijazah sekolah terakhir dan kartu peserta jamsostek. Alhamdullilah, berkat pertolongan Allah Azza Wa Jalla, saya di gerakkan untuk melunasi utang ini pada  tanggal 15 September 2013 kemarin. Semoga Allah Azza Wa Jalla melindungi kita dari keinginan berutang ke bank, melindungi perasaan kita agar tak tergoda dengan bujuk rayu pinjaman bank, dan menghindarkan kita dari keinginan berutang. Semoga Allah memberkahi rezeki kita dan menghindarkan kita dari kefakiran. Amiin…

Bahkan hingga saya telah jadi pedaganga seperti sekarang pun, yang sudah tak punya agunan apa-apa lagi, tawaran kredit bank itu tetap bisa saya akses. Banyak sekali telepon dan sms yang masuk menawarkan kredit yang “mudah” bagi saya. Jadi masih mau berutang pada bank? Saya sudah benci bank dan semoga selamanya tetap benci….

Gowes pagi di Jababeka Botanical Garden

Leave a comment

Tidak seperti biasanya, saat saya ajak istri saya bersepeda pagi, dia langsung setuju. Gayung bersambut, Hana yang sudah bangun dari jam 5 pagi pun bersemangat beranjak dari tempat tidurnya, keluar kamar dan segera mengenakan kerudungnya.

Baiklah, saya pikir harus dimanfaatkan nih kesempatan bangun pagi. Segera saya ambil kunci mobil, memanaskan kendaraan dan memasukkan semua sepeda ke dalam mobil, termasuk sepeda roda empat kesayangan Hana.

Tapi beberapa menit meninggalkan rumah, kami masih belum menemukan tujuan tempat untuk sepedaan pagi. Istri punya usul untuk pergi ke Komplek Metland Cibitung, sekalian melihat lihat para tukang bangunan mengerjakan rumah baru kami di sana. Tapi saya bilang, baru saja semalam dari sana, mending kita cari lokasi baru.

Dalam perjalanan melewati Stasiun Lemah Abang, saya membelokkan mobil ke kiri menyusuri jalanan ke arah komplek Graha Asri, memasuki Jababeka dari arah Sekolah Al Azhar Jababeka. Hingga akhirnya memasuki jalanan Jababeka, saya masih memacu kendaraan dengan pelan sembari memperhatikan keramaian orang yang hendak berangkat kerja.  Kebanyakan para karyawan ini berangkat dari komplek Graha Asri.

Hingga melewati Jababeka Movieland, saya penasaran dengan ketenangan lalu lintas ke arah Tropikana yang sedikit lebih sepi dibanding kendaraan menuju arah Jababeka 1. Saat saya perhatikan banyaknya orang yang lari pagi dan sepedaan di sebelah kiri jalan, ternyata mereka semua keluar dari arah Jababeka Botanical Garden.

Setelah saya dekati pintu gerbang Jababeka Botanical Garden, yang tepat berada di depan komplek Tropikana, ternyata sudah banyak mobil parkir di depan gerbang. Di sana ada kantor petugas security Jababeka Botanical Garden dan saat itu ada seorang petugas yang sedang berjaga di sana. Ada sekitar 10 mobil yang parkir. Saat itu jam menunjukkan jam 7 pagi.

Setelah saya parkirkan mobil, sementara anak dan istri saya sedang mengeluarkan sepeda, saya dekati petugas jaga di gerbang Botanical Garden. “Maaf pa, boleh saya ikut parkir di sini, saya mau olah raga di dalam” sambil saya menunjukkan mobil Grand Max Putih yang sedang mengeluarkan sepeda dari dalam mobil oleh istri saya. “Boleh pa” sambil menganggukkan kepala, petugas security itu mempersilahkan kami masuk.

Segera saya hampiri anak istri saya, saya siapkan pula sepeda yang akan digunakan terutama sepeda lipat yang sedikit sulit diberdirikan oleh istri saya. Setelah semua sepeda siap, kami pun memasuki gerbang Botanical Garden yang cuma dibuka cukup untuk sepeda masuk.

Di sana, kami melihat ada banyak bapak-bapak atau ibu-ibu yang sedang berolahraga, lari pagi, sepedaan atau sekedar peregangan otot. Kami susuri jalanan beraspal yang masih mulus itu dan cukup nyaman untuk bersepeda pagi. Kawasannya pun sangat luas. Tentu saja banyak sekali pepohonan dan tumbuhan di sepanjang jalan. Kicauan burung, tiupan semilir angin dan hangatnya mentari pagi menambah keindahan olahraga pagi ini.

Tak lupa kami masih sempat berfoto eksis…
image

Jam 07.30 kami segera meninggalkan lokasi karena sudah semakin sepi dan sudah banyak pegawai Botanical Garden yang berdatangan dan yang menyapu jalanan di sekitar kawasan. Hanya tinggal satu mobil yang masih parkir yakni sepasang orang tua yang dari tadi masih jalan pagi dan sering berpapasan dengan kami.

Pulang dari sana, kami mampir Tenda Kupat Sayur Padang Uni yang berjualan tak jauh dari sana, tepatnya di Pasar Pamol, sebelah masjid. Namun, tak seperti biasanya kami makan di sana, kali ini kami membungkus dua plastik Kupat Sayur Padang Pakis Haji, dengan telur kukus dan kerupuk merah yg kriuk dengan minum Es Jeruk pagi. Kami akan nikmati sarapan kali ini di rumah saja 🙂

Asyiiikkk…akhirnya nemu lagi nih lokasi jalan pagi yang baru, yang lebih enak dan nyaman di Cikarang….olahraga bareng yuk??? ^-^

IMO, Catatan Mudik 2012

Leave a comment

Screenshot_2012-09-02-00-14-08

Mudik lebaran tahun 2012 ini tercatat dengan tingkat kecelakaan tertinggi dan meningkat dari tahun 2011, dengan peningkatan jumlah pemudik sebesar 10,76% dari tahun 2011 (sumber)

Bahkan dalam acara Coffee Break TVOne tanggal 29 Agustus 2012, korban tewas tercatat 908 orang dalam kecelakaan lalu lintas selama mudik 2012, sebagaimana disampaikan Bpk. Djoko Murjanto selaku Dirjen Bina Marga Kementrian PU.

Dalam pengamatan saya pribadi selama mudik dari Bekasi menuju Losari, Cirebon juga menuju Sumedang dan Bandung, persiapan dari pemerintah untuk menyambut arus mudik tahun 2012 tidak lebih baik dari tahun kemarin. Indikator yang sangat terlihat dari kekurangan mudik tahun ini adalah macet terparah disepanjang jalan pantura. Diberitakan bahwa dari tanggal 16 Agustus 2012 saja, macet sudah mengular dari pintu tol Cikarang Utama menuju arah Pintu Tol Cikampek, begitu juga arah tol Cipularang. Sehingga akibatnya beberapa kendaraan yang akan mengarah pintu Tol Cikampek dialihkan untuk keluar dari pintu tol Dawuan. Bahkan kemacetan yang sangat panjang ini masih terjadi hingga tanggal 18 Agustus 2012. Dari pengalaman paman saya yang pulang mudik dari Pasar Kramatjati, Jakarta menuju Cirebon, perjalanan mudik tahun ini ditempuh selama 36 jam!! yang mana macet sudah dimulai dari Tol sekitar Bekasi, pintu tol Cikampek hingga daerah pantura Subang Pamanukan. Selepas daerah Pamanukan Subang-Pantura hingga Pantura Cirebon perjalanan lancar.

Memantau kondisi jalan macet parah seperti itu, akhirnya saya memutuskan mudik terlebih dahulu ke Sumedang, Jawa Barat. Pada tanggal 18 Agustus 2012 sekitar jam 3 sore, saya sekeluarga menggunakan jalur alternative menuju Sumedang menggunakan jalan Cibarusah, menuju Jonggol, menyusuri jalan Cikalong Wetan hingga bersambung ke jalan Cianjur-Bandung. Perjalanan sangat lancar dengan kondisi jalan yang cukup baik. Memang tidak sepenuhnya jalanan tersebut di aspal. Beberapa bagian jalan ada yang di cor semen. Namun sama sekali tidak menjadi hambatan. Ada juga beberapa pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua.

Sesampainya di jalan Cianjur-Bandung, saya menuju Cimahi Bandung dan lanjut masuk ke Pintu Tol Cimahi. Dari pintu tol Cimahi, saya lanjut ke Tol Cileunyi. Kondisi jalan sekitar Cileunyi pun yang satu hari sebelumnya masih dikabarkan menjadi titik macet menuju arah Garut-Tasikmalaya, namun pada hari itu kondisi jalan Cileunyi sudah normal. Perjalanan menuju Sumedang pun lancar aman.

Bahkan pada tanggal 21 Agustus 2012 saat saya sekeluarga melanjutkan mudik ke orang tua di Cirebon, perjalanan dari Sumedang ke Cirebon pun lancar melalui jalur Cimalaka, Sumedang – Kadipaten, Majalengka hingga Palimanan, Cirebon. Lanjut pada tanggal 23 Agustus 2012 saya dan keluarga besar masih sempat jalan-jalan ke Linggarjati, Kuningan dan perjalanan pun masih lancar.

Macet dan penyebabnya, In My Opinion

Kenapa saya katakan bahwa persiapan pemerintah untuk menyambut pemudik tahun 2012 ini tidak lebih baik dari tahun lalu karena banyaknya kecelakaan lalu lintas dan kemacetan di berbagai titik daerah. Kekurangan pemerintah dalam mempersiapkan mudik tahun ini yakni banyaknya putaran jalan di sepanjang jalur utama mudik dan jalan provinsi. Berbeda dengan tahun kemarin yang mana di sepanjang jalan provinsi dan jalur utama mudik, terutama di sepanjang jalan Pantura hingga Losari, Cirebon, semua jalan pertigaan dan jalan untuk putaran balik (U Turn) ditutup dan hanya disediakan putaran jalan di tikungan yang besar yang sudah disediakan oleh Polantas dan DLLAJ. Sehingga tidak ada kendaraan yang menghalangi perjalanan kendaraan dibelakangnya. Di sepanjang jalur pantura Cirebon hingga Cikampek, banyak sekali putaran jalan yang digunakan meskipun terlihat ada pagar bambu atau tiang semen yang sudah dipasangkan pihak DLLAJ, namun kemudian dirusak atau disingkirkan. Atau kondisi kemacetan di pintu Tol Cileunyi bagi kendaraan yang akan menuju Garut-Tasikmalaya atau jalur selatan yang mengular panjang, disebabkan banyaknya kendaraan yang berhenti di pertigaan Cileunyi dan ditambah putaran jalan besar dari arah Rancaekek menuju Bandung.

Selain memang faktor kelelahan fisik para pengguna jalan, faktor terbesar kecelakaan juga disebabkan oleh kelalaian para pengguna jalan itu sendiri. Terutama para pengemudi kendaraan umum yang mengangkut penumpang dalam kota, yang kerap berhenti seenaknya tanpa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas dan kondisi keramaian jalan. Angka kecelakaan kendaraan bermotor yang tercatat oleh pemerintah tersebut nampaknya belum termasuk kecelakaan motor yang sering terjatuh karena menabrak atau kaget dengan kendaraan yang mendadak berhenti di sembarang jalan. Atau korban kecelakaan yang tidak sempat dibantu oleh pihak kepolisian, sehingga cukup "berdamai" dan korban dibawa ke rumah sakit terdekat. Hampir setiap tahun selama saya mudik melewati jalur pantura hingga Cirebon atau jalur Bandung-Sumedang, saya melihat kecelakaan lalu lintas yang memakan korban jiwa atau sekedar kejadian motor terjatuh.

Dari segi kondisi jalan yang akan dilalui jalur mudik, saya akui sudah sangat baik dibanding kondisi jalan tahun 2011 lalu. Dari kondisi jalan yang saya lalui, baik jalur alternatif maupun jalur provinsi, memiliki kondisi jalan yang 99% sangat baik dibanding tahun lalu. Tapi menurut saya hanya inilah point plus pemerintah dalam mempersiapkan mudik tahun ini. Bahkan rencana pemerintah menyediakan sarana mudik gratis lewat laut pun, tidak disambut dengan antusias oleh sebagian besar pemudik. Ada yang beropini bahwa pemerintah kurang mensosialisasikan fasilitas mudik GRATIS lewat laut ini. Ada pula yang bilang bahwa para pemudik cukup kesulitan untuk mengakses lokasi kapal laut yang akan mengangkut kendaraan pemudik sehingga para pemudik cenderung langsung pergi saja ke tujuan lewat darat, dari pada harus repot jauh pergi ke dermaga. Dan ada pula yang mengatakan fasilitas mudik dari pemerintah tersebut tidak murni gratis. Namun apapun itu, nampak peminat mudik gratis lewat laut tersebut kurang di gandrungi 14 juta orang pemudik tahun ini.

Perlu segera dicarikan solusi yang lebih baik dan efektif lagi. Misalkan dengan pembatasan putaran jalan dalam rentang sekian puluh kilometer jalan (tidak seperti kondisi jalur mudik saat ini yang banyak sekali putaran jalan dalam beberapa kilometer saja). Atau mungkin dengan cara pemisahan jalur kendaraan umum dan kendaraan pribadi. Pemisahan jalur kendaraan ini dengan cara pengalihan jalur, yang mana kendaraan umum cenderung sering berhenti menurunkan penumpang (dan sering juga berhenti sembarangan) sementara kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat, yang hanya berhenti untuk kepentingan tertentu saja, apakah berhenti untuk istirahat atau memang sudah tiba di tujuan. Atau nampaknya alternatif solusi "memperlambat laju kendaraan dengan cara check point" sebagaimana yang disampaikan Wamenhub Bambang Susantono patut di coba. Untuk pengaplikasiannya, kita tunggu bagaimana nanti. Dan untuk setiap bantuan mudik gratis dari pemerintah, baik lewat laut maupun darat, sebaiknya di promosikan 1-2 bulan sebelumnya sehingga para pemudik tertarik untuk menggunakan bantuan dari pemerintah tersebut.

Apapun ide bagi perbaikan kondisi mudik tahun 2013 esok, memang perlu dipikirkan dari sekarang dan segera lakukan percobaan. Ada banyak waktu 11 bulan lagi bagi pemerintah untuk merencanakan tradisi tahunan rakyat Indonesia ini.
Sehingga diharapkan tidak ada lagi korban jiwa dalam mudik tahun depan sehingga tidak ada lagi rakyat atau pemerintah yang disalahkan dan dikorbankan.

#mudik #2012 #pemerintah #polantas #dllaj #macet

Ketakutan pakai Anting

Leave a comment

Benda ini yang membuat pikiran saya dan istri sedikit terganggu. Karena benda ini sudah "menginap" di dalam kulit telinga anak kami selama lebih dari 2 malam.

Awal mulanya anting ini ada setelah anak saya merengek tangisan meminta dibelikan perhiasan seperti umminya yang habis saya belikan perhiasan gelang di salah satu pusat perbelanjaan dekat rumah. Tidak kuat mendengar tangis anak kami, akhirnya istri saya bilang "beli anting aja ya Na?" Karena masih usia 3 tahun, anak saya menurut saja dengan pilihan ibunya. Namun karena toko perhiasan itu tidak memiliki anting yang aman dengan model klip/jepit, akhirnya istri saya membelikan Hana, anak saya, cincin.

Meski cincin sudah dibelikan, Hana tetap saja menanyakan kemana antingnya. Dan oleh ibunya, dikatakan bahwa antingnya sudah habis, dan harus dipesan dulu. Sebagai anak kecil yang sudah tidak bisa dibohongi lagi, Hana terus menagih janji kapan anting pesanan di toko perhiasan tersebut ada, setiap kali kami lewat depan toko perhiasan tersebut.

Waktu terus berlalu dengan sering kali Hana menanyakan pesanan antingnya kepada ibunya. Akhirnya istri saya coba alihkan perhatiannya ke ibu saya di Sumedang. Istri saya katakan pada Hana untuk meminta cincin tersebut ke neneknya (ibu saya).

Menjelang lebaran 2012, sesuai janji ibu saya sebagai nenek, akhirnya membelikan anting dengan model bulat berkait, karena memang tidak ada lagi model anting lain yang lebih aman. Akhirnya dengan semarak menjelang lebaran, anting pesanan untuk Hana dipasangkan saat kami telah tiba di Sumedang untuk berlebaran. Anting pun dipasang dengan keinginan dari Hana sendiri, meski saat pemasangannya sedikit kesulitan karena memang lubang anting di telinga Hana sudah agak tertutup.

Satu minggu berlalu ternyata anting di telinga sebelah kiri Hana terus bergeser posisinya dengan bandul berlian di anting tersebut menempel di belakang daun telinga. Dan ternyata kaitan anting tersebut masuk ke dalam lubang telinga Hana. Karena batang anting yang masuk ke dalam telinga Hana adalah kaitannya, maka bila ditarik kembali (digeser ke arah sebaliknya dari lubang saat masuk atau lubang belakang daun telinga), maka pasti sakit karena kaitan anting tersebut tersangkut di dalam kulit telinga. Dan bila kaitan antingnya diteruskan (ditembuskan) hingga lubang anting telinga depan, tentu sakit pula karena memang penampang kaitan anting itu lebih besar dari batang anting sehingga akan sulit keluar dari lubang depan daun telinga.

Karena Hana terus kesakitan dengan anting sebelah kirinya yang menyangkut di dalam daun telinga, akhirnya khawatir terjadi hal lainnya, anting yang sebelah kanannya pun di copot dengan lancar. Tinggal anting di sebelah kiri yang masih bermasalah. Dan karena semakin mengganggu, akhirnya Bapa, panggilan untuk ayah mertua saya alias kakeknya Hana, memotong anting sebelah kiri tersebut. Namun posisi batang anting yang dipotong adalah di dekat daun telinga belakang, bertepatan dengan sambungan mata berlian anting tersebut.
Ternyata sisa potongan anting yang masih menempel di lubang anting telinga Hana sebelah kiri tersebut ikut terbawa masuk ke dalam daun telinga Hana yang semakin merah membengkak. Lubang anting pada telinganya pun mulai kuning bernanah. Saya dan istri yang saat itu sedang pergi ke Bekasi, mulai panik mendengar adanya sisa potongan anting yang belum keluar dari daun telinga Hana. Kami pun segera pulang ke Cirebon.

Akhirnya saya dan istri coba mengeluarkan potongan batang anting dalam daun telinga Hana saat dia tertidur lelap. Setelah kami bersihkan terlebih dahulu cairan nanah di daun telinga dengan campuran air bersih dan sedikit garam dapur, dan daun telinga yang mulai bengkak kami kompres dengan cairan kompresan luka, kami coba keluarkan batang anting yang terlihat jika kami tekan dari lubang depan daun telinga Hana. Setelah mencoba selama 1 jam, kami pun pasrah karena tidak berhasil mengeluarkan sisa batang anting dari dalam daun telinga Hana, baik dari arah depan lubang telinga ataupun lubang telinga belakang.

Pagi harinya kami putuskan untuk membawa Hana ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Sumber Kasih di jalan Siliwangi Kota Cirebon. Untuk pertama kalinya kami ke sana, setelah pendaftaran dan menceritakan masalahnya ke petugas bagian pendaftaran, kami disarankan untuk ditangani bagian dokter umum yang jaga di UGD (Unit Gawat Darurat). Ditangani oleh Dokter Fitri Annisa, akhirnya sisa potongan batang anting di sebelah kiri telinga Hana berhasil dikeluarkan setelah hampir 30 menit percobaan.Batangan anting berhasil dikeluarkan dari arah belakang daun telinga, tempat masuk kaitan anting tersebut, menggunakan alat semacam penjapit. Meski sedikit berdarah, namun Hana tidak cengeng karena memang dia sudah antusias untuk bertemu dokter dari sejak kita berangkat. Dari dokter, kami diberikan obat salep untuk mengeringkan luka pada lubang telinga.

Dari saat awal Hana meminta dibelikan anting pun sudah saya larang, karena saya belum menemukan manfaat penggunaan anting. Seandainya istri saya tidak menawarkan kepada Hana untuk dipakaikan anting, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi dan edisi blog ini tidak akan pernah ada. Dan seandainya ibu saya membelikan anting dengan model jepit, mungkin kaitan anting ini tidak akan pernah masuk ke dalam lubang telinga Hana. Dan seandainya Bapa tidak memotong anting tersebut mepet dengan telinga dan menyisakan batang anting, mungkin saat mencabut sisa potongan anting akan lebih mudah.

Namun saya yakin semua kejadian ada hikmahnya, meski setiap kejadian terkadang disesali. Namun, ketika pada akhirnya ini semua terjadi, maka pasti ini semua sudah kehendak Allah. Semoga hikmah dibalik pengalaman ini segera terungkap.

#anting #anak #perhiasan #bahaya #cirebon #rsia

Menengok tempat sejarah terkini, Linggarjati

1 Comment

Kamis, 23 Agustus 2012/5 Syawal 1433H, jam 11 siang kami berangkat dari Losari, Cirebon menuju Kawasan Wisata Linggarjati, Kuningan, Cirebon. Hari ini memang masih dalam suasana lebaran, sehingga besar kemungkinan semua tempat wisata akan penuh dikunjungi banyak orang. Dengan berbekal peta GPS, jarak dari Losari menuju Linggarjati sekitar 53 km yang kami tempuh melalui Tol Kanci keluar Pintu Tol Ciperna dengan tarif tol 4500 rupiah. Dari pintu tol Ciperna, kami belok kiri menuju Kuningan. Sekitar 17 km dari Pintu Tol Ciperna, ada pertigaan belok ke kanan yang menuju Linggarjati. Disana kita dibantu dengan petunjuk jalan di sebelah kiri jalan yang menunjukkan arah jalan menuju "Linggarjati". Dari pertigaan jalan raya Kuningan-Cirebon, perjalanan masih harus ditempuh sekitar 7 km sampai akhirnya nanti bertemu dengan pertigaan di sebelah kanan jalan dengan pintu gerbang bertuliskan "Linggarjati Indah".

Disana kita disambut dengan beberapa petugas yang bertugas menghitung jumlah pengunjung dengan kendaraan mobil. Untuk pengunjung dengan kendaraan motor, dengan mudah dapat langsung dihitung petugas dan langsung dikenakan tiket masuk yang harus dibayar. Sementara untuk pengunjung dengan kendaraan mobil, kita harus membuka jendela kendaraan dan petugas akan melihat ke dalam kendaraan untuk menghitung penumpang dewasa dan penumpang anak-anak.

Untuk bagian ini, saya sarankan kita harus sudah menghitung berapa jumlah penumpang orang dewasa dan penumpang anak-anak yang ada didalam kendaraan kita. Karena jika tidak, bisa-bisa kita di "tembak" dengan total tarif tiket yang ditagihkan. Seperti saat itu kami masuk, dengan cepat setelah petugas melihat ke dalam kendaraan kami melalui jendela mobil yang dibuka, mereka langsung menagihkan total tiket yang harus kami bayar sebesar 55 ribu. Padahal saat itu dalam kobil kami ada 6 orang dewasa dan 3 orang anak, termasuk anak kami yang berusia 3 tahun. Sehingga total tiket yang seharusnya dibayar yakni 47 ribu, dengan rincian 6 orang dewasa dikali 5 ribu, 3 orang anak dikali 4 ribu dan tarif masuk mobil 5 ribu.

Setelah kami membayar tiket masuk, tidak jauh dari pintu gerbang tersebut kita sudah menemui beberapa fasilitas hiburan seperti kolam renang lengkap dengan permainan airnya. Ada juga panggung hiburan dengan acara nyanyian langsung dari artis yang saya sendiri tidak tahu siapa. Lagu yang dibawakan cukup menghibur beberapa pengunjung dengan beberapa lagu tarling dangdut ditambah suaranya yang terdengar hingga ke berbagai sudut hutan Linggarjati.

Namun yang sangat saya sayangkan dari Objek Wisata Linggarjati Indah ini adalah kebersihan hutan yang tidak terjaga. Banyak sekali sampah berserakan dimana-mana dengan fasilitas tempat sampah yang tidak saya temukan di sekitar tempat parkir mobil, juga tempat kami menggelar tikar untuk duduk. Selain itu jalan setapak yang dibuat khusus untuk pejalan kaki selama didalam hutan Linggarjati hanya disediakan berbarengan dengan jalan aspal untuk kendaraan bermotor berjalan.

Disana kami hanya menikmati wahana bermain perahu air dengan tarif 15 ribu per 2 orang dewasa dan 1 anak selama 15 menit. Sementara untuk tarif sewa perahu mesin (boat) dengan kapasitas 6 orang dikenakan tarif 30 ribu selama 6 putaran kolam seluas kurang lebih 20 ribu meter persegi. Sementara untuk fasilitas mushola, tempat yang disediakan sangat kecil dengan keran air wudhu yang sedikit sehingga seringkali menyebabkan antrian yang cukup lama jika waktu shalat telah tiba. Akhirnya kami harus shalat di atas tikar yang telah kami bawa sebagai alas tempat duduk. Kami memang harus membawa alas tikar yang cukup luas untuk menampung tempat duduk semua rombongan kami karena memang tidak ada fasilitas tempat duduk umum yang disediakan oleh pihak pengelola.

Kami tidak berselang lama tinggal disana karena hampir semua peserta rombongan sudah mulai jenuh dengan suasana di sana. Hanya angin sepoi-sepoi yang dapat kami nikmati dibanding jajanan yang sangat mahal dijual disana. Bahkan untuk air minum mineral ukuran 1 liter saja dijual 8 ribu, mie dalam gelas seharga 9 ribu, dan gorengan bakwan seharga 5 ribu yang jumlahnya sangat sedikit dibanding bila kita beli diluar sana. Harga jajanan makanan di sana memang cukup mahal. Oleh karena itu, disarankan sebaiknya kita membawa makanan sendiri dari rumah dan alas tikar jika memang kita berencana berkunjung ke Linggarjati Indah.

Visit Sukabumi (end)

Leave a comment

20 Juni 2012

Pagi hari setelah mendapat sarapan dari hotel, menunaikan shalat dhuha, kami beranjak check out jam 10 dari Hotel. Lanjut dari hotel, kami putuskan untuk lanjut jalan-jalan kami menuju Pantai Pelabuhan Ratu. Jarak dari hotel menuju Pantai ditempuh dengan jarak sekitar 58 Km atau sekitar 3 jam perjalanan.

Perjalanan menuju Pelabuhan Ratu tidak terlalu lancar karena jalanan yang kecil (hanya untuk 2 jalur kendaraan berlawanan arah), kondisi aspal jalan yang tidak terlalu mulus juga jalannya yang berkelok-kelok dan banyaknya hutan di sepanjang jalan, cukup menyulitkan pengendara roda empat. Bahkan selama perjalanan, kami sempat melihat ada bis penumpang yang terguling di sebuah hutan dan mengakibatkan macet yang cukup lama.

Setibanya di sebuah kota yang banyak bertuliskan alamat “Palabuhan Ratu”, barulah kami tahu bahwa kami sudah tiba di Pelabuhan Ratu. Kondisi disana cukup ramai dibanding beberapa tempat yang kami lalui sepanjang jalan tadi. Suasananya lebih mirip sebuah kota baru, banyak baligo dan spanduk terpasang di mana-mana, menandakan keramaian sebuah lingkungan. Polisi yang berjaga di beberapa belokan jalan, motor dan mobil yang lalu lalang menambah keramaian sekitar Pelabuhan Ratu.

Peta Pelabuhan Ratu

Pelabuhan Ratu, Sukabumi

Kami melewati Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Palabuhan Ratu. Disana kami melihat banyak kapal nelayan bersandar dan juga beberapa kerumunan orang di sebuah tempat, ada timbangan besar, beberapa kotak besar, pemandangan yang cukup untuk disimpulkan disanalah orang berkumpul untuk menawar ikan hasil tangkapan para nelayan. Soal lelangan ikan ini, cukup banyak informasi yang saya tahu dimana bisnis yang sedang saya kembangkan saat ini juga berkaitan dengan ikan laut.

Menyusuri jalan raya di sepanjang laut Pelabuhan Ratu, kami melihat beberapa tempat banyak kendaraan parkir di pesisir pantai, menyediakan tempat peristirahatan menyuguhi pemandangan pantai. Tidak jauh dari TPI, kami terus jalan hingga kurang lebih 5 Km, ada banyak hotel dan penginapan di sepanjang jalan pesisir pantai.

Akhirnya kami berbelok menuruni jalan raya utama mendekati pesisir pantai, dimana banyak saung peristirahatan berdiri. Setelah memarkirkan kendaraan, kami segera menginjakkan kaki di pasir pantai yang menghampar luas. Pemandangannya cukup nyaman. Kami bisa melihat laut hingga ujung horizontal. Terlihat jelas kapal para nelayan yang sedang berlayar, hingga deburan ombak yang cukup besar. Pantai pelabuhan ratu memang terkenal dengan ombaknya yang tinggi karena Pelabuhan Ratu memang laut selatan pulau Jawa yang berhubungan dengan Samudera Indonesia. Berbeda dengan laut sebelah Utara atau Pantura yang diapit oleh Pulau Kalimantan, sehingga lautnya cukup tenang.

Hana dan Istri bermain pasir pantai dan menyambut deburan ombak yang naik ke pesisir dengan senang. Mereka berenang layaknya itu sebuah kolam renang. Namun saya tidak ikut bergabung karena memang tidak ada niat untuk berenang, jadi tidak mempersiapkan pakaian renang. ”Yah…lain waktu saja lah”, jawab saya saat istri meminta saya untuk bergabung bermain air laut.

Saya cuma mengawasi air pantai saja

Ummi dan Hana sambut air laut

Sekitar 3 jam bermain di pantai, kami segera bersihkan badan dari air laut yang membuat kulit terasa lengket. Disana sudah tersedia beberapa kamar mandi umum dengan tarif 2 ribu rupiah untuk MCK. Tersedia juga mushola, sehingga kami langsung menunaikan shalat Ashar.

Setelah rapi lagi, tak lupa kami cicipi jajanan di sekitar sana. Ada jajanan air kelapa dan harum pembakaran ikan laut yang menggoda perut. Akhirnya kami beli Ikan Tuna Bakar dan dua buah kelapa muda. Sambil menunggu pembakaran ikan bakar, saya rebahkan badan sambil menikmati tiupan angin laut yang sepoi-sepoi. Tak dirasa, angin laut membuat mata saya tertutup lelap, tertidur hingga 30 menit lamanya. Saya baru terbangun saat ikan bakar dan hidangan air kelapa muda bercampur es datang.

menikmati laut

Langsung ku santap dengan lelap. Sungguh nikmat…soal harga, jauh berbeda dengan kita makan di restoran sea food di Jakarta. Ikan Tuna bakar berukuran 1 kg dihargai 100 ribu rupiah dan dua buah kelapa muda dihargai 15 ribu rupiah. Sebuah harga yang masuk akal, apalagi dengan pemandangan pantai yang cukup indah.

image

Jam 5 sore kami segera meninggalkan pantai Pelabuhan Ratu untuk segera kembali pulang ke Bekasi. Kami melalui jalan yang sama. Mengingat perjalanan dari Pelabuhan Ratu ke Kota Sukabumi kurang baik karena selain banyaknya hutan yang harus dilewati, jalanan yang gelap, serta kondisi aspal jalan yang kurang mulus, membuat kami harus segera meninggalkan jalanan Pelabuhan Ratu sebelum gelap datang.

Syukur perjalanan kami menuju Kota Sukabumi cukup lancar. Dari Kota Sukabumi, kami menuju Tol Jagorawi harus menempuh sekitar 4 jam karena banyak titik macet sepanjang jalan diakibatkan perbaikan jalan, perbaikan jembatan serta berbarengan dengan jam pulang kerja para pekerja pabrik.

Perjalanan memasuki Tol Jagorawi hingga Cikarang cukup lancar. Hingga akhirnya sekitar jam 11 malam, kami sudah tiba di rumah dengan selamat. Meski badan cukup pegal, namun kami sangat menikmati rekreasi kali ini. Silaturahmi dapat, bermain di pantai pun akhirnya tercapai. Alhamdulilah…

Older Entries